Peringatan! Artikel ini memuat konten kekerasan yang mungkin akan mengganggu Anda.
Gelombang unjuk rasa antipemerintah yang mengguncang Iran pada Januari 2026 telah bertransformasi menjadi tragedi kemanusiaan berskala besar setelah aparat keamanan merespons aspirasi sipil dengan penggunaan kekuatan mematikan yang sistematis. Ribuan demonstran dilaporkan tewas akibat terjangan peluru tajam di berbagai titik panas seperti Teheran, Bushehr, hingga Shahroud, menciptakan krisis hak asasi manusia yang mendalam di bawah bayang-bayang pemadaman komunikasi total. Di tengah blokade informasi, pemutusan akses internet, dan intimidasi masif terhadap keluarga korban, investigasi mendalam berhasil mengungkap identitas serta narasi tragis di balik wajah-wajah yang kini hanya menjadi kenangan. Laporan ini merinci bagaimana mimpi-mimpi masa depan generasi muda Iran dipadamkan secara paksa oleh moncong senjata aparat, menggambarkan sebuah realitas kelam di mana hak untuk hidup dikorbankan demi stabilitas kekuasaan.
Kondisi di lapangan menunjukkan pola represi yang serupa di hampir seluruh wilayah konflik; aparat keamanan tidak hanya menggunakan gas air mata atau peluru karet, melainkan secara sengaja menargetkan bagian vital tubuh pengunjuk rasa dengan peluru tajam. Upaya pemerintah untuk menutupi skala kematian dilakukan dengan cara yang sangat terstruktur, mulai dari pembatasan panggilan telepon internasional hingga ancaman langsung terhadap kerabat korban agar tidak berbicara kepada media. Namun, melalui kerja keras tim pencari fakta, potongan-potongan kisah para demonstran yang tidak pernah kembali ke rumah ini berhasil disusun kembali. Mereka bukan sekadar statistik, melainkan individu dengan cita-cita, mulai dari mahasiswi bioteknologi, guru bahasa yang dermawan, hingga seorang ayah lanjut usia yang merindukan kebebasan bagi cucu-cucunya.
Tragedi di Pelukan Keluarga dan Hilangnya Nyawa Para Pendidik
Salah satu kisah paling memilukan datang dari Negin Ghadimi, seorang mahasiswi bioteknologi berusia 28 tahun yang dikenal memiliki kecintaan mendalam pada dunia seni dan olahraga renang. Pada 9 Januari, semangatnya untuk perubahan membawanya turun ke jalanan Shahsawar, mengabaikan kekhawatiran ayahnya demi bergabung dengan massa yang menuntut keadilan. Ketika pasukan keamanan melepaskan tembakan membabi buta ke arah kerumunan, sebuah peluru tajam menembus bagian samping tubuh Negin. Dalam detik-detik terakhirnya yang mencekam, ia jatuh tepat ke pelukan ayahnya sendiri. Dengan sisa napas yang ada, Negin hanya sempat membisikkan kata-kata terakhir, “Ayah, aku tertembak,” sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir di tempat kejadian, meninggalkan duka yang tak terhapuskan bagi keluarganya.
Kematian tragis juga menimpa Nima (Mohammad Amin) Parsa, seorang intelektual muda berusia 26 tahun yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan. Sebagai guru bahasa Italia dan Inggris di Teheran, Nima dikenal karena kedermawanannya mengunggah video pengajaran secara gratis di YouTube agar bisa diakses oleh masyarakat luas. Nima adalah lulusan universitas di Italia yang memilih kembali ke tanah airnya dengan harapan bisa berkontribusi bagi kemajuan Iran. Namun, pengabdiannya berakhir di Lapangan Tajrish pada 8 Januari saat sebuah peluru bersarang di kepalanya. Pihak keluarga harus menunggu selama dua hari dalam ketidakpastian sebelum akhirnya jenazah Nima dikembalikan oleh otoritas, menambah daftar panjang kaum terpelajar yang menjadi korban dalam gejolak politik ini.
Eksploitasi Kekerasan: Dari Mantan Tentara hingga Atlet Binaraga
Mohammad Rezaei, seorang pemuda berusia 32 tahun, mewakili potret rakyat kecil yang berjuang di tengah himpitan ekonomi Iran yang memburuk. Sebagai sosok yang baru saja menyelesaikan dinas militer selama dua tahun, Mohammad memiliki mimpi sederhana untuk membangun keluarga dan membuka usaha kedai kopi. Namun, kondisi ekonomi yang stagnan selalu mematahkan langkahnya. Pada Jumat, 19 Januari, saat ia ikut menyuarakan kegelisahannya di Dolatabad, kepalanya diterjang peluru tajam. Ironisnya, rumah sakit tempatnya dibawa, RS Haft Tir, sempat menutup-nutupi kondisinya dari pihak keluarga. Mereka tidak diizinkan melihat Mohammad hingga akhirnya dikabarkan telah meninggal dunia keesokan harinya. Mohammad, sang pemain futsal yang aktif, dimakamkan dalam suasana duka yang mendalam pada hari Minggu berikutnya.
