Cisarua, Kabupaten Bandung Barat – Sebuah tragedi kemanusiaan yang mendalam terus menyelimuti wilayah Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, di mana tim SAR gabungan tanpa henti berjuang mengevakuasi korban longsor dahsyat. Hingga Ahad, 1 Februari 2026, operasi pencarian yang telah memasuki hari kesembilan ini berhasil mengidentifikasi dan mengevakuasi total 74 kantong jenazah, sebuah angka yang menggarisbawahi skala bencana yang terjadi. Upaya heroik ini melibatkan berbagai elemen, dari Basarnas, TNI, Polri, hingga relawan, yang bekerja secara sinergis di tengah medan yang menantang untuk menemukan korban yang masih hilang dan memberikan kepastian kepada keluarga.
Peristiwa longsor di Cisarua ini telah memicu respons pencarian dan pertolongan berskala besar sejak awal kejadian. Pada akhir pekan kemarin, tim SAR gabungan berhasil menemukan empat kantong jenazah tambahan di dua lokasi pencarian yang berbeda, yakni Worksite A2 dan Worksite A3. Penemuan ini merupakan hasil dari strategi perluasan area operasi yang telah diterapkan oleh tim. Dengan temuan terbaru ini, total korban yang berhasil dievakuasi dari timbunan material longsor kini mencapai 74 kantong jenazah, sebuah pencapaian signifikan yang menunjukkan intensitas dan dedikasi tim di lapangan. Angka 74 ini konsisten dengan laporan dari berbagai sumber yang memantau perkembangan operasi SAR di Cisarua, menegaskan bahwa tim terus bergerak maju dalam misi kemanusiaan ini.
Operasi Pencarian yang Terukur dan Perluasan Area
Kepala Kantor Basarnas Bandung, Ade Dian Permana, menjelaskan bahwa proses pencarian dilakukan secara terukur dan sistematis, dengan prioritas utama pada keselamatan seluruh personel yang bertugas di lapangan. Strategi ini sangat krusial mengingat risiko tinggi yang melekat pada operasi SAR di area longsor, seperti potensi longsor susulan, kondisi tanah yang tidak stabil, serta ancaman material berat. Ade mengungkapkan bahwa penemuan dua kantong jenazah di Worksite A2 dan dua lainnya di Worksite A3 merupakan bukti keberhasilan perluasan area operasi. Perluasan ini tidak hanya mencakup area yang sebelumnya telah disisir, tetapi juga menjangkau zona-zona baru yang berdasarkan analisis dan pemodelan memiliki probabilitas tinggi keberadaan korban. “Perluasan area pencarian memberikan dampak positif terhadap hasil evakuasi. Kegiatan tetap kami laksanakan dengan fokus pada keselamatan seluruh personel,” tegas Ade, dalam keterangan tertulis yang dirilis di laman resmi Pemkab Bandung Barat pada Senin, 2 Februari 2026. Penekanan pada keselamatan personel mencerminkan pembelajaran dari berbagai bencana serupa, di mana risiko bagi tim penyelamat harus diminimalisir melalui perencanaan yang matang, peralatan yang memadai, dan prosedur operasi standar yang ketat.
Keberhasilan dalam mengevakuasi korban tidak berhenti pada penemuan jenazah. Tahap selanjutnya yang tak kalah penting adalah proses identifikasi oleh Tim Disaster Victim Identification (DVI). Dari total 74 kantong jenazah yang telah dievakuasi, Tim DVI telah berhasil mengidentifikasi 57 jenazah dari 58 kantong yang masuk dalam proses pemeriksaan forensik. Proses identifikasi ini melibatkan serangkaian langkah kompleks, mulai dari pengumpulan data ante-mortem (data sebelum kematian) dari keluarga korban, seperti rekam medis, ciri fisik khusus, hingga sampel DNA, yang kemudian dicocokkan dengan data post-mortem (data setelah kematian) dari jenazah yang ditemukan. Kondisi jenazah yang seringkali tidak utuh atau mengalami kerusakan parah akibat tertimbun material longsor selama berhari-hari menambah kompleksitas tugas DVI. Sementara itu, 16 kantong jenazah lainnya masih dalam tahap identifikasi lanjutan, menunggu kelengkapan data atau hasil pemeriksaan laboratorium yang lebih mendalam. Proses ini membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keahlian forensik tingkat tinggi untuk memastikan setiap identitas korban dapat dipastikan secara akurat, memberikan kepastian yang sangat dibutuhkan oleh keluarga yang berduka.
