Malang, Jawa Timur – Stadion Gajayana, Kota Malang, menjadi saksi bisu gelombang manusia yang memutihkan seluruh penjuru pada Minggu, 8 Februari 2026. Puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) dihelat dalam sebuah acara akbar bertajuk Mujahadah Kubro, yang dihadiri oleh puluhan ribu warga NU dari berbagai penjuru, termasuk Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Muslimat NU. Acara monumental ini tidak hanya dihadiri oleh masyarakat akar rumput, tetapi juga menjadi panggung penting bagi figur publik, termasuk Presiden Prabowo Subianto, yang turut memberikan sambutan. Skala kehadiran yang luar biasa, mencapai lebih dari 107 ribu jamaah, menegaskan signifikansi perayaan satu abad organisasi Islam terbesar di Indonesia ini, yang mengusung tema “Memperkokoh Jam’iyah, Tradisi, Kontribusi dalam Mengembangkan Peradaban”.
Perhelatan akbar ini, yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, merupakan puncak dari serangkaian agenda yang telah dirancang untuk merayakan satu abad perjalanan NU. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari penuh ini, dimulai sejak Sabtu, 7 Februari 2026, mencapai titik kulminasinya pada Mujahadah Kubro yang dipadati oleh lautan manusia. Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, termasuk Kantor Berita Antara, jumlah jamaah yang hadir menembus angka fantastis 107.049 orang. Kehadiran ribuan jamaah yang datang dari berbagai daerah di Jawa Timur, mengenakan pakaian serba putih yang seragam, menciptakan pemandangan visual yang memukau, sebuah lautan manusia yang menyatu dalam semangat kebersamaan dan kekhusyukan ibadah.
Skala Kehadiran yang Menggugah: Stadion Gajayana Berubah Menjadi Lautan Putih
Stadion Gajayana yang megah di Kota Malang, Jawa Timur, bertransformasi menjadi lautan manusia yang memukau pada momen bersejarah ini. Ribuan jamaah Nahdlatul Ulama, yang akrab disapa Nahdliyin, dari berbagai penjuru daerah di Jawa Timur, berbondong-bondong hadir memenuhi setiap sudut stadion. Pemandangan yang paling mencolok adalah seragam putih yang dikenakan oleh mayoritas jamaah, menciptakan efek visual yang luar biasa. Warna putih yang dominan ini, diselingi dengan kerudung hijau yang dikenakan oleh para Muslimat, melambangkan kesucian, persatuan, dan ketulusan dalam beribadah. Dari lapangan hijau yang luas hingga tribun-tribun tertinggi, lautan warna putih ini menjadi saksi bisu kekompakan dan semangat keagamaan yang menggebu. Kehadiran yang begitu masif ini menegaskan bahwa Mujahadah Kubro bukan sekadar agenda seremonial, melainkan sebuah momentum spiritual yang sangat penting bagi jutaan umat NU. Antusiasme luar biasa ini juga mencerminkan ikatan emosional yang kuat antara jamaah dengan organisasi yang telah mengakar kuat dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Indonesia.
Acara yang berlangsung selama dua hari ini, Sabtu dan Minggu, 7-8 Februari 2026, merupakan puncak dari rangkaian perayaan Hari Lahir (Harlah) NU yang ke-1 Abad atau tepatnya 100 tahun dalam kalender Masehi. Tema yang diangkat, “Memperkokoh Jam’iyah, Tradisi, Kontribusi dalam Mengembangkan Peradaban”, menjadi landasan filosofis yang menginspirasi seluruh rangkaian kegiatan. Tema ini mencerminkan komitmen NU untuk terus menjaga keutuhan organisasi, melestarikan tradisi keilmuan dan amaliah yang telah diwariskan, serta memberikan kontribusi nyata dalam membangun peradaban yang lebih baik. Skala kehadiran yang mencapai lebih dari 107 ribu jamaah pada hari pertama pelaksanaan, Sabtu, 7 Februari 2026, menunjukkan betapa pentingnya perayaan ini bagi umat NU. Angka tersebut bukan sekadar kuantitas, melainkan cerminan dari kedalaman akar NU di masyarakat dan kekuatan spiritual yang dimiliki oleh organisasi ini.
Peran Penting Tokoh Nasional di Panggung Harlah NU
Kehadiran Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam acara Mujahadah Kubro Harlah 1 Abad NU menambah dimensi penting pada perhelatan akbar ini. Presiden Prabowo dijadwalkan untuk memberikan sambutan di hadapan puluhan ribu jamaah pada Minggu pagi, 8 Februari 2026. Kehadiran orang nomor satu di Indonesia ini menunjukkan pengakuan dan penghargaan terhadap peran strategis Nahdlatul Ulama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sambutan yang disampaikan oleh Presiden Prabowo diharapkan dapat mempererat sinergi antara pemerintah dan NU dalam upaya membangun Indonesia yang lebih maju dan berkeadaban. Selain Presiden, acara ini juga dihadiri oleh para petinggi Nahdlatul Ulama, termasuk Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yang menyambut kedatangan Presiden. Kolaborasi antara tokoh agama dan tokoh politik dalam acara seperti ini menjadi simbol persatuan dan komitmen bersama untuk kemajuan bangsa.
Mujahadah Kubro yang diselenggarakan di Stadion Gajayana, Kota Malang, pada Sabtu, 7 Februari 2026, menjadi momen khusyuk bagi seluruh jamaah yang hadir. Gelombang manusia yang mengenakan busana putih memenuhi setiap sudut stadion, mulai dari lapangan hijau hingga tribun tertinggi. Pemandangan lautan warna putih ini menjadi latar belakang yang syahdu bagi lantunan doa dan shalawat yang menggema. Para Muslimat, dengan kerudung hijaunya, turut larut dalam kekhusyukan, memanjatkan doa-doa terbaik untuk kemajuan NU dan bangsa Indonesia. Acara ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menjadi ajang refleksi dan penguatan spiritual bagi jutaan warga NU. Semangat kebersamaan, ketakwaan, dan kecintaan terhadap organisasi tercermin kuat dalam setiap detik pelaksanaan Mujahadah Kubro.
Peringatan satu abad Nahdlatul Ulama ini menegaskan kembali peran vital NU sebagai pilar kebangsaan dan penjaga tradisi keislaman di Indonesia. Dengan semangat “Memperkokoh Jam’iyah, Tradisi, Kontribusi dalam Mengembangkan Peradaban”, NU terus berupaya memberikan kontribusi positif bagi kemajuan bangsa. Skala kehadiran yang luar biasa dalam Mujahadah Kubro di Stadion Gajayana, Malang, menjadi bukti nyata kekuatan dan daya tarik organisasi ini di mata masyarakat. Perayaan ini bukan hanya milik warga NU semata, tetapi juga menjadi momentum penting bagi seluruh elemen bangsa untuk merenungkan perjalanan panjang NU dan merajut optimisme untuk masa depan yang lebih baik, yang dibangun di atas pondasi keimanan, kebangsaan, dan kemanusiaan.

















