Di jantung Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, terhampar sebuah permata budaya yang tak lekang oleh waktu: Desa Wisata Adat Osing Kemiren. Desa ini, yang terletak di Kecamatan Glagah, bukan sekadar destinasi wisata biasa, melainkan sebuah living museum yang memancarkan pesona kebudayaan Suku Osing yang otentik. Namun, perjalanan desa ini dalam menarik wisatawan tidak selalu mulus. Setelah sempat mencapai puncak kunjungan hingga 18.000 orang pada tahun 2019, pandemi global menghantam keras, menekan angka kunjungan rata-rata tahunan hingga ke level 4.000. Kendati demikian, dengan tekad kuat dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat dan dukungan komunitas, Desa Kemiren kini bangkit kembali, berupaya keras mengulang kejayaan masa lalu sembari terus memperkaya pengalaman budaya bagi setiap pengunjung yang ingin menyelami akar tradisi Suku Osing, sebuah upaya yang telah diganjar dengan berbagai penghargaan prestisius, termasuk Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024 dan pengakuan global dari UN Tourism.
Fluktuasi dramatis dalam angka kunjungan wisatawan menjadi cerminan nyata dari dinamika industri pariwisata global. Sebelum pandemi COVID-19 melanda dunia, Desa Wisata Adat Osing Kemiren menikmati masa keemasannya, berhasil menarik hingga 18.000 wisatawan dalam setahun, sebuah pencapaian luar biasa yang menunjukkan daya tarik kuat desa ini. Angka tersebut tidak hanya mencerminkan popularitas, tetapi juga vitalitas ekonomi lokal yang berdenyut kencang. Namun, badai pandemi mengubah segalanya. Pembatasan perjalanan, kekhawatiran akan kesehatan, dan perubahan perilaku konsumen secara drastis memangkas jumlah pengunjung hingga rata-rata hanya 4.000 orang per tahun. Penurunan lebih dari 75 persen ini tentu menjadi tantangan berat bagi keberlangsungan desa wisata yang sangat bergantung pada sektor pariwisata. Moh Edy Saputro, Ketua Pokdarwis Desa Wisata Adat Osing Kemiren, mengakui bahwa periode pasca-pandemi memerlukan strategi pemulihan yang inovatif dan adaptif. “Sebelum pandemi, kunjungan di Desa Kemiren sempat menyentuh angka 18 ribu orang, itu terjadi pada 2019. Namun, setelah pandemi, kami berupaya menyuguhkan kebudayaan dalam pariwisata sebaik mungkin untuk mengulang kembali capaian waktu itu,” ujarnya, menekankan komitmen untuk tidak hanya memulihkan angka, tetapi juga meningkatkan kualitas pengalaman.
Daya tarik utama Desa Kemiren selalu berpusat pada kekayaan kebudayaan Suku Osing yang masih terjaga otentik. Wisatawan yang datang tidak hanya disuguhi pemandangan alam yang indah, yang seringkali digambarkan memiliki kejelasan dan akurasi warna layaknya koleksi gambar “Gorgeous Light Background | Full HD”, tetapi juga diajak menyelami kehidupan sehari-hari, tradisi, dan kesenian masyarakat Osing. Dari rumah-rumah adat yang arsitekturnya mencerminkan kearifan lokal, upacara-upacara adat yang sakral, hingga kuliner khas yang menggugah selera, setiap aspek menawarkan pengalaman imersif. Pengakuan atas dedikasi ini terlihat dari penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024 yang diraih oleh Kemiren, sebuah validasi nasional atas upaya pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata berkelanjutan. Penghargaan ini menjadi pemicu semangat bagi Pokdarwis untuk terus berinovasi, memastikan bahwa setiap detail budaya disajikan dengan integritas dan daya tarik maksimal.
