Setiap tahun, ketika kalender Jawa menunjukkan pergantian ke bulan Ruwah, sebuah transformasi spiritual yang mendalam menyelimuti Kotagede, sebuah kawasan bersejarah di Yogyakarta. Bulan Ruwah, yang bertepatan dengan bulan Sya’ban dalam penanggalan Hijriah, secara tradisional dipandang sebagai periode krusial bagi masyarakat Jawa untuk melakukan persiapan batin sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Gang-gang sempit yang diapit oleh tembok bata merah tinggi, peninggalan arsitektur kuno, mulai dipenuhi oleh lautan peziarah yang datang dari berbagai penjuru Nusantara. Mereka berbondong-bondong datang untuk melaksanakan tradisi nyadran, sebuah ritual ziarah dan doa bersama yang bukan hanya sekadar kunjungan ke makam, melainkan sebuah upaya kolektif untuk membersihkan hati dan jiwa, memohon ampunan, serta memperkuat ikatan spiritual menjelang ibadah puasa.
Mbah Siswo, salah satu juru kunci Makam Raja-raja Kotagede yang telah mengabdikan diri selama puluhan tahun, mengamini fenomena ini. “Kalau sudah masuk bulan Ruwah, hampir setiap hari ramai peziarah,” ujarnya pada Ahad, 25 Januari 2016, menggambarkan intensitas kunjungan yang meningkat drastis. Menurutnya, lonjakan pengunjung mencapai puncaknya menjelang Ramadan, menciptakan suasana yang sangat dinamis namun tetap khidmat. Rombongan peziarah datang silih berganti, memenuhi area makam dari pagi hingga sore hari, mencerminkan betapa kuatnya tradisi ini berakar dalam kehidupan spiritual masyarakat Jawa. Ini bukan sekadar kunjungan wisata religi biasa; nyadran telah lama menjadi ritual sosioreligius yang kompleks, menjembatani penghormatan mendalam kepada para leluhur dengan upaya membersihkan batin secara pribadi dan komunal sebelum memasuki bulan suci yang penuh berkah.
Salah satu rombongan peziarah yang turut meramaikan suasana kala itu adalah dari Pondok Al-Ihsan Jampes, Kediri, Jawa Timur, yang dipimpin langsung oleh seorang kiai kharismatik. Setelah melangsungkan doa bersama yang khusyuk di area makam, rombongan tersebut meninggalkan kompleks dengan tertib, menunjukkan disiplin dan kesadaran spiritual yang tinggi. Mukhlis, salah seorang peziarah dari Kediri, menjelaskan esensi di balik perjalanan spiritual mereka. “Ziarah ini ikut kiai,” katanya, menandakan bahwa kunjungan mereka memiliki panduan dan tujuan yang jelas. Mukhlis menambahkan bahwa ziarah menjelang Ramadan ini menjadi sarana introspeksi yang sangat berharga. “Kami diajak mendoakan para pendahulu, para raja dan tokoh yang berjasa dalam perjuangan dan penyebaran Islam,” ujarnya, menegaskan bahwa fokus doa mereka adalah untuk mengirimkan pahala dan penghormatan kepada mereka yang telah berjasa. Ia juga menekankan prinsip tauhid yang kuat dalam praktik mereka: “Kami tidak meminta kepada yang dikubur. Doa kami hanya ditujukan kepada Allah. Di dalam makam kami bertahlil dan beristighatsah.” Pernyataan ini menegaskan bahwa aktivitas di dalam makam bukanlah bentuk pemujaan terhadap arwah, melainkan sebuah ritual untuk memperkuat keyakinan akan keesaan Allah, sekaligus mengingat dan meneladani jasa-jasa para pendahulu yang telah wafat.
Saksi Bisu Kejayaan Kerajaan Mataram Islam
Secara historis, Makam Raja-raja Kotagede jauh melampaui fungsi utamanya sebagai kompleks pemakaman. Situs ini merupakan sebuah monumen sejarah yang dibangun pada abad ke-16 dan tak terpisahkan dari narasi pendirian Kerajaan Mataram Islam, salah satu imperium terbesar di Jawa. Ia berdiri sebagai saksi bisu peralihan kekuasaan yang monumental dari Kerajaan Pajang menuju Mataram, menandai era baru dalam peradaban Jawa. Tokoh sentral yang dimakamkan di kompleks ini adalah Panembahan Senapati, atau yang juga dikenal dengan nama Danang Sutawijaya, pendiri sekaligus raja pertama Mataram Islam yang memimpin antara tahun 1584 hingga 1601. Keberadaannya di sini menegaskan Kotagede sebagai titik awal dan pusat legitimasi dinasti Mataram. Selain Panembahan Senapati, kompleks ini juga menjadi peristirahatan terakhir bagi tokoh-tokoh penting lainnya seperti Ki Ageng Pemanahan, sosok pelopor yang berjasa membuka Alas Mentaok yang menjadi cikal bakal Mataram, serta Panembahan Seda ing Krapyak. Sejumlah anggota keluarga inti dinasti Mataram Islam generasi awal juga turut dimakamkan di kawasan ini, menjadikan Kotagede sebagai episentrum legitimasi politik dan spiritual dinasti Mataram, sebelum akhirnya pusat kekuasaan bergeser ke Kerta, kemudian Plered, dan puncaknya ke Imogiri pada masa pemerintahan Sultan Agung.
