Seniman dan aktivis kemanusiaan, Chiki Fawzi, mendadak menjadi sorotan publik setelah namanya secara tiba-tiba dicoret dari daftar petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026. Keputusan yang datang di malam hari menjelang keberangkatan ke Tanah Suci ini menimbulkan pertanyaan dan kekecewaan mendalam, terutama mengingat Chiki telah melalui proses persiapan intensif selama tiga tahun terakhir, termasuk mengikuti pendidikan dan pelatihan (Diklat) berbasis semi militer. Chiki sendiri mengungkapkan bahwa pencopotan tersebut disampaikan sebagai “arahan dari atasan” tanpa penjelasan rinci, meninggalkan impiannya untuk melayani jemaah haji sirna seketika.
Sosok Chiki Fawzi, putri dari pasangan artis Ikang Fawzi dan almarhumah Marissa Haque, dikenal tidak hanya karena kiprahnya di dunia seni, tetapi juga dedikasinya sebagai aktivis kemanusiaan. Pengalaman ini kembali menempatkannya di pusat perhatian, kali ini terkait dengan pembatalan mendadak partisipasinya sebagai petugas haji. Keputusan ini terasa sangat mendadak bagi Chiki, mengingat ia telah berada di tahap akhir persiapan, bahkan telah menyelesaikan sebagian besar Diklat PPIH 2026 yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Pemberitahuan pencoretan namanya ia terima pada malam hari, tepat sebelum jadwal keberangkatan ke Tanah Suci, sebuah momen yang tentu saja sangat mengejutkan dan menyakitkan.

Proses Diklat PPIH Berbasis Semi Militer yang Dijalani Chiki
Sebelum mengalami pencopotan mendadak, Chiki Fawzi telah menjalani serangkaian pelatihan intensif sebagai calon petugas haji. Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) PPIH 2026 yang diikutinya berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, sejak pertengahan Januari 2026 dan dijadwalkan berakhir pada 30 Januari 2026. Sebagai figur publik, Chiki tidak mendapatkan perlakuan khusus dan menjalani seluruh tahapan pelatihan layaknya peserta lainnya. Ia berbagi kamar dengan enam orang peserta lain dan mengikuti jadwal yang sangat ketat sejak dini hari.
Setiap hari, peserta diklat diwajibkan bangun pada pukul 04.00 WIB untuk melaksanakan salat Subuh berjemaah. Aktivitas dilanjutkan dengan apel pagi, senam, jalan santai, dan kemudian sesi kelas materi teknis pelayanan jemaah yang memakan waktu sepanjang hari. Pelatihan fisik menjadi salah satu fokus utama, meliputi baris-berbaris, pembentukan disiplin, serta pembinaan mental. Selain itu, para peserta juga dibekali dengan pengetahuan mendalam mengenai fikih haji, psikologi jemaah, bahasa Arab dasar, serta pemahaman mendalam mengenai tugas dan fungsi pelayanan sebagai petugas haji. Tantangan tambahan bagi Chiki dan peserta lainnya adalah kewajiban menghafal yel-yel, mars PPIH, dan lagu-lagu penyemangat yang menjadi bagian integral dari pembentukan semangat tim dan kesiapan mental.
Melalui unggahan di media sosialnya, Chiki kerap membagikan momen-momen selama diklat, mulai dari apel pagi yang penuh semangat, sesi lari bersama untuk menjaga kebugaran fisik, hingga kelas-kelas intensif yang padat materi. Ia menggambarkan proses ini sebagai sebuah penempaan fisik dan mental yang krusial, mempersiapkan para petugas untuk menghadapi tantangan dan tanggung jawab besar saat bertugas di Tanah Suci. Pengalaman kebersamaan dan solidaritas yang terjalin antar sesama petugas, meskipun dalam kondisi pelatihan yang berat, justru membuat proses tersebut terasa lebih bermakna dan memberikan kekuatan tambahan.
