Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan dan mempersiapkan diri sebagai tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, secara resmi memulai rangkaian kegiatan safari Ramadhan dengan menghadiri acara buka puasa bersama warga di Masjid Al Mutohar, Jalan Tirtoyoso, Kecamatan Semarang Timur, pada Jumat, 20 Februari 2026. Momen penting ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi titik awal distribusi simbolis 20.000 mushaf Al-Qur’an terjemahan yang diperuntukkan bagi masyarakat Kota Semarang. Inisiatif ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang dengan Yayasan Upasraya Al-Fatihah, yang bertujuan untuk meningkatkan literasi keagamaan dan memperkuat semangat spiritual di tengah masyarakat, sekaligus mempromosikan citra Semarang sebagai kota yang ramah dan religius jelang perhelatan akbar MTQ Nasional.
“Kota Semarang akan menjadi tuan rumah MTQ Nasional. Oleh karena itu, mari mantapkan kesiapan spiritual sejak sekarang. Mari berbenah, tunjukkan bahwa Semarang adalah kota yang nyaman, jalannya bersih, dan warganya sangat ramah kepada pendatang. Semoga semangat mengaji ini menghidupkan suasana syiar di seluruh sudut kota,” demikian ditekankan oleh Wali Kota Agustina Wilujeng dalam pidatonya, menggambarkan visi besar di balik persiapan menjadi tuan rumah MTQ Nasional. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya kesiapan tidak hanya dari sisi infrastruktur dan penyelenggaraan, tetapi juga dari aspek spiritual dan sosial kemasyarakatan. Beliau berharap, melalui momentum ini, masyarakat Semarang dapat secara kolektif meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama, serta menampilkan citra kota yang positif kepada para tamu dari seluruh penjuru negeri yang akan hadir.
Gerakan Literasi Religi dan Dampaknya
Penyerahan simbolis Al-Qur’an terjemahan di Kecamatan Semarang Timur ini menjadi penanda dimulainya sebuah gerakan literasi religi yang lebih luas dan terstruktur. Program ini dirancang untuk menjangkau seluruh kecamatan di Kota Semarang sepanjang bulan suci Ramadhan. Pendistribusian Al-Qur’an terjemahan ini bukan sekadar pembagian mushaf secara fisik, melainkan sebuah upaya strategis untuk mendekatkan masyarakat dengan kitab sucinya. Dengan adanya terjemahan, diharapkan setiap ayat Al-Qur’an dapat dipahami maknanya secara mendalam oleh pembaca, tidak hanya sekadar dilafalkan. Hal ini sejalan dengan harapan Wali Kota Agustina Wilujeng yang menyatakan, “Saya berharap melalui pembagian ini, makin tumbuh semangat untuk membaca, memahami, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.”
Kolaborasi Filantropi untuk Penguatan Ukhuwah dan Kualitas Sumber Daya Manusia
Kegiatan distribusi Al-Qur’an ini merupakan hasil sinergi filantropi yang kuat antara Pemerintah Kota Semarang dengan Yayasan Upasraya Al-Fatihah. Kolaborasi semacam ini menunjukkan bagaimana kekuatan sektor publik dan swasta dapat bersatu padu untuk mencapai tujuan mulia. Wali Kota Agustina Wilujeng secara eksplisit menyampaikan harapannya bahwa inisiatif seperti ini tidak hanya akan membantu masyarakat yang membutuhkan mushaf, tetapi juga berfungsi sebagai sarana yang efektif untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga. Lebih jauh lagi, beliau melihat kolaborasi ini sebagai upaya untuk memperkuat pilar “Semarang Cerdas” melalui peningkatan pemahaman nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Al-Qur’an. Dengan pemahaman yang lebih baik terhadap ajaran agama, diharapkan masyarakat Kota Semarang akan memiliki karakter yang lebih kuat, berintegritas, dan mampu berkontribusi positif bagi pembangunan kota.
Persiapan Menuju MTQ Nasional: Lebih dari Sekadar Kompetisi
Menjadi tuan rumah MTQ Nasional merupakan sebuah kehormatan sekaligus tantangan besar bagi Kota Semarang. Persiapan yang dilakukan oleh Pemkot Semarang, seperti yang dicontohkan oleh Wali Kota Agustina Wilujeng, menunjukkan bahwa persiapan ini mencakup berbagai aspek. Selain aspek logistik dan teknis penyelenggaraan yang pasti akan menjadi fokus utama, penekanan pada kesiapan spiritual dan peningkatan literasi keagamaan masyarakat menjadi fondasi penting. Hal ini mengindikasikan bahwa penyelenggaraan MTQ Nasional bukan hanya tentang kompetisi membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga tentang bagaimana syiar Islam dapat dirasakan dan dihidupi oleh seluruh elemen masyarakat. Dengan demikian, diharapkan semangat Ramadhan dan nilai-nilai Al-Qur’an dapat benar-benar menghidupkan suasana di setiap sudut kota, menciptakan atmosfer yang kondusif bagi penyelenggaraan acara nasional tersebut.
















