Menjelang tibanya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, sebuah momen spiritual mendalam tengah dijalani oleh tokoh sentral politik Indonesia, Megawati Soekarnoputri. Presiden ke-5 Republik Indonesia dan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan ini, bersama rombongan keluarga intinya, tengah menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci, Makkah, Arab Saudi. Kunjungan yang sarat makna ini tidak hanya menjadi refleksi pribadi, tetapi juga menjadi momentum untuk memanjatkan doa-doa khusus bagi keutuhan dan kedamaian bangsa Indonesia. Keberangkatan Megawati bersama putra-putrinya, M Prananda Prabowo dan Puan Maharani, serta menantu dan kerabat dekat lainnya, menegaskan dimensi kekeluargaan dalam perjalanan spiritual ini. Turut serta dalam rombongan adalah tokoh-tokoh penting PDI Perjuangan, seperti Ketua DPP Bidang Luar Negeri Ahmad Basarah dan Duta Besar Indonesia untuk Tunisia yang juga Ketua DPP PDI-P Bidang Agama (nonaktif), Zuhairi Misrawi, yang turut memperkaya makna perjalanan ini dengan perspektif keagamaan dan diplomatik. Ibadah umrah ini, yang berlangsung pada Sabtu (14/2/2026), dipandang memiliki signifikansi lebih, mengingat kedekatannya dengan dimulainya ibadah puasa Ramadhan, periode yang identik dengan introspeksi dan peningkatan spiritual umat Muslim di seluruh dunia. Zuhairi Misrawi menjelaskan bahwa umrah kali ini memiliki makna yang sangat mendalam, bertepatan dengan masa transisi menuju bulan penuh berkah tersebut, menjadikannya sebagai persiapan spiritual yang matang. Selain doa-doa standar yang lazim dibaca dalam ibadah umrah, Megawati secara khusus memanjatkan permohonan kepada Sang Pencipta agar Indonesia senantiasa dijauhkan dari segala bentuk perpecahan dan perselisihan, serta senantiasa dilimpahi kerukunan dan persatuan. Doa ini mencakup harapan agar bangsa Indonesia tetap kuat dalam fondasi Pancasila sebagai pemersatu, mampu menyejahterakan seluruh rakyatnya, dan menjaga perdamaian di tengah dinamika global yang seringkali penuh ketegangan.

Perjalanan Spiritual dan Doa untuk Bangsa
Ibadah umrah yang dilaksanakan oleh Megawati Soekarnoputri dan keluarganya ini bukan sekadar ritual keagamaan biasa, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang sarat dengan harapan dan doa untuk Indonesia. Keberangkatan Megawati, yang didampingi oleh putranya, M Prananda Prabowo, beserta istrinya Nancy Prananda, dan putrinya yang menjabat sebagai Ketua DPR RI, Puan Maharani, menunjukkan adanya dimensi keluarga yang kuat dalam momen ini. Turut hadir pula dalam rombongan, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Luar Negeri, Ahmad Basarah, serta Duta Besar Indonesia untuk Tunisia yang juga merangkap sebagai Ketua DPP PDI-P Bidang Agama (nonaktif), Zuhairi Misrawi. Kehadiran tokoh-tokoh ini tidak hanya memperkaya dinamika rombongan, tetapi juga memberikan perspektif yang lebih luas terkait makna ibadah yang sedang dijalankan. Zuhairi Misrawi, yang akrab disapa Gus Mis, memberikan penekanan khusus mengenai makna spiritual umrah kali ini. Ia menjelaskan bahwa ibadah ini memiliki arti penting yang luar biasa karena dilaksanakan tepat menjelang dimulainya bulan suci Ramadhan, sebuah periode yang sangat dinanti oleh umat Muslim di seluruh dunia untuk meningkatkan ibadah dan refleksi diri. “Umrah kali ini sangat bermakna dan mempunyai arti penting dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan,” ujar Zuhairi dalam sebuah keterangan tertulis yang dikutip dari Kompas.com. Lebih lanjut, Zuhairi mengungkapkan bahwa dalam kesempatan yang sakral ini, Megawati tidak hanya memanjatkan doa-doa umum yang dianjurkan bagi setiap jemaah umrah, tetapi juga secara spesifik memanjatkan doa-doa khusus. Doa-doa ini ditujukan untuk mengenang dan mendoakan para pendahulu bangsa, termasuk Presiden pertama RI Soekarno, Fatmawati, Taufiq Kiemas, dan almarhum Surindro Supjarso, serta seluruh keluarga besar PDI Perjuangan. Tidak ketinggalan, doa-doa tersebut juga secara khusus ditujukan untuk kebaikan dan kemajuan bangsa Indonesia secara keseluruhan. “Ibu Megawati dan keluarga akan bermunajat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar diberi kekuatan dan kearifan dalam berjuang dan membangun negeri tercinta,” ungkap Zuhairi, menegaskan komitmen spiritual yang menyertai perjuangan politik.
