Gema selawat dan lantunan ayat suci Al-Qur’an memecah keheningan malam di jantung ibu kota saat ribuan umat Muslim memadati Masjid Istiqlal untuk melaksanakan ibadah salat Tarawih perdana Ramadan 1447 Hijriah pada Rabu (18/2) malam. Peristiwa spiritual yang sangat dinantikan ini menandai dimulainya bulan suci bagi jutaan warga, di mana jemaah dari berbagai penjuru Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), hingga perantau dari luar pulau mulai membanjiri masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut sejak matahari terbenam. Kehadiran jemaah yang meluap hingga mengisi saf-saf di lantai tiga mencerminkan antusiasme luar biasa masyarakat dalam menyambut bulan penuh ampunan, sekaligus menjadi simbol persatuan umat dalam bingkai keberagaman yang sangat kental terasa di ikon religi nasional tersebut.
Sejak sore hari, arus kedatangan jemaah sudah terlihat mengalir deras melalui berbagai pintu masuk Masjid Istiqlal. Pantauan mendalam di lokasi menunjukkan bahwa pada pukul 20.30 WIB, ruang utama masjid telah dipenuhi oleh lautan manusia yang datang dengan satu tujuan: meraih keberkahan di malam pertama Ramadan. Tidak hanya area lantai utama, kepadatan jemaah meluas secara signifikan hingga ke lantai dua dan tiga, menunjukkan betapa besarnya kerinduan umat untuk beribadah di bangunan megah karya arsitek Friedrich Silaban ini. Suasana khidmat begitu terasa saat jemaah melaksanakan salat Isya berjemaah, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tausiah atau ceramah agama yang disampaikan langsung oleh Imam Besar Masjid Istiqlal sekaligus Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengusung tema besar yang sangat relevan dengan kondisi zaman saat ini, yakni “Ramadan Hijau, Ramadan Bersama”. Pesan yang disampaikan dalam tausiah tersebut menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari manifestasi iman, di mana ibadah puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menumbuhkan empati terhadap alam semesta. Tema “Ramadan Hijau” mengajak seluruh jemaah untuk mempraktikkan gaya hidup berkelanjutan selama bulan suci, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan menghemat penggunaan air saat berwudu. Sementara itu, aspek “Ramadan Bersama” menitikberatkan pada penguatan tali silaturahmi dan solidaritas sosial di tengah masyarakat yang majemuk, menjadikan Masjid Istiqlal sebagai titik temu bagi segala lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang suku maupun status sosial.
Magnet Religi bagi Perantau dan Warga Luar Kota
Masjid Istiqlal bukan sekadar tempat ibadah bagi warga Jakarta, melainkan telah bertransformasi menjadi magnet religi yang menarik minat masyarakat dari wilayah yang sangat jauh. Salah satu potret antusiasme ini terlihat dari kisah Nurjanah, seorang jemaah asal Bogor yang rela menempuh perjalanan cukup jauh menggunakan moda transportasi kereta api Commuter Line demi bisa membawa anak-anaknya merasakan atmosfer Tarawih perdana di Istiqlal. Nurjanah mengaku telah berangkat dari kediamannya sesaat setelah waktu Asar agar tidak tertinggal momen penting dan bisa mendapatkan saf di area utama. Baginya, memberikan pengalaman spiritual kepada anak-anak di masjid bersejarah ini merupakan bagian dari pendidikan karakter dan agama yang tidak ternilai harganya, meskipun harus berdesakan dengan ribuan jemaah lainnya.
Selain warga dari kota penyangga, Masjid Istiqlal juga menjadi pelarian spiritual bagi para perantau yang jauh dari kampung halaman. Sisilia (20), seorang mahasiswa perantau asal Manado, Sulawesi Utara, mengungkapkan pengalamannya yang emosional saat menjalani Tarawih pertama di Jakarta. Sebagai mahasiswa yang baru menetap di ibu kota, Sisilia mengaku sempat merasa ragu, namun dorongan pribadi yang kuat membawanya menempuh perjalanan dari kawasan Grogol menuju Jakarta Pusat. “Jujur, aku sih tiba-tiba kepikiran buat Tarawih di Istiqlal aja. Kebetulan kan aku tinggalnya di Grogol, tapi emang kayak pengin banget ke sini untuk merasakan suasana yang berbeda,” ujar Sisilia dengan nada antusias saat ditemui di sela-sela ibadahnya.