Memasuki kompleks makam, peziarah akan disambut oleh sebuah gapura paduraksa yang megah, menampilkan corak arsitektur Hindu-Jawa yang khas dan sarat makna. Pintu gerbang gapura ini didesain dengan ketinggian yang rendah, secara sengaja memaksa setiap orang yang melintas untuk menundukkan kepala. Secara filosofis, desain ini bukanlah tanpa makna; ia melambangkan prinsip andhap asor, yaitu kerendahan hati dan sikap hormat yang mendalam di hadapan Tuhan Yang Maha Esa serta di hadapan para leluhur dan pendahulu yang dimuliakan. Arsitektur ini tidak hanya indah secara visual, tetapi juga berfungsi sebagai pengingat spiritual akan pentingnya tawadhu dan penghormatan dalam setiap langkah kehidupan.
Aturan Masuk Makam Kotagede: Tradisi dan Kepatuhan
Keunikan Makam Raja-raja Kotagede tidak berhenti pada aspek sejarah dan arsitekturnya. Salah satu tradisi yang paling mencolok adalah kewajiban bagi setiap peziarah yang hendak masuk ke cungkup utama untuk mengenakan pakaian adat Jawa lengkap. Bagi pria, busana yang wajib dikenakan adalah surjan lurik peranakan, dipadukan dengan jarik, dan blangkon sebagai penutup kepala. Sementara itu, kaum perempuan diwajibkan mengenakan kain jarik dan pakaian penutup bahu yang sopan. Aturan berpakaian ini dimaknai sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap otoritas spiritual dan keagungan para raja yang dimakamkan di sana, sekaligus menjaga kesakralan tempat tersebut. Pengelola makam telah menyediakan layanan sewa pakaian adat dengan tarif sekitar Rp50.000, memastikan bahwa tradisi luhur ini dapat diikuti oleh semua kalangan peziarah tanpa terkecuali.
Proses berganti pakaian ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah transisi psikologis yang mendalam. Dengan mengenakan busana adat, peziarah secara simbolis melepas identitas duniawi mereka, mempersiapkan diri untuk memasuki ruang spiritual yang penuh makna. Ini adalah momen untuk memfokuskan pikiran dan hati, meninggalkan hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari, dan sepenuhnya menyerap energi spiritual yang terpancar dari situs bersejarah ini. Sejarawan Yudah Prakoso memberikan perspektif yang menarik mengenai tradisi ziarah ini. Menurutnya, kunjungan ke makam para penguasa besar yang dahulu menggenggam kekuasaan mutlak, kini terbaring abadi di bawah tanah, menjadi pengingat yang kuat akan kefanaan hidup. “Di hadapan nisan para penguasa besar yang dahulu menggenggam kekuasaan, peziarah disadarkan bahwa semua manusia akan kembali ke tanah,” kata Yudah, menekankan universalitas kematian dan kesetaraan manusia di hadapan takdir. Kesadaran akan kematian itu, menurut Yudah, berfungsi sebagai sarana pembersihan batin yang esensial menjelang Ramadan. “Dengan mengingat akhir hayat, seseorang diharapkan menjalani puasa dengan hati yang lebih tulus, rendah hati, dan jauh dari sifat rakus,” tambahnya, mengaitkan ziarah dengan persiapan moral dan spiritual untuk ibadah puasa.
Di tengah gempuran arus modernisasi yang tak terhindarkan, Makam Raja-raja Kotagede tetap teguh berdiri sebagai jangkar sejarah dan spiritual yang tak tergoyahkan. Pada bulan Ruwah khususnya, situs ini bukan hanya menjadi tujuan ziarah semata, melainkan menjelma menjadi sebuah ‘ruang jeda’ yang vital. “Yaitu tempat manusia berhenti sejenak, menoleh ke belakang untuk menghargai akar sejarah yang membentuk identitas mereka, dan menatap ke dalam diri untuk menyiapkan perjalanan spiritual menuju Ramadan,” pungkas Yudah. Kotagede, dengan segala kekhidmatan dan tradisinya, terus menawarkan sebuah oase spiritual bagi mereka yang mencari makna, introspeksi, dan koneksi yang lebih dalam dengan warisan budaya serta keyakinan mereka.

