Prosesi ibadah umrah Megawati dan rombongan diawali dengan pengambilan miqat di Masjid Tan’im, yang juga dikenal sebagai Masjid Aisyah. Lokasi ini memiliki jarak sekitar tujuh kilometer dari Masjidil Haram, menjadi titik awal spiritual sebelum memasuki area utama ibadah. Setelah mengambil miqat, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Royal Guest House, yang berfungsi sebagai pintu masuk ke kawasan Masjidil Haram, untuk menunaikan salat Ashar sebelum memulai rangkaian ibadah umrah yang sesungguhnya. Momen pengambilan miqat ini merupakan salah satu tahapan penting dalam ibadah umrah, yang menandai dimulainya keadaan ihram, di mana jemaah terlarang melakukan tindakan-tindakan tertentu yang dianggap melanggar kesucian. Pemilihan Masjid Tan’im sebagai lokasi miqat juga memiliki sejarah dan makna tersendiri dalam tradisi Islam. Dengan segala kekhusyukan dan kesungguhan, Megawati dan keluarganya memulai rangkaian ibadah, yang puncaknya adalah doa-doa yang dipanjatkan di tempat-tempat mustajab, termasuk di dalam Masjidil Haram itu sendiri. Keseluruhan rangkaian ini mencerminkan sebuah upaya yang komprehensif dalam menjalankan ibadah umrah, tidak hanya dari segi ritual, tetapi juga dari segi niat dan tujuan spiritual yang mendalam.
Doa untuk Persatuan dan Kedamaian Bangsa
Di tengah keagungan Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, pada Sabtu (14/2/2026), Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, memanjatkan doa-doa yang tulus untuk persatuan, kedamaian, dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Ibadah umrah yang dilaksanakan bersama keluarga tercinta ini dilakukan tepat menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, sebuah momen yang sangat tepat untuk melakukan introspeksi diri dan memohon keberkahan. Setiap putaran tawaf yang dilakukan Megawati di sekitar Ka’bah, selain diisi dengan bacaan doa-doa lazim yang diajarkan dalam syariat Islam, juga diwarnai dengan penyampaian doa-doa khusus yang ditujukan untuk Indonesia. Fokus utama dari doa-doa tersebut adalah agar Indonesia senantiasa terjaga kerukunannya, terhindar dari segala bentuk perpecahan, dan senantiasa bersatu padu dalam keberagaman. Ibadah umrah ini dipimpin oleh seorang pemuka agama terkemuka, Ustaz Muhammad Hafidz Makmun, yang membimbing rombongan dalam setiap tahapan ritual. Sementara itu, Duta Besar RI untuk Tunisia yang juga merupakan Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Agama (nonaktif), Zuhairi Misrawi, mengambil peran penting dalam memimpin doa bagi seluruh rombongan. Dalam munajatnya, Gus Mis—sapaan akrab Zuhairi—memohon kepada Allah SWT agar senantiasa meridai jalan demokrasi yang telah dipilih oleh Indonesia. Ia juga berharap agar jalan tersebut dapat membawa kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Permohonan ini mencakup harapan agar bangsa Indonesia selalu dianugerahi kebijaksanaan dalam setiap langkahnya dan kemuliaan dalam setiap pencapaiannya. “Sejahterakanlah rakyat kami, bahagiakan kami, satukan terus kami di bawah