Dalam balutan kemuliaan bulan Ramadhan, sebuah periode suci yang dinanti-nantikan umat Islam sedunia, setiap detik ibadah dipenuhi makna mendalam. Puncak dari penantian panjang menahan lapar dan dahaga sepanjang hari adalah momen berbuka puasa, sebuah waktu istimewa yang bukan sekadar penghentian puasa fisik, melainkan juga klimaks spiritual yang sarat dengan syukur dan doa. Untuk menyempurnakan ibadah agung ini, umat Muslim dianjurkan untuk mengikuti tuntunan Rasulullah SAW dalam melafalkan doa berbuka puasa, sebuah amalan yang tidak hanya memperkaya spiritualitas tetapi juga memastikan kesempurnaan ibadah di hadapan Allah SWT. Artikel mendalam ini akan mengupas tuntas lima ragam doa berbuka puasa yang sahih dan dianjurkan, sebagaimana dikompilasi oleh ulama besar Imam al-Nawawi, memberikan pemahaman komprehensif tentang lafal, makna, dan sumbernya, sehingga setiap Muslim dapat memilih dan mengamalkannya sesuai sunnah.
Bulan Ramadhan, yang dikenal sebagai bulan penuh berkah, maghfirah (ampunan), dan rahmat, menempatkan ibadah puasa sebagai salah satu rukun Islam yang paling ditekankan. Dari fajar menyingsing hingga mentari terbenam, umat Islam menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa, melatih kesabaran, pengendalian diri, dan empati. Momen berbuka puasa atau iftar, yang tiba setelah adzan Maghrib berkumandang, adalah saat yang ditunggu-tunggu, bukan hanya karena hilangnya dahaga dan lapar, tetapi juga karena ia menjadi waktu mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW sendiri telah memberikan teladan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk cara berbuka puasa dan doa-doa yang menyertainya. Oleh karena itu, memahami dan mengamalkan doa berbuka puasa yang sesuai sunnah menjadi esensial bagi kesempurnaan ibadah dan untuk meraih pahala yang maksimal.
Menggali Khazanah Doa Berbuka Puasa dari Imam al-Nawawi
Untuk memahami ragam doa berbuka puasa yang sahih, kita merujuk pada salah satu ulama terbesar dalam sejarah Islam, Imam Abu Zakariya Yahya ibn Sharaf al-Nawawi (w. 676 H/1277 M). Beliau adalah seorang faqih (ahli fiqh) mazhab Syafi’i dan muhaddits (ahli hadits) terkemuka dari Damaskus. Karyanya yang monumental, al-Adzkar al-Muntakhabah min Kalam Sayyid al-Abrar (sering disingkat al-Adzkar), adalah sebuah kompilasi komprehensif doa dan dzikir yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Kitab ini telah menjadi rujukan utama bagi umat Islam di seluruh dunia selama berabad-abad untuk amalan harian. Dalam karyanya tersebut, Imam al-Nawawi menampilkan lima ragam doa yang dapat dibaca saat berbuka puasa, yang masing-masing memiliki keutamaan dan makna mendalam. Mari kita telaah satu per satu.
Doa Pertama: Mengakui Hilangnya Dahaga dan Harapan Pahala
Doa pertama yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dari Sahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW mengungkapkan rasa syukur dan harapan setelah seharian berpuasa. Lafaznya adalah:
ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
(Dzahabazh zhama’u wabtallatil ‘uruuqu, wa tsabatal ajru in syaa Allah)
Artinya: “Telah hilang dahaga, dan telah basah tenggorokan, dan telah ditetapkan pahala insya Allah.” (HR. Abu Daud no. 2010)
Doa ini secara lugas menggambarkan kondisi fisik setelah berpuasa—dahaga yang hilang dan tenggorokan yang kembali basah—sekaligus mengangkatnya ke dimensi spiritual dengan harapan akan pahala yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Ini adalah pengakuan atas nikmat Allah yang memungkinkan seorang hamba menyelesaikan puasanya dan optimisme terhadap ganjaran ilahi. Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya menghubungkan setiap tindakan fisik dengan kesadaran akan pahala dan kehendak Allah.
Doa Kedua: Dedikasi Puasa dan Syukur atas Rezeki
Doa kedua, juga diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dari Mu’adz bin Zahrah, adalah salah satu doa berbuka puasa yang paling populer dan sering diamalkan, terutama di masyarakat Indonesia. Bunyinya adalah:
اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ
(Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu)
Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.” (HR. Abu Daud no. 2011)
Doa ini menekankan dua aspek fundamental: dedikasi ibadah puasa hanya kepada Allah SWT (لَكَ صُمْتُ) dan pengakuan bahwa rezeki yang digunakan untuk berbuka berasal sepenuhnya dari-Nya (وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ). Ini adalah manifestasi ketundukan total seorang hamba kepada Penciptanya. Menariknya, di kalangan masyarakat, doa ini seringkali dilafalkan dengan tambahan. Penambahan ini tidak menjadi masalah dalam syariat Islam, karena doa adalah bentuk munajat yang luas dan tidak terbatas pada lafaz-lafaz tertentu selama maknanya baik dan tidak bertentangan dengan ajaran agama. Tambahan yang populer tersebut adalah:
اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْت بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
(Allahummalakasumtu wabika aamantu wa’alarizqika afthortu birohmatikaya ar-hamarrahimin)
Artinya:
















