Palembang, kota yang kaya akan sejarah dan peradaban Islam, tengah mempersiapkan diri untuk menyambut sebuah perhelatan akbar yang digadang-gadang akan mencatat sejarah baru dalam kalender wisata religi Nusantara, bahkan Asia Tenggara. Ziarah Kubro 2026, sebuah tradisi sakral yang telah mengakar kuat, kini bertransformasi menjadi magnet spiritual berskala internasional. Dengan target ambisius 30.000 jamaah dari berbagai penjuru, termasuk ulama nasional dan internasional, yang akan membanjiri kota ini selama tiga hari penuh pada 6-8 Februari 2026 (bertepatan dengan 18-20 Sya’ban 1447 H), Pemerintah Kota Palembang bersama seluruh pemangku kepentingan sedang bekerja keras memastikan kesiapan infrastruktur dan layanan untuk menjamin kenyamanan serta keamanan para peziarah. Perhelatan ini bukan hanya sekadar ritual keagamaan, melainkan sebuah manifestasi besar yang akan mengukuhkan posisi Palembang di peta destinasi wisata religi dunia, sekaligus menggerakkan roda ekonomi lokal secara signifikan.
Persiapan Infrastruktur dan Keamanan Menuju Ziarah Kubro 2026
Untuk menyukseskan gelaran Ziarah Kubro 2026 yang diperkirakan akan menarik puluhan ribu jamaah, Pemerintah Kota Palembang telah mengambil langkah-langkah proaktif dalam mempersiapkan infrastruktur dan menjamin keamanan. Kesiapan ini menjadi krusial mengingat skala acara yang masif, yang tidak hanya melibatkan peziarah domestik, tetapi juga tamu-tamu kehormatan dari mancanegara. Koordinasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam memastikan setiap detail terencana dengan matang.
Polrestabes Palembang, sebagai garda terdepan keamanan, akan menyiagakan personel dalam jumlah besar di seluruh titik kegiatan. Ini mencakup tidak hanya lokasi-lokasi utama ziarah seperti kompleks makam dan masjid bersejarah, tetapi juga rute-rute perjalanan, area penginapan, hingga pintu-pintu masuk kota. Pengamanan berlapis ini bertujuan untuk menciptakan rasa aman dan nyaman bagi seluruh peziarah, mencegah potensi gangguan keamanan, serta memastikan kelancaran arus manusia. Selain itu, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) akan turut berperan aktif dalam menjaga ketertiban umum, menertibkan pedagang kaki lima di sekitar lokasi acara, serta memastikan kebersihan lingkungan demi kenyamanan bersama.
Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palembang menghadapi tantangan besar dalam mengelola lonjakan kendaraan dan mobilitas jamaah. Mereka telah merancang rekayasa lalu lintas yang komprehensif, termasuk penerapan sistem satu arah di beberapa ruas jalan, pengalihan arus, serta penyediaan jalur khusus untuk bus dan kendaraan rombongan peziarah. Manajemen parkir juga menjadi prioritas, dengan penyiapan area parkir yang luas dan terorganisir di dekat lokasi-lokasi ziarah, lengkap dengan fasilitas shuttle bus untuk mengangkut jamaah ke titik-titik tujuan. Ini semua dirancang untuk meminimalkan kemacetan dan memastikan aksesibilitas yang lancar bagi semua peserta.
Tidak kalah penting, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) telah melakukan perbaikan signifikan pada drainase dan akses jalan menuju lokasi-lokasi utama ziarah. Perbaikan drainase bertujuan untuk mencegah genangan air yang dapat mengganggu kenyamanan, terutama jika terjadi hujan. Sementara itu, perbaikan akses jalan memastikan bahwa jalur yang dilalui jamaah, baik dengan kendaraan maupun berjalan kaki, berada dalam kondisi optimal, bebas dari lubang atau kerusakan yang dapat membahayakan. “Pengamanan akan disiagakan di setiap lokasi ziarah. Kami ingin para peziarah merasa aman dan nyaman, sehingga Palembang benar-benar siap menjadi tuan rumah wisata religi berskala besar,” tegas Afrizal, mewakili komitmen pemerintah daerah untuk menyukseskan acara ini dan mengukuhkan Palembang sebagai destinasi spiritual terkemuka.