Pancasila, yang di bawahnya kami bertekad untuk terus bersatu meski kami berbeda-beda,” ujar Gus Mis, yang kemudian diamini oleh Megawati dan seluruh anggota rombongan yang hadir, seperti yang dilaporkan oleh Kompas.com. Doa ini secara implisit menekankan pentingnya Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa yang mampu merangkul keragaman suku, agama, ras, dan golongan di Indonesia. Selain itu, rombongan juga memohon agar Indonesia, dengan segala kekayaan sumber daya alamnya, mampu menghadirkan kemakmuran yang sejati bagi seluruh rakyatnya. Harapan agar Pancasila terus menjadi perekat bangsa di tengah keberagaman yang ada menjadi salah satu poin penting dalam doa tersebut. Lebih lanjut, doa juga dipanjatkan agar Indonesia senantiasa dijauhkan dari segala bentuk provokasi, adu domba, dan perpecahan yang dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Pertahankan kesatuan negeri kami, terus persatukan kami dalam persaudaraan, jauhkan kami dari perpecahan dan adu domba,” demikian ungkapan doa yang dipanjatkan. Megawati dan keluarganya juga tidak lupa mendoakan agar Indonesia senantiasa dilimpahi rezeki yang berkah dan mampu menjaga perdamaian, baik di tingkat domestik maupun di kancah internasional, terutama di tengah situasi global yang kerap diwarnai oleh berbagai konflik dan ketidakpastian. Dalam kesempatan yang istimewa ini, Megawati hadir sebagai tamu kehormatan Kerajaan Arab Saudi. Atas permintaan khusus dari pihak kerajaan, ia diberikan kenyamanan ekstra dengan melaksanakan tawaf dan sa’i di lantai dua Masjidil Haram. Kebijakan ini diambil demi memastikan kenyamanan dan kekhusyukan beribadah bagi Megawati dan rombongan, mengingat kepadatan jemaah yang luar biasa menjelang bulan Ramadhan. Fasilitas tambahan ini memungkinkan mereka untuk menjalankan ibadah dengan lebih tenang dan fokus, terlepas dari keramaian yang ada di lantai dasar.
Perjalanan spiritual Megawati Soekarnoputri ke Tanah Suci menjelang Ramadhan ini bukan hanya sekadar pemenuhan kewajiban agama, tetapi juga merupakan cerminan dari tanggung jawab moral dan spiritual seorang pemimpin bangsa. Doa-doa yang dipanjatkan di tempat-tempat yang sangat diyakini mustajab tersebut, mencerminkan harapan mendalam agar Indonesia terus tumbuh sebagai negara yang bersatu, damai, dan sejahtera. Penekanan pada persatuan di tengah keberagaman, serta permohonan agar dijauhkan dari perpecahan, adalah pesan kuat yang dibawa dari Tanah Suci. Hal ini menunjukkan kesadaran akan pentingnya menjaga keharmonisan sosial dan politik demi kemajuan bangsa. Keberadaan tokoh-tokoh penting PDI Perjuangan dalam rombongan juga menegaskan bahwa perjalanan ini memiliki dimensi kolektif, di mana aspirasi dan harapan untuk Indonesia dirangkum dalam satu doa bersama. Upaya untuk menjaga kedamaian dan persatuan bangsa adalah tugas berkelanjutan yang memerlukan dukungan dari seluruh elemen masyarakat, dan doa yang dipanjatkan oleh Megawati beserta rombongan menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai luhur tersebut.

















