Dalam sebuah pergeseran kepemimpinan strategis yang bertujuan untuk mempertahankan stabilitas dan kepercayaan pasar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menunjuk Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK yang baru. Penunjukan ini mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Mahendra Siregar dan Mirza Adityaswara, memastikan kelangsungan operasional lembaga pengawas keuangan vital ini tanpa jeda yang signifikan. Bersamaan dengan itu, Hasan Fawzi juga resmi ditunjuk sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (KE PMDK), menggantikan posisi yang sebelumnya dijabat oleh Inarno Djajadi. Langkah ini menegaskan komitmen OJK untuk menjaga momentum dalam mengawasi dan mengembangkan sektor jasa keuangan Indonesia, khususnya di tengah dinamika pasar yang terus berkembang.
Friderica Widyasari Dewi, yang akrab disapa Kiki, menyambut penunjukannya dengan rasa optimisme dan keyakinan, terutama mengingat rekam jejaknya yang panjang dan mendalam di sektor pasar modal. Dalam sebuah dialog yang diselenggarakan bersama para pelaku pasar modal di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan, pada Minggu (1/2), Kiki menyatakan bahwa baik dirinya maupun Hasan Fawzi memiliki pemahaman yang sangat intim dengan seluk-beluk pasar modal. “Karena kebetulan pasar modal ini sudah rumah kami berdua ya Pak Hasan ya, juga Bapak Ibu (pelaku pasar modal) nih sahabat-sahabat saya yang lebih dari 20 tahun nih,” ungkap Kiki, menekankan kedekatan dan pengalamannya yang telah teruji selama lebih dari dua dekade berinteraksi dengan para pemangku kepentingan di industri ini. Pernyataan ini secara implisit menggarisbawahi kesiapan dan kapabilitas mereka untuk segera mengambil alih tanggung jawab baru tanpa perlu masa adaptasi yang panjang.
Transisi Kepemimpinan yang Mulus dan Komitmen pada Stabilitas Pasar
Proses penunjukan Friderica Widyasari Dewi dan Hasan Fawzi merupakan hasil dari keputusan kolektif dalam rapat Dewan Komisioner OJK. Rapat ini diadakan segera setelah pengunduran diri Mahendra Siregar sebagai Ketua Dewan Komisioner OJK dan Inarno Djajadi sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon. Penting untuk dicatat bahwa transisi kepemimpinan ini berhasil diselesaikan dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, sebuah pencapaian yang menunjukkan efisiensi dan kesigapan OJK dalam menghadapi perubahan struktural. Kiki secara tegas menggarisbawahi bahwa tidak terjadi kekosongan kepemimpinan yang berkepanjangan. “Jadi tidak ada kekosongan kepemimpinan lebih dari 24 jam itu yang ingin saya sampaikan,” ujar Kiki, memberikan jaminan kepada publik dan pelaku pasar bahwa roda operasional OJK tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Komitmen untuk memastikan kelancaran operasional OJK dan menjaga kepercayaan pasar menjadi prioritas utama. Kiki mengungkapkan bahwa, meskipun ada pergantian posisi penting, seluruh tugas dan fungsi OJK tetap berjalan dengan optimal. Bahkan, untuk memastikan semua berjalan lancar dan untuk memperkuat keyakinan pasar, Kiki dan timnya rela bekerja ekstra, termasuk masuk pada hari Sabtu dan Minggu. “Sehingga kita memastikan bahwa seluruh tugas pokok fungsi dari OJK berjalan dengan baik dan Sabtu minggu ini kami masuk untuk bisa melakukan hal-hal yang dirasa perlu untuk meningkatkan confidence market dan sebagainya,” jelas Kiki. Tindakan ini mencerminkan dedikasi tinggi untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan sektor jasa keuangan, sebuah elemen krusial bagi perekonomian nasional. Pengalaman Kiki yang mendalam di pasar modal, ditambah dengan komitmennya untuk bekerja keras, diharapkan dapat membawa angin segar dan inovasi dalam pengawasan OJK.
Pengalaman Mendalam di Pasar Modal sebagai Fondasi Kepemimpinan
Friderica Widyasari Dewi, atau Kiki, membawa warisan pengalaman yang kaya dari sektor pasar modal ke dalam perannya yang baru sebagai Ketua dan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK. Pengalamannya yang membentang lebih dari dua dekade tidak hanya memberikannya pemahaman teknis yang mendalam, tetapi juga jaringan yang kuat dan pemahaman intuitif tentang dinamika yang membentuk industri ini. Keterlibatannya yang erat dengan para pelaku pasar modal, yang ia sebut sebagai “sahabat-sahabat saya yang lebih dari 20 tahun,” menunjukkan bahwa ia memahami tantangan dan peluang yang dihadapi oleh berbagai entitas di sektor ini, mulai dari perusahaan efek, manajer investasi, hingga investor individu. Pemahaman ini sangat berharga dalam merumuskan kebijakan yang tidak hanya efektif dalam pengawasan, tetapi juga mendukung pertumbuhan dan inovasi.
Penunjukan Kiki dan Hasan Fawzi secara bersamaan sebagai pengganti figur-figur kunci yang sebelumnya menjabat, Mahendra Siregar dan Inarno Djajadi, menggarisbawahi pentingnya kontinuitas keahlian di bidang pengawasan pasar modal. Hasan Fawzi, yang kini memegang amanah sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon, juga memiliki rekam jejak yang solid di industri ini. Kolaborasi antara Kiki dan Hasan diharapkan dapat menciptakan sinergi yang kuat dalam mengelola dan mengembangkan pasar modal Indonesia. Mereka berdua, dengan latar belakang yang kuat di pasar modal, diposisikan untuk memimpin OJK dalam menghadapi tantangan global dan domestik, serta memanfaatkan peluang yang muncul dari perkembangan teknologi dan inovasi finansial. Fokus pada peningkatan confidence market, seperti yang ditekankan oleh Kiki, akan menjadi prioritas utama untuk memastikan bahwa pasar modal Indonesia tetap menjadi instrumen penting dalam pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi negara.

