Impian Tiga Tahun yang Sirna dan Pernyataan Chiki
Keputusan pencoretan nama Chiki dari daftar petugas haji 2026 datang sebagai pukulan telak. Ia mengaku bahwa menjadi petugas haji dan melayani jemaah adalah salah satu impian terbesarnya yang telah ia pupuk selama tiga tahun terakhir. “Jujur sedih banget karena ini salah satu mimpi terbesar aku,” ujar Chiki dengan nada pilu. Ia mengungkapkan bahwa pemberitahuan pencopotan tersebut ia terima secara tiba-tiba, hanya dengan informasi bahwa keputusan itu merupakan “arahan dari atasan”. Tidak ada surat terbuka, klarifikasi tertulis, maupun keterangan resmi yang diberikan untuk menjelaskan latar belakang keputusan tersebut, yang semakin menambah rasa kecewa dan kebingungan.
Hingga kini, pihak penyelenggara ibadah haji belum memberikan pernyataan resmi terkait pencopotan Chiki dari PPIH 2026. Meskipun diliputi kesedihan dan kekecewaan mendalam, Chiki memilih untuk menerima keadaan dengan lapang dada dan tidak memperpanjang polemik. Ia menyadari bahwa berhaji, baik sebagai jemaah maupun petugas, adalah panggilan Tuhan. “Tapi aku percaya, kalau belum dipanggil sekarang, mungkin Allah punya waktu yang lebih tepat,” ucapnya dengan nada pasrah namun penuh keyakinan. Ia menekankan bahwa manusia hanya bisa berencana, namun keputusan akhir tetap berada di tangan Yang Maha Kuasa.
Meskipun gagal berangkat sebagai petugas haji tahun ini, Chiki tetap menyampaikan doa tulus bagi seluruh jemaah dan petugas haji 2026 agar ibadah mereka berjalan lancar dan amanah dana umat dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya. Ia juga memohon doa agar suatu hari kelak ia kembali mendapatkan kesempatan untuk memenuhi panggilan ke Tanah Suci, mewujudkan mimpinya untuk beribadah sambil melayani para tamu Allah. Pernyataan ini menunjukkan ketulusan dan keikhlasannya dalam menghadapi cobaan, serta harapan yang tetap membara untuk masa depan.

Perjalanan Kemanusiaan dan Misi yang Tertunda
Kisah Chiki Fawzi tidak hanya sebatas dunia hiburan dan ibadah haji. Ia juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan kemanusiaan, termasuk keterlibatannya dalam misi kemanusiaan untuk warga Gaza, Palestina. Chiki sempat mempersiapkan diri untuk bergabung dalam pelayaran kemanusiaan menuju Gaza bersama tim Global South Flotilla. Namun, rencana tersebut terpaksa batal karena berbagai pertimbangan, termasuk keputusan pembinaan dari pihak terkait yang mengutamakan negara lain untuk berlayar, serta bertepatan dengan tanggal wafat ibundanya yang membuatnya tidak ingin meninggalkan sang ayah sendirian.
Selama berbulan-bulan, Chiki telah mengikuti pelatihan intensif mengenai skenario berlayar hingga strategi menghadapi intersepsi Israel, dengan harapan dapat turut mengantarkan bantuan kemanusiaan. Keputusan untuk mundur dari misi tersebut bukanlah hal yang mudah. “Setelah aku pikir-pikir, udah qadarullah sih aku nggak ikut berlayar. Aku harus berempati sama ayah,” ungkapnya, menunjukkan kedalaman emosional dan tanggung jawabnya terhadap keluarga. Meskipun gagal dalam misi kemanusiaan kali ini, Chiki menegaskan bahwa perjuangannya tidak berhenti di situ. Ia bertekad untuk terus mencari cara lain, termasuk merencanakan pelayaran baru dari Indonesia.
Walaupun tidak dapat ikut dalam kapal kemanusiaan, Chiki tetap berupaya menyalurkan bantuan melalui jalur darat di Yordania. Sikapnya yang pantang menyerah dan komitmennya terhadap misi kemanusiaan patut diapresiasi. “Selama masih bisa jalan, jalan,” tegasnya, menunjukkan semangat juang yang tak pernah padam. Pengalaman ini, meskipun penuh tantangan, semakin memperkaya perjalanan hidup Chiki Fawzi, membentuknya menjadi pribadi yang kuat, berempati, dan selalu berupaya memberikan kontribusi positif bagi sesama, baik dalam skala lokal maupun internasional.


















