Perayaan liturgi pada Minggu, 15 Februari 2026, menandai Hari Minggu Biasa VI dalam kalender Gereja Katolik, sebuah momen yang sarat makna mendalam bagi para umat. Misa sore yang disiapkan secara khusus ini, dengan nuansa warna liturgi hijau yang melambangkan harapan dan pertumbuhan iman, bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah undangan untuk merenungkan kembali esensi ajaran Kristus. Diciptakan oleh P. Petrus Cristologus Dhogo, SVD, teks misa ini dirancang untuk membimbing umat dalam memahami panggilan hidup kudus, menginternalisasi hikmat ilahi yang melampaui pemahaman duniawi, dan mengaplikasikan ajaran Yesus dalam kehidupan sehari-hari. Persiapan yang matang, mulai dari penataan altar hingga penonaktifan perangkat komunikasi, menciptakan atmosfer kekhusukan yang mendalam, mempersiapkan hati dan pikiran setiap jemaat untuk menerima Sabda Tuhan.
Persiapan Spiritual dan Liturgis
Sebelum misa dimulai, para petugas liturgi berkumpul di sakristi, memastikan setiap elemen persiapan berjalan lancar. Kehadiran lilin bernyala yang mengapit salib di meja perayaan bukan hanya simbol pencahayaan spiritual, tetapi juga pengingat akan kehadiran Kristus yang menerangi jalan umat. Ketersediaan Alkitab dan buku nyanyian menjadi panduan utama dalam mendalami bacaan dan menghayati pujian. Instruksi untuk mematikan alat komunikasi seluler menegaskan komitmen untuk fokus sepenuhnya pada momen sakral ini, menjauhkan diri dari distraksi duniawi. Pembukaan misa diawali dengan sapaan khas, “Penolong kita ialah Tuhan,” yang dijawab dengan penuh keyakinan, “Yang menjadikan langit dan bumi,” sebuah pengakuan akan kedaulatan dan kuasa Sang Pencipta. Tanda Salib dan Salam pembuka, “Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin. Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus beserta kita. Sekarang dan selama-lamanya,” menjadi gerbang awal menuju perayaan, menyatukan seluruh jemaat dalam iman dan kasih.
Kata pembuka yang disampaikan oleh Pemimpin liturgi memberikan konteks mendalam mengenai tema Minggu Biasa VI. Ajakan untuk hidup suci ditekankan melalui kutipan dari Kitab Sirakh, “Tuhan tidak menyuruh orang menjadi fasik, dan tidak memberi izin kepada siapa pun untuk berdosa.” Ini diperkuat dengan renungan tentang hikmat Allah yang diwartakan oleh Rasul Paulus, yang berbeda dari hikmat manusia dan telah disediakan bagi kemuliaan orang yang mengasihi-Nya. Penekanan pada Injil Matius, yang melanjutkan ajaran Yesus di Bukit, mengingatkan bahwa inti Hukum Taurat bermuara pada hati yang tertuju kepada Tuhan. Ajakan untuk membuka hati menjadi kunci agar umat dapat memuji Tuhan dengan sepenuh hati, sebuah persiapan esensial sebelum memasuki inti perayaan.
Ritus Tobat dan Permohonan Ampun
Bagian penting dalam setiap perayaan liturgi adalah ritus tobat dan permohonan ampun. Pemimpin mengajak umat untuk mengakui dosa-dosa mereka, baik yang disengaja maupun yang tidak, melalui doa pengakuan iman, “Saya mengaku kepada Allah yang Mahakuasa, dan kepada saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa, dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa.” Doa ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah introspeksi mendalam untuk membersihkan diri sebelum menerima Sabda Tuhan. Permohonan agar Santa Perawan Maria, para malaikat, orang kudus, dan seluruh saudara seiman mendoakan pengampunan dosa menegaskan sifat komunal dari Gereja. Pernyataan penutup, “Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup yang kekal. Amin,” menjadi jaminan belas kasih ilahi yang membuka jalan bagi umat untuk berpartisipasi lebih penuh dalam perayaan.
Selanjutnya, Madah Kemuliaan dinyanyikan, sebuah pujian yang mengagungkan kebesaran Allah di surga dan damai di bumi bagi orang yang berkenan pada-Nya. Lirik-liriknya, mulai dari pujian kepada Allah Bapa yang Mahakuasa, Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah, hingga permohonan belas kasih dan pengabulan doa, mencerminkan kerendahan hati dan pengakuan akan keilahian-Nya. Doa Pembuka, yang dipimpin oleh Pemimpin, memohon kepada Allah Bapa agar menjauhkan umat dari dosa dan memberikan keberanian untuk menanggapi panggilan-Nya, serta menempuh jalan yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus. Doa ini menjadi fondasi spiritual sebelum umat diajak untuk mendengarkan Sabda Tuhan.
Pembacaan Sabda Tuhan merupakan inti dari ibadah ini, diawali dengan ajakan untuk membuka hati dan menerima Sabda sebagai pelita iman dan tongkat penuntun hidup. Bacaan Pertama dari Kitab Sirakh (15:15-20) secara tegas menyatakan bahwa Tuhan menempatkan pilihan hidup dan mati di hadapan manusia, dan kebijaksanaan-Nya yang besar memastikan bahwa manusia tidak pernah diperintahkan untuk berbuat fasik. Mazmur Tanggapan (Mzm. 119:1b) menggemakan kebenaran dan kebebasan yang berasal dari Sabda Tuhan, menegaskan kebahagiaan orang yang hidup sesuai dengan hukum-Nya. Bacaan Kedua dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus (1 Kor. 2:6-19) mengungkapkan hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang tidak dapat dipahami oleh penguasa dunia, namun dinyatakan oleh Roh Kudus kepada orang yang mengasihi-Nya.
Bagian Injil (Mat. 5:17-37) menyajikan ajaran Yesus yang melanjutkan dan menggenapi Hukum Taurat, bukan meniadakannya. Yesus menekankan bahwa kebenaran hidup keagamaan harus melampaui kepatuhan lahiriah, merambah hingga ke dalam hati. Ajaran-Nya tentang larangan membunuh diperluas hingga larangan marah, dan larangan berzinah hingga larangan memandang perempuan dengan nafsu. Penekanan pada kejujuran verbal (“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak”) dan pentingnya berdamai dengan sesama sebelum mempersembahkan korban, menunjukkan bahwa hubungan vertikal dengan Tuhan tidak dapat dipisahkan dari hubungan horizontal dengan sesama. Renungan Harian Katolik yang menyertainya menggarisbawahi pentingnya kesesuaian antara ibadah dan kehidupan sehari-hari, serta kejujuran hidup sebagai fondasi kepercayaan dan kedamaian batin. Doa Umat kemudian memanjatkan permohonan bagi para pemimpin Gereja, masyarakat, kaum muda, dan seluruh jemaat, memohon bimbingan Tuhan dalam menghadapi tantangan zaman dan hidup sesuai kehendak-Nya. Ritus Kolekte, Doa Pujian, dan Ritus Komuni (baik dengan komuni maupun komuni batin) melengkapi perayaan ini, diakhiri dengan Amanat Pengutusan, Doa Penutup, dan Berkat Tuhan, yang mengutus umat untuk menjadi saksi Kristus di dunia.

















