Sebuah babak baru terukir dalam sejarah musik global ketika lagu “Golden”, yang menjadi mahkota soundtrack film animasi populer Netflix, “KPop Demon Hunters”, berhasil memenangkan penghargaan bergengsi di Grammy Awards 2026. Kemenangan bersejarah ini, yang diumumkan pada sesi Non-Televised Premiere Ceremony pada Minggu, 1 Februari waktu setempat, menandai pertama kalinya sebuah lagu K-pop berhasil menembus dan meraih piala dalam ajang penghargaan musik paling prestisius di dunia. Prestasi ini bukan hanya sekadar sebuah penghargaan, melainkan sebuah pengakuan monumental atas perkembangan dan pengaruh musik Korea Selatan yang terus merambah kancah internasional, membuktikan bahwa genre ini telah melampaui batasan budaya dan geografis.
Lagu “Golden” dinobatkan sebagai pemenang dalam kategori Best Song Written for Visual Media. Kategori ini secara khusus menghargai karya musik orisinal yang diciptakan dan diintegrasikan secara harmonis ke dalam media visual, seperti film, acara televisi, atau video game. Kemenangan “Golden” dalam kategori ini menegaskan kualitas artistik dan naratif lagu tersebut, yang mampu secara efektif memperkaya pengalaman menonton dan emosional para penikmat “KPop Demon Hunters”. Lagu ini berhasil mengungguli sejumlah nomine kuat lainnya, menunjukkan keunggulan kompetitifnya di antara karya-karya terbaik yang diciptakan untuk media visual. Para pesaing yang berhasil dikalahkan antara lain “As Alive As You Need Me To Be” oleh Nine Inch Nails, “Never Too Late” oleh Elton John & Brandi Carlile, serta “Sinners” yang dibawakan oleh Leonard Denisenko, Rodarius Green, dan Travis. Keberhasilan “Golden” melampaui karya-karya dari musisi-musisi ternama ini semakin mempertegas signifikansi pencapaiannya.
Di balik gemerlap kemenangan “Golden”, terdapat kolaborasi apik dari para talenta musik. Lagu ini dibawakan oleh trio vokal yang memukau, yaitu EJAE, Audrey Nuna, dan Rei Ami. Ketiganya merupakan bagian integral dari proyek Huntr/x, yang juga merupakan nama karakter fiksi dalam film animasi “KPop Demon Hunters”. Kehadiran mereka sebagai pengisi suara dan penampil lagu ini memberikan dimensi karakter yang kuat, menghubungkan musik secara langsung dengan narasi visual yang disajikan. Lebih jauh lagi, proses kreatif di balik “Golden” melibatkan tim penulis lagu yang sangat berbakat. EJAE, selain sebagai salah satu vokalis, juga berperan sebagai penulis utama lagu ini, berkolaborasi dengan Mark Sonnenblick, DO, 24, dan Teddy. Keberagaman latar belakang dan keahlian para penulis ini kemungkinan besar berkontribusi pada kekayaan melodi, lirik yang menyentuh, dan aransemen musik yang inovatif, yang akhirnya memikat hati para juri Grammy.
Analisis Mendalam Kemenangan “Golden” di Grammy Awards 2026
Kemenangan “Golden” di Grammy Awards 2026 bukan hanya sekadar sebuah penghargaan, melainkan sebuah tonggak sejarah yang menandai evolusi industri musik K-pop. Selama bertahun-tahun, K-pop telah membuktikan daya tariknya yang luar biasa melalui popularitas global di platform digital, jumlah penonton konser yang masif, dan pengaruh budaya yang signifikan. Namun, pengakuan dari Grammy Awards, sebagai salah satu institusi penghargaan musik paling terkemuka di dunia, memberikan legitimasi artistik yang lebih dalam. Ini menunjukkan bahwa K-pop kini tidak hanya diakui karena popularitasnya, tetapi juga karena kualitas musikalitas, inovasi, dan kemampuan bercerita yang ditawarkannya. Kemenangan ini diharapkan dapat membuka pintu lebih lebar bagi artis-artis K-pop lainnya untuk mendapatkan pengakuan serupa di masa depan, mendorong kolaborasi lintas budaya yang lebih intens, dan memperkaya lanskap musik global dengan keragaman yang lebih besar.
Proses nominasi dan kemenangan “Golden” juga patut dicermati. Lagu ini berhasil mendapatkan empat nominasi Grammy secara total, sebuah pencapaian yang luar biasa bagi sebuah lagu K-pop. Selain memenangkan kategori Best Song Written for Visual Media, “Golden” juga sempat bersaing dalam kategori Best Pop Duo/Group Performance dan Best Remixed Recording. Meskipun belum berhasil meraih kemenangan di dua kategori terakhir tersebut, fakta bahwa lagu ini mampu masuk dalam nominasi bergengsi menunjukkan kualitas dan daya saingnya yang tinggi. Dalam kategori Best Pop Duo/Group Performance, “Golden” harus mengakui keunggulan lagu “Defying Gravity” yang dibawakan oleh Ariana Grande dan Cynthia Erivo, yang merupakan soundtrack dari film “Wicked”. Sementara itu, penghargaan Best Remixed Recording jatuh kepada lagu “Abracadabra” dari Lady Gaga. Namun, perjuangan “Golden” belum sepenuhnya usai, karena lagu ini masih memiliki peluang untuk meraih penghargaan dalam kategori bergengsi lainnya, yaitu Song of the Year, yang merupakan salah satu kategori utama dalam Grammy Awards.
Peran “KPop Demon Hunters” sebagai media peluncur “Golden” juga menjadi faktor penting. Film animasi yang diproduksi oleh Netflix ini telah meraih popularitas yang signifikan, menciptakan basis penggemar yang luas dan antusias. Soundtrack yang kuat dan relevan adalah komponen krusial dalam sebuah film, dan “Golden” berhasil memenuhi ekspektasi tersebut dengan sangat baik. Lagu ini tidak hanya berfungsi sebagai pengisi latar, tetapi juga menjadi elemen naratif yang memperdalam emosi dan tema film. Dengan demikian, kesuksesan “Golden” di Grammy Awards dapat dilihat sebagai hasil sinergi antara kualitas musik yang superior, kolaborasi artistik yang solid, dan platform distribusi global yang kuat seperti Netflix. Pengaruh gabungan dari elemen-elemen ini telah menciptakan sebuah fenomena budaya yang merayakan keunggulan musik K-pop di panggung dunia.


