Ziarah Kubro: Perpaduan Spiritual, Sejarah, dan Budaya Palembang Darussalam
Ziarah Kubro 2026 dirancang sebagai sebuah perjalanan spiritual yang mendalam, sekaligus ekspedisi sejarah yang mengungkap jejak peradaban Islam di Palembang. Rute ziarah selama tiga hari telah disusun secara cermat untuk mempertemukan spiritualitas, sejarah, dan kekayaan budaya Palembang yang tak ternilai. Ini bukan sekadar mengunjungi makam, melainkan menapaki kembali jejak para ulama dan auliya yang telah berjasa besar dalam menyebarkan syiar Islam sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam.
Pada hari pertama, Jumat, 6 Februari 2026, rangkaian kegiatan akan dimulai dengan kunjungan ke Masjid Darul Muttaqien dan Pondok Pesantren Ar Riyadh. Masjid Darul Muttaqien, sebagai salah satu masjid tua di Palembang, memiliki nilai sejarah dan spiritual yang tinggi, seringkali menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat setempat. Sementara itu, Pondok Pesantren Ar Riyadh adalah lembaga pendidikan Islam yang telah melahirkan banyak ulama dan cendekiawan, merepresentasikan tradisi keilmuan Islam yang kuat di Palembang. Kunjungan akan dilanjutkan ke area 13 Ulu, sebuah kawasan yang dikenal memiliki makam-makam para tokoh agama dan bangsawan Palembang masa lalu, menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kota.
Hari kedua, Sabtu, 7 Februari 2026, fokus ziarah akan beralih ke Kawasan 12–16 Ulu, yang merupakan bagian integral dari pemukiman tua di tepian Sungai Musi. Puncak kegiatan hari kedua adalah di Kampung Arab Al Munawar. Kampung ini adalah permata sejarah Palembang, dihuni oleh keturunan Arab Hadrami yang telah berabad-abad menetap dan berperan penting dalam penyebaran Islam serta perdagangan. Di sini, jamaah dapat merasakan atmosfer Palembang tempo dulu dengan arsitektur rumah-rumah tradisional yang unik, berinteraksi dengan masyarakat lokal, dan mengunjungi makam-makam leluhur yang dihormati, menjadikan pengalaman ziarah semakin kaya akan nuansa budaya dan historis.
Rangkaian ziarah akan diakhiri pada Ahad, 8 Februari 2026, dengan kunjungan ke Sei Bayas dan area 8 Ilir, yang juga menyimpan jejak sejarah Palembang. Bagian paling menarik dari hari terakhir adalah pengalaman Wisata Bahari Sungai Musi, yang akan membawa jamaah menyusuri ikon peradaban Palembang, Sungai Musi, hingga ke Benteng Kuto Besak (BKB). Dari atas perahu, para peziarah dapat menyaksikan keindahan kota dari perspektif yang berbeda, sekaligus merenungi peran sentral Sungai Musi sebagai urat nadi perdagangan, transportasi, dan penyebaran Islam di masa lalu. Ziarah akan ditutup dengan mengunjungi Makam Kyai Muara Ogan, seorang ulama kharismatik yang memiliki pengaruh besar di wilayah tersebut. Rute yang terencana ini menjadikan Ziarah Kubro tidak hanya sebagai ibadah, tetapi juga sebagai perjalanan wisata religi yang mempertemukan spiritualitas, sejarah, dan budaya Palembang yang otentik.
Mengukuhkan Palembang sebagai Destinasi Wisata Religi Dunia

















