Aktor papan atas Korea Selatan, Kim Seon Ho, kembali menjadi pusat perhatian publik, namun kali ini bukan karena gemerlap layar kaca, melainkan dugaan serius terkait penghindaran pajak. Kabar ini pertama kali mencuat pada awal Februari 2024, menyusul laporan media yang menyoroti dugaan skema pajak fiktif melalui perusahaan keluarga yang didirikan di kediamannya di Yongsan, Seoul. Pola dugaan pelanggaran finansial ini disebut-sebut memiliki kemiripan mencolok dengan kasus yang sebelumnya menyeret rekan satu agensinya di Fantagio, Cha Eun Woo, memicu pertanyaan besar tentang praktik akuntansi di agensi hiburan tersebut. Menanggapi gelombang spekulasi yang berkembang pesat, Fantagio dengan cepat merilis pernyataan resmi, berupaya mengklarifikasi situasi dan membantah tuduhan penggelapan pajak yang disengaja, namun kontroversi tetap membayangi.
Kim Seon Ho Diduga Melakukan Penghindaran Pajak Melalui Struktur Perusahaan Keluarga
Dugaan penghindaran pajak yang menyeret nama Kim Seon Ho berpusat pada sebuah entitas bisnis yang disebut sebagai perusahaan keluarga pribadi. Berdasarkan laporan eksklusif dari media Sports Kyunghyang yang dipublikasikan pada awal Februari 2024, aktor yang dikenal luas melalui drama-drama populer dan film terbarunya, Can This Love Be Translated?, diduga mendirikan perusahaan perencanaan pertunjukan yang terpisah dari agensinya. Perusahaan ini dilaporkan didirikan pada Januari 2024, hanya setahun sebelum dugaan ini mencuat ke permukaan publik.
Detail yang paling mencurigakan adalah alamat terdaftar perusahaan tersebut. Menurut laporan, perusahaan ini beralamat di kediaman pribadi Kim Seon Ho sendiri, yang terletak di Yongsan, sebuah distrik elite di Seoul. Struktur kepemimpinan perusahaan juga menarik perhatian: Kim Seon Ho menjabat sebagai CEO, sementara kedua orang tuanya tercatat sebagai direktur internal dan auditor. Struktur ini, di mana anggota keluarga inti memegang kendali penuh atas perusahaan yang berlokasi di rumah pribadi, segera memicu spekulasi mengenai tujuan sebenarnya dari pendirian entitas tersebut.
Para ahli keuangan dan pelapor media menyoroti beberapa praktik yang dinilai sangat mencurigakan. Salah satu poin utama adalah dugaan pembayaran gaji fiktif. Dikatakan bahwa perusahaan tersebut secara rutin membayar orang tua Kim Seon Ho senilai puluhan ribu dolar setiap bulannya. Namun, uang dalam jumlah besar ini kemudian diduga dikembalikan ke rekening pribadi Kim Seon Ho, yang mengindikasikan adanya skema untuk mengalirkan dana dengan tujuan mengurangi beban pajak. Selain itu, ayah Kim Seon Ho juga disebut-sebut menggunakan kartu kredit perusahaan untuk keperluan pribadi, sebuah praktik yang jelas melanggar etika bisnis dan berpotensi menjadi bentuk penggelapan pajak.
Kecurigaan semakin menguat dengan adanya laporan mengenai penggunaan aset mewah. Sebuah mobil mewah jenis Genesis GV80, yang dikenal memiliki harga fantastis, diduga didaftarkan atas nama perusahaan. Praktik semacam ini seringkali digunakan untuk mengurangi pajak pribadi dengan mengklaim biaya operasional kendaraan sebagai pengeluaran perusahaan. Dengan alamat yang sama dengan rumah pribadi Kim Seon Ho, ditambah dengan dugaan tidak adanya izin resmi yang memadai untuk operasi bisnis yang sebenarnya, perusahaan tersebut dicurigai kuat hanya berfungsi sebagai alat untuk memindahkan uang dan menghindari kewajiban pajak yang seharusnya. Ini mengarah pada kesimpulan bahwa perusahaan tersebut mungkin hanyalah sebuah “perusahaan cangkang” yang didirikan semata-mata untuk keuntungan finansial pribadi.
Kemiripan Mencolok dengan Kasus Cha Eun Woo dan Sorotan Tajam Terhadap Fantagio
Apa yang membuat kasus Kim Seon Ho ini semakin menjadi perbincangan hangat adalah kemiripan polanya dengan kasus yang sebelumnya menimpa rekan satu agensinya di Fantagio, Cha Eun Woo. Baik Kim Seon Ho maupun Cha Eun Woo, keduanya adalah artis papan atas di bawah naungan Fantagio, dan keduanya diduga terlibat dalam skema penghindaran pajak yang melibatkan struktur perusahaan keluarga atau entitas terpisah untuk mengelola pendapatan mereka.
Kasus Cha Eun Woo, yang mencuat lebih dulu, melibatkan denda pajak yang sangat besar, mencapai sekitar 15 juta USD atau setara dengan Rp251 miliar yang harus dibayar oleh sang artis. Tidak hanya itu, Fantagio sendiri sebagai agensi juga diperintahkan untuk membayar pajak terutang sebesar 6,1 juta USD atau sekitar Rp102 miliar terkait kasus tersebut. Dampak dari kontroversi pajak ini tidak hanya finansial, melainkan juga reputasional. Sejumlah merek dan sponsor dilaporkan menarik konten atau menghentikan kerja sama dengan Cha Eun Woo, menunjukkan betapa seriusnya pelanggaran semacam ini di mata publik dan dunia bisnis.
Dengan terulangnya pola yang serupa pada dua artis unggulannya, Fantagio kini berada di bawah sorotan tajam. Publik dan regulator mempertanyakan sejauh mana agensi tersebut mengetahui, atau bahkan mungkin terlibat, dalam praktik-praktik akuntansi yang diduga tidak wajar ini. Ada keyakinan kuat bahwa agensi sebesar Fantagio, yang merupakan perusahaan publik, “tidak mungkin tidak menyadari struktur pembayaran yang diduga tidak wajar tersebut.” Jika terbukti bahwa Fantagio menutup mata atau bahkan secara aktif terlibat dalam skema ini, hal tersebut dapat dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap transparansi akuntansi perusahaan publik. Ini bukan hanya masalah hukum, tetapi juga masalah etika dan kepercayaan investor, yang dapat berdampak buruk pada nilai saham dan reputasi agensi secara keseluruhan.
Tanggapan Resmi Fantagio dan Upaya Klarifikasi

