Kebrutalan aparat juga terlihat jelas dalam kasus Saeed Golsorkhi, seorang binaragawan berusia 31 tahun di Shahroud. Saeed awalnya ditembak di bagian lutut saat memprotes di depan kantor gubernur pada 8 Januari. Meski terluka, ia sempat melarikan diri dari rumah sakit karena ketakutan melihat polisi menangkap demonstran yang sedang dirawat. Namun, persembunyiannya di rumah ayahnya berakhir tragis saat pasukan keamanan menyerbu kediaman tersebut. Demi melindungi anggota keluarga dan seorang anak kecil yang ada di dalam rumah, Saeed memutuskan untuk menyerah dan keluar ke gang. Bukannya ditangkap secara prosedural, saksi mata menyebutkan bahwa aparat justru menembak Saeed dari belakang setelah ia menyerahkan diri. Jenazahnya sempat ditahan selama beberapa hari, sementara saudaranya, Navid, juga ditangkap, meninggalkan keluarga dalam tekanan intimidasi yang luar biasa.
Suara Perempuan dan Pengorbanan Pasangan Suami Istri
Raha (Zahra) Bahlolipour, mahasiswi Universitas Teheran berusia 19 tahun, menjadi simbol perlawanan intelektual muda perempuan. Melalui unggahan media sosialnya, Raha sering menyuarakan aspirasi tentang kesetaraan hak dan kebebasan perempuan Iran, mengutip karya-karya sastra seperti Forough Farrokhzad. Pada hari terakhir hidupnya, 9 Januari, ia sempat menuliskan pesan singkat di Telegram: “Perempuan, kehidupan, kebebasan selamanya.” Tak lama kemudian, ia tewas setelah dadanya ditembus peluru di Jalan Fatemi. Kematian Raha menambah deretan panjang mahasiswi yang gugur demi memperjuangkan lingkungan sosial yang lebih adil bagi kaum perempuan di negaranya.
Di Bushehr, kisah memilukan menimpa pasangan suami istri, Behrouz Mansouri dan Mansoureh Heidari. Behrouz adalah seorang guru teknik, sementara Mansoureh adalah seorang perawat yang berdedikasi. Saat berdemonstrasi di Jalan Ashouri, mereka terjebak dalam serangan gas air mata dan tembakan dari pangkalan Basij. Behrouz tertembak di kepala, dan saat Mansoureh berusaha menolong suaminya, ia pun turut ditembak di bagian samping. Laporan medis menyebutkan Mansoureh sebenarnya masih bertahan hidup hingga tengah malam, namun pasukan keamanan melarang siapapun mendekat untuk memberikan pertolongan medis selama berjam-jam. Pasangan ini akhirnya tewas bersama, meninggalkan dua anak kecil berusia 10 dan 8 tahun yang kini menjadi yatim piatu.
Penindasan Terhadap Kemanusiaan: Dari Lansia hingga Pecinta Satwa
Kekerasan ini tidak mengenal usia, sebagaimana yang dialami Hossein Naseri, seorang pensiunan berusia 73 tahun. Meskipun anak-anaknya sudah hidup aman di luar negeri, Hossein merasa memiliki kewajiban moral untuk turun ke jalan demi masa depan generasi mendatang di Iran. Ia tewas setelah ditembak di kaki di Teheran Timur. Akibat pemutusan akses komunikasi, anak-anaknya baru mengetahui kematian ayah mereka tujuh hari kemudian. Di sisi lain, ada pula Shabnam Ferdowsi, seorang pembuat boneka berusia 37 tahun yang hidup sebatang kara. Shabnam ditembak di bagian perut dan sempat dibawa ke rumah sakit swasta, namun pihak rumah sakit menolak memberikan perawatan dengan alasan administratif yang mencurigakan. Jenazahnya akhirnya ditemukan keluarga di fasilitas Kahrizak setelah pencarian selama empat hari.
Kisah Mehdi Jafari, pemuda 23 tahun yang dikenal sebagai penyelamat kucing jalanan, menambah daftar kekejaman aparat yang membiarkan korban luka meninggal tanpa pertolongan. Mehdi ditembak di punggung dan dibiarkan tergeletak di jalanan Khani Abad tanpa izin bagi warga untuk menolongnya. Keluarga Mehdi bahkan dipaksa membayar sejumlah uang kepada pihak keamanan dan menandatangani perjanjian untuk menguburkan Mehdi secara diam-diam tanpa kehadiran pelayat. Sementara itu, Sepehr Ebrahimi, seorang petinju amatir berusia 19 tahun, juga ditemukan tewas setelah sempat berpamitan kepada ibunya untuk pergi latihan tinju, padahal ia bergabung dengan barisan demonstran demi memperjuangkan mimpinya akan Iran yang lebih baik.

















