Di tengah gaung peringatan satu abad kelahirannya, Nahdlatul Ulama (NU) di Demak, Jawa Tengah, menggelar sebuah perhelatan akbar yang bukan sekadar seremonial, melainkan penegasan kembali komitmen terhadap penguatan fondasi organisasi. Pada Sabtu, 31 Januari, ribuan Nahdliyin berkumpul di Pondok Pesantren Al-Falah, Desa Kalikondang, Kecamatan Demak, untuk memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-100 NU yang dirangkai dengan pelantikan pengurus ranting setempat. Acara monumental ini menjadi panggung bagi seruan mendalam agar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengarahkan perhatian lebih intensif kepada ranting-ranting di desa dan pondok pesantren, yang diyakini sebagai denyut nadi dan jantung kekuatan kultural jam’iyah terbesar di Indonesia ini, demi menjaga kemurnian ajaran dan keberlanjutan perjuangan kebangsaan.
Peringatan Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama yang ke-100 tahun ini menandai satu abad perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia yang telah mengukir sejarah panjang dalam menjaga agama dan negara. Momentum seabad ini bukan hanya perayaan, melainkan juga introspeksi dan proyeksi ke depan. Dalam konteks ini, seruan untuk memperkuat akar organisasi di tingkat bawah menjadi sangat relevan dan mendesak. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara khusus didorong untuk memberikan perhatian yang lebih besar dan terstruktur pada ranting-ranting NU di desa serta pondok pesantren. Dua elemen ini, ranting dan pesantren, selama ini telah terbukti menjadi basis kultural yang tak tergoyahkan, sekaligus menjadi jantung gerakan jam’iyah yang sesungguhnya. Mereka adalah garda terdepan dalam menjaga tradisi keagamaan, menyebarkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah, dan merajut persatuan di tengah masyarakat.
Penanggung Jawab acara Harlah NU ke-100 dan Pelantikan Pengurus NU Ranting Desa Kalikondang Masa Khidmat 2025–2030, Ali Abdul Rohman, menyampaikan harapan yang kuat ini dalam sebuah rilisnya. Menurut Ali, pengurus di level paling bawah, yaitu ranting desa, bersama dengan pondok pesantren, merupakan fondasi utama yang menopang seluruh bangunan Nahdlatul Ulama. Tanpa perhatian serius dari struktur pusat hingga daerah, dikhawatirkan denyut perjuangan NU akan melemah dan tidak mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara efektif. Pesantren, sebagai lembaga pendidikan tradisional yang telah melahirkan ribuan ulama dan cendekiawan, adalah kawah candradimuka bagi kaderisasi NU. Sementara ranting desa adalah simpul-simpul vital yang secara langsung berinteraksi dengan umat, memahami denyut nadi permasalahan lokal, dan menjadi ujung tombak dakwah kultural NU.
Pelantikan Ranting Kalikondang: Simbol Penguatan Akar Rumput
Acara pelantikan Pengurus NU Ranting Kalikondang kali ini terasa sangat istimewa dan memiliki bobot politis serta keagamaan yang tinggi. Perhelatan ini diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Falah, yang berlokasi di Perum Kalikondang Pesona Asri, Demak, pada Sabtu, 31 Januari. Kehadiran sosok-sosok penting dalam acara ini menjadi penanda betapa seriusnya PBNU dan jajarannya dalam mengokohkan struktur di tingkat paling bawah. Mustasyar PBNU, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, yang juga menjabat sebagai Wakil Presiden RI ke-13 dan Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi di Serang, Banten, turut hadir memberikan restu dan mauidhoh hasanah. Kehadiran beliau bukan hanya sekadar seremoni, melainkan sebuah pesan kuat tentang pentingnya ranting dan pesantren sebagai pilar utama NU.