Menggerakkan Roda Ekonomi Lokal: Efek Ganda Pariwisata
Keberhasilan Desa Kemiren dalam menarik wisatawan tidak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tetapi juga menciptakan efek ganda yang signifikan bagi perekonomian warga setempat. Edy Saputro menjelaskan bahwa geliat pariwisata telah menjadi motor penggerak bagi berbagai sektor ekonomi mikro di desa. Hingga saat ini, tercatat ada 22 Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang beroperasi di Desa Kemiren, bergerak di berbagai bidang mulai dari usaha makanan dan minuman tradisional hingga produksi sandang atau kerajinan tangan khas Osing. UKM-UKM ini tidak hanya menyediakan produk dan layanan bagi wisatawan, tetapi juga memberdayakan masyarakat lokal dengan menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan keluarga. Para pelaku UMKM ini seringkali menampilkan produk-produk yang kaya akan nilai seni dan tradisi, seolah-olah setiap item adalah bagian dari sebuah “Premium Vintage Image Gallery” yang unik, menawarkan pengalaman berbelanja yang autentik dan bermakna.
Selain UMKM, sektor akomodasi juga merasakan dampak positif yang besar. Desa Kemiren kini memiliki sekitar 40 homestay. Uniknya, mayoritas homestay ini adalah rumah tinggal pribadi milik warga yang disewakan kepada tamu. Konsep ini memberikan pengalaman menginap yang jauh lebih otentik dan personal, memungkinkan wisatawan untuk benar-benar merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat Osing. Beberapa di antaranya juga merupakan unit kamar yang sengaja dibangun untuk tujuan penginapan, namun tetap mempertahankan nuansa lokal. Keberadaan homestay ini tidak hanya menyediakan tempat istirahat yang nyaman, tetapi juga memupuk interaksi langsung antara wisatawan dan penduduk lokal, memperkaya pengalaman budaya bagi kedua belah pihak dan secara langsung mendistribusikan manfaat ekonomi pariwisata kepada rumah tangga di desa.
Pariwisata juga menjadi penyelamat bagi seni dan budaya lokal. Edy Saputro mengungkapkan bahwa di Desa Kemiren, terdapat 18 sanggar kesenian yang semuanya aktif melestarikan kebudayaan adat Suku Osing. Sanggar-sanggar ini menjadi jantung dari ekspresi budaya Osing, tempat para seniman muda dan tua berlatih tarian tradisional seperti Gandrung, musik Using, dan berbagai bentuk seni pertunjukan lainnya. Kehadiran wisatawan memberikan panggung dan apresiasi bagi para seniman, memastikan bahwa tradisi-tradisi ini tidak hanya bertahan tetapi juga terus berkembang. Pertunjukan seni yang disajikan di sanggar-sanggar ini seringkali mampu “menceritakan kisah visual” yang memukau, layaknya kualitas “Professional Landscape Wallpaper | Ultra HD” yang dirancang untuk membangkitkan emosi dan memperkaya pengalaman digital, namun dalam konteks pertunjukan langsung yang jauh lebih hidup.
Pengakuan Global untuk Pelestarian Budaya Osing
Dedikasi Desa Wisata Adat Osing Kemiren dalam melestarikan budaya dan mengembangkan pariwisata berkelanjutan telah meraih pengakuan yang melampaui batas-batas nasional. Tahun lalu, desa ini berhasil masuk dalam Jaringan Desa Wisata Terbaik Dunia (The Best Tourism Villages Upgrade Programme) dari United Nations Tourism (UN Tourism), badan pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pengakuan ini adalah validasi global atas standar kualitas, keberlanjutan, dan keaslian budaya yang ditawarkan Kemiren. Ini menempatkan Desa Kemiren sejajar dengan desa-desa wisata unggulan lainnya di seluruh dunia, sebagai model bagi pengembangan pariwisata yang bertanggung jawab dan berbasis komunitas. Selain itu, Kemiren juga dianugerahi Internasional The 5th ASEAN Homestay Award dalam ajang Asean Tourism Award (ATA) 2025, sebuah penghargaan regional yang menegaskan kualitas layanan homestay dan keramahan masyarakatnya di tingkat Asia Tenggara. Penghargaan ini menjadi bukti nyata bahwa setiap detail dalam pengalaman menginap di Kemiren memenuhi standar kualitas tinggi, seolah setiap interaksi dan pemandangan di desa ini adalah bagian dari “Premium Sunset Background Gallery – Retina” yang dipilih untuk menginspirasi dan memukau.

