Bagi Sisilia, pengalaman pertama ini memberikan kesan mendalam yang sulit dilupakan. Ia menilai bahwa suasana ibadah di Masjid Istiqlal memiliki karakteristik yang sangat berbeda dibandingkan dengan pengalaman salat di daerah asalnya. Kemegahan arsitektur, kesejukan udara di dalam ruang utama, serta keteraturan yang terjaga meski dihadiri ribuan orang, membuat prosesi ibadah terasa jauh lebih nyaman. “Sekarang sih pertama kali aku ngerasanya kayak nyaman, terus adem juga di sini, jadi kayak oke banget untuk Tarawih di sini. Suasananya lumayan beda sih, apalagi gede ya masjidnya. Benar-benar nyaman buat beribadah,” tambahnya. Pengakuan Sisilia ini mempertegas posisi Istiqlal sebagai rumah besar bagi seluruh umat Islam, di mana setiap individu dapat merasakan kedamaian batin di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan.
Fasilitas Lengkap dan Kekuatan Spiritual Imam
Ketertarikan jemaah untuk terus kembali ke Masjid Istiqlal juga didorong oleh kualitas pelayanan dan fasilitas yang ditawarkan. Fanny (29), seorang warga asal Maluku Utara yang kini telah menetap di Jakarta, merupakan salah satu jemaah setia yang sudah tiga tahun berturut-turut memilih Istiqlal sebagai lokasi Tarawih perdananya. Menurut Fanny, ada aspek non-fisik yang ia sebut sebagai “vibes” atau aura spiritual yang tidak ditemukan di masjid-masjid lain di Jakarta. Selain itu, pemilihan imam yang memiliki suara merdu dan bacaan yang fasih menjadi daya tarik utama yang membuat jemaah betah berlama-lama dalam kekhusyukan salat.
Fanny juga memberikan apresiasi tinggi terhadap manajemen masjid yang terus melakukan perbaikan fasilitas dari tahun ke tahun. Area wudu yang bersih, ruang salat yang luas, serta pengaturan arus keluar-masuk jemaah yang tertib menjadi faktor krusial yang menunjang kenyamanan. “Kalau di sini kan fasilitasnya lengkap ya, tempatnya luas, jadi walaupun ramai tetap enak buat ibadah,” jelas Fanny. Meski ia mencatat bahwa keramaian tahun ini terasa sedikit berbeda—di mana menurutnya tahun-tahun sebelumnya terasa jauh lebih padat dan “crowded”—hal tersebut tidak mengurangi esensi ibadah yang ia jalani. Penurunan tingkat kepadatan yang dirasakan Fanny mungkin saja disebabkan oleh sistem pengaturan saf yang lebih rapi atau distribusi jemaah yang lebih merata ke berbagai lantai masjid.
Menutup malam yang penuh keberkahan tersebut, harapan-harapan baik dipanjatkan oleh para jemaah untuk perjalanan Ramadan sebulan ke depan. Fokus utama bukan hanya pada kelancaran menjalankan ibadah puasa secara fisik, tetapi juga kesiapan mental dan penguatan iman. Sebagaimana yang diutarakan oleh Fanny, doa kolektif umat adalah agar seluruh rangkaian ibadah Ramadan tahun ini dapat berjalan lancar hingga tiba di hari kemenangan Idul Fitri nanti. “Untuk Ramadan tahun ini semoga ibadah kita semua lancar, dilancarkan fisiknya, hatinya, mentalnya, imannya. Semoga semuanya berjalan dengan lancar sampai di Lebaran nanti,” pungkasnya. Dengan semangat kebersamaan dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan yang diusung dalam “Ramadan Hijau”, Masjid Istiqlal sukses mengawali bulan suci 1447 H dengan penuh kekhidmatan dan harapan baru bagi seluruh umat.
