Selain Kiai Ma’ruf, acara ini juga dimeriahkan oleh kehadiran Rois Syuriah PCNU Demak KH. Zaenal Arifin Ma’sum, yang merupakan pemimpin spiritual Nahdlatul Ulama di tingkat cabang. Turut hadir pula Ketua PCNU Demak KH. Muhammad Aminuddin Masyhudi, yang memegang kendali kepengurusan eksekutif. Jajaran pengurus NU dari berbagai tingkatan, Muslimat NU, Fatayat NU Ranting Kalikondang, serta ribuan jemaah Nahdliyin dari berbagai penjuru, memadati lokasi acara, menciptakan suasana khidmat namun meriah yang mencerminkan soliditas dan antusiasme warga NU terhadap organisasi mereka. Kehadiran massa yang begitu besar juga menunjukkan bahwa semangat penguatan akar rumput ini disambut baik oleh masyarakat.
Amanah Khidmat dan Adaptasi Zaman
Dalam sambutannya, Ketua PCNU Demak KH. Muhammad Aminuddin Masyhudi menegaskan bahwa pelantikan pengurus NU tidak boleh berhenti sebatas seremoni belaka. Ini adalah awal dari sebuah amanah besar yang harus diemban dengan penuh kesungguhan. “Saya meminta agar para pengurus yang telah dilantik benar-benar berkhidmat dengan sungguh-sungguh di jam’iyah Nahdlatul Ulama, menjaga amanah organisasi, dan terus menguatkan peran NU di tengah masyarakat,” tegasnya. Pesan ini menekankan pentingnya integritas, dedikasi, dan tanggung jawab moral yang melekat pada setiap pengurus NU, baik di tingkat pusat maupun ranting.
Sementara itu, mewakili Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH. Muhammad Fahsin menyampaikan dua pesan penting yang menjadi pedoman bagi pengurus NU, Muslimat, dan Fatayat Ranting Kalikondang.
- Pertama, menjaga agama dengan terus nguri-uri tradisi NU. Ini mencakup amalan-amalan khas Nahdliyin seperti manaqiban (pembacaan riwayat wali), yasinan (pembacaan surat Yasin), tahlilan (doa bersama untuk orang meninggal), dan ziarah kubur. Tradisi-tradisi ini bukan hanya ritual, melainkan juga sarana penguatan spiritual, pelestarian budaya keagamaan, dan pembentukan identitas ke-NU-an yang kuat di tengah masyarakat.
- Kedua, menyiasati kehidupan dunia dengan kecakapan dan ketanggapan dalam menghadapi perubahan zaman yang bergerak dinamis. Pesan ini menggarisbawahi pentingnya adaptasi dan inovasi. NU tidak boleh terpaku pada masa lalu, melainkan harus mampu menjawab tantangan kontemporer, memanfaatkan teknologi, dan mengembangkan potensi ekonomi serta sosial umat agar tetap relevan dan berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Puncak acara diisi dengan mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh Mustasyar PBNU, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin. Dalam tausiahnya yang penuh hikmah, beliau menyampaikan rasa syukur yang mendalam karena NU merupakan organisasi para ulama sekaligus wadah perjuangan mereka dalam menjaga kemurnian ajaran Islam dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kiai Ma’ruf menekankan bahwa warga NU memikul dua tanggung jawab besar yang tak terpisahkan:
- Mas’uliyah Diniyyah (Tanggung Jawab Keagamaan): Ini adalah amanah untuk menjaga akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, menyebarkan dakwah yang moderat (wasathiyah), serta melestarikan tradisi keilmuan Islam yang telah diwariskan para ulama salaf.
- Mas’uliyah Wathoniyah (Tanggung Jawab Kebangsaan dan Kenegaraan): Ini adalah amanah untuk menjaga Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI sebagai konsensus bersama bangsa Indonesia. NU memiliki peran historis dalam mendirikan dan mempertahankan negara ini, sehingga tanggung jawab kebangsaan adalah bagian integral dari identitas Nahdliyin.

