Tantangan Identifikasi Korban dan Harapan yang Tersisa
Berdasarkan estimasi sementara yang dilakukan oleh tim SAR, masih terdapat sekitar enam korban yang diduga masih dalam pencarian. Angka ini menjadi fokus utama operasi yang terus berlanjut, dengan harapan setiap korban dapat ditemukan. Ade Dian Permana juga menyoroti kondisi cuaca selama pencarian. Meskipun hujan ringan sempat turun dalam durasi singkat, secara keseluruhan cuaca relatif mendukung. Hujan, terutama di daerah longsor, dapat menjadi faktor penghambat yang signifikan karena berpotensi memicu longsor susulan, membuat medan semakin licin dan berbahaya, serta mengurangi visibilitas. Namun, Ade menekankan bahwa hujan yang terjadi tidak menghambat proses pencarian secara substansial karena dapat diantisipasi melalui pengaturan ritme kerja dan manajemen keselamatan yang ketat di setiap worksite. Ini menunjukkan adaptabilitas dan profesionalisme tim SAR dalam menghadapi kondisi alam yang tidak menentu, memastikan bahwa operasi tidak terhenti meskipun ada tantangan.
Operasi pencarian dan pertolongan di Cisarua ini merupakan contoh nyata dari kolaborasi multi-pihak yang kuat. Operasi ini melibatkan unsur-unsur vital seperti Basarnas yang bertindak sebagai koordinator utama, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) yang menyediakan personel dan dukungan logistik, berbagai kementerian dan lembaga terkait yang memberikan bantuan teknis dan sumber daya, serta relawan dari berbagai organisasi masyarakat sipil yang menyumbangkan tenaga dan semangat kemanusiaan. Seluruh unsur ini bekerja secara sinergis dan profesional, mengintegrasikan keahlian dan sumber daya masing-masing untuk mencapai tujuan bersama: menemukan korban dan meringankan penderitaan. Tim SAR memastikan bahwa evaluasi dilakukan setiap hari guna menyesuaikan strategi pencarian di lapangan. Evaluasi harian ini sangat penting untuk merespons perubahan kondisi di lokasi bencana, mengoptimalkan penempatan personel dan peralatan, serta mengadopsi teknik pencarian yang paling efektif. Dalam setiap evaluasi, aspek keselamatan personel selalu ditempatkan sebagai prioritas utama, menegaskan komitmen terhadap perlindungan bagi mereka yang mempertaruhkan nyawa demi orang lain.
Berdasarkan hasil pemodelan awal, longsor Cisarua diperkirakan terjadi selama rentang waktu 20 hingga 25 menit. Informasi ini, yang awalnya disajikan sebagai “Pilihan Editor,” memberikan gambaran tentang skala dan durasi kejadian bencana yang mengerikan ini. Sebuah longsor yang berlangsung selama puluhan menit bukanlah kejadian sesaat, melainkan sebuah proses destruktif yang berkepanjangan, menunjukkan volume material yang sangat besar dan kekuatan alam yang dahsyat. Durasi yang panjang ini juga bisa menjelaskan mengapa begitu banyak korban terperangkap dan mengapa proses evakuasi menjadi sangat menantang. Data ini penting untuk analisis lebih lanjut mengenai penyebab longsor, potensi mitigasi di masa depan, serta perencanaan respons darurat yang lebih efektif. Tragedi Cisarua ini menjadi pengingat pahit akan kerentanan wilayah terhadap bencana alam dan pentingnya kesiapsiagaan serta respons yang cepat dan terkoordinasi.

















