Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah yang diprediksi jatuh pada pertengahan Februari 2026, umat Muslim di seluruh pelosok Indonesia mulai meningkatkan kesiapan spiritual dan fisik guna menyambut momentum paling mulia dalam kalender Islam tersebut. Berdasarkan perhitungan astronomis dan kalender penanggalan hijriah, bulan penuh ampunan ini diperkirakan akan menyapa dalam hitungan hari, memicu gelombang persiapan di berbagai lapisan masyarakat untuk memaksimalkan ibadah puasa wajib. Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia dijadwalkan akan melaksanakan Sidang Isbat pada tanggal 17 Februari 2026 untuk menentukan awal Ramadan secara legal-formal melalui integrasi metode hisab dan rukyatul hilal yang tersebar di 37 titik pemantauan strategis di seluruh nusantara. Sementara itu, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah jauh hari menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, disusul oleh Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) yang juga bersiap melakukan observasi lapangan guna memastikan keselarasan hilal, sehingga pemahaman mendalam mengenai amalan persiapan menjadi krusial agar ibadah tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan yang hampa makna.
Eksistensi bulan Ramadan dalam dimensi teologis Islam bukan sekadar periode menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah “Madrasah Ruhaniyah” atau sekolah spiritual yang dirancang untuk mentransformasi karakter seorang mukmin. Di bulan ini, pintu-pintu surga dibuka lebar, pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan dibelenggu, menciptakan atmosfer yang sangat kondusif untuk pembersihan jiwa. Sebagaimana ditegaskan dalam berbagai literatur klasik, kemuliaan Ramadan juga bersumber dari peristiwa Nuzulul Quran, yakni turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW sebagai kompas kehidupan umat manusia. Oleh karena itu, persiapan yang matang menjadi syarat mutlak agar setiap detik di bulan tersebut dapat dikonversi menjadi pahala yang berlipat ganda. Para ulama menekankan bahwa keberhasilan seseorang dalam meraih derajat takwa di akhir Ramadan sangat ditentukan oleh sejauh mana ia mempersiapkan diri sejak bulan Rajab dan Syaban, termasuk dalam melunasi utang puasa tahun lalu (Qadha) serta memperbanyak istighfar guna menyucikan batin dari noda-noda kemaksiatan yang menumpuk.
Lima Amalan Strategis Menuju Ramadan Menurut Ustadz Abdul Somad
Dalam sebuah ceramah mendalam yang pernah disampaikan di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, dai kondang Ustadz Abdul Somad (UAS) menggarisbawahi lima pilar utama yang harus ditegakkan oleh setiap Muslim sebelum memasuki gerbang Ramadan 2026. Amalan pertama dan yang paling fundamental adalah melaksanakan Taubatan Nasuha atau taubat yang semurni-murninya. UAS menjelaskan bahwa dosa adalah beban yang menghambat kelincahan jiwa dalam beribadah; maka, sebelum Ramadan tiba, beban tersebut harus dilepaskan melalui pengakuan dosa, penyesalan yang mendalam, dan komitmen untuk tidak mengulangi kesalahan. Secara teknis, UAS menyarankan pelaksanaan Shalat Sunnah Taubat dua rakaat yang diikuti dengan memperbanyak istighfar. Manfaat istighfar ini tidak hanya terbatas pada penghapusan dosa, tetapi juga sebagai kunci pembuka pintu rezeki dan solusi atas segala kesempitan hidup, sebagaimana janji Rasulullah SAW bahwa Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kegalauan bagi mereka yang melazimkan istighfar.
Pilar kedua yang tidak kalah penting adalah memperbaiki hubungan antarmanusia atau Hablum Minannas. Islam mengajarkan bahwa dosa kepada Allah bisa diampuni dengan taubat, namun dosa kepada sesama manusia tidak akan terhapus sebelum adanya pemberian maaf secara langsung. Menjelang Ramadan 2026, umat Muslim dianjurkan untuk mendatangi kerabat, tetangga, dan rekan kerja guna menyambung silaturahmi dan saling memaafkan. UAS mengutip hadis yang menyatakan bahwa dua orang Muslim yang bertemu lalu berjabat tangan dengan tulus, maka dosa-dosa di antara keduanya akan berguguran sebelum mereka berpisah. Hal ini krusial agar saat memasuki bulan puasa, hati sudah dalam keadaan bersih (qolbun salim), tanpa ada ganjalan kebencian atau dendam yang dapat merusak kualitas pahala puasa itu sendiri.
Selanjutnya, poin ketiga adalah penguatan Literasi Ilmu Ramadan. Melaksanakan ibadah tanpa landasan ilmu dikhawatirkan akan berakhir sia-sia atau tidak sesuai dengan tuntunan syariat. UAS menekankan pentingnya memahami fiqih puasa, mulai dari syarat sah, rukun, hal-hal yang membatalkan, hingga perkara yang makruh dilakukan saat berpuasa. Beliau mengibaratkan persiapan ini seperti perintah Allah dalam QS. Muhammad ayat 19 yang memerintahkan manusia untuk “berilmu” terlebih dahulu sebelum bersyahadat. Dengan membekali diri dengan ilmu, Ramadan tidak lagi dianggap sebagai rutinitas musiman, melainkan sebuah proses peningkatan kapasitas diri. Targetnya jelas: mereka yang sebelumnya belum lancar membaca Al-Qur’an menjadi mahir, dan mereka yang jarang ke masjid menjadi istiqamah berjamaah, semua itu hanya bisa dicapai jika didasari oleh pemahaman ilmu yang mumpuni.
Optimalisasi Interaksi dengan Al-Qur’an dan Kedermawanan Sosial
Amalan keempat yang menjadi identitas utama bulan suci adalah mempererat kedekatan dengan Al-Qur’an. Mengingat Ramadan adalah “Syahrul Qur’an” (Bulan Al-Qur’an), maka persiapan yang harus dilakukan sekarang adalah mulai membiasakan diri membaca, mentadabburi, dan menghafalkan ayat-ayat suci. UAS merinci betapa besarnya investasi pahala dalam membaca Al-Qur’an; setiap satu huruf yang dibaca akan diganjar dengan sepuluh kebaikan. Beliau memberikan ilustrasi bahwa lafaz “Alif Lam Mim” bukanlah satu huruf, melainkan tiga huruf yang berarti tiga puluh kebaikan telah diraih. Bagi mereka yang masih terbata-bata dalam membaca, masa menjelang Ramadan 2026 ini adalah waktu emas untuk mencari guru mengaji dan mempersiapkan mushaf terbaik agar saat bulan puasa tiba, target khatam Al-Qur’an dapat tercapai dengan lebih terorganisir.
Amalan kelima dalam daftar UAS adalah Persiapan Sedekah secara finansial. Ramadan adalah momentum di mana kedermawanan Rasulullah SAW digambarkan melampaui kecepatan angin yang berhembus. Oleh karena itu, umat Muslim diimbau untuk mulai menyisihkan sebagian rezeki mereka sejak saat ini. Dana yang dikumpulkan tersebut nantinya akan dialokasikan untuk memberi makan orang yang berbuka puasa (ifthar), menyantuni anak yatim, serta membantu fakir miskin. Sedekah di bulan Ramadan memiliki nilai strategis karena selain melipatgandakan pahala, ia juga berfungsi sebagai pembersih harta dan penolong di hadapan Allah SWT di hari akhir kelak. Dengan persiapan dana sedekah yang matang, seorang Muslim tidak akan merasa terbebani saat harus berbagi di tengah kebutuhan hidup yang mungkin meningkat menjelang Idul Fitri.
Kekuatan Doa Penjemput Keberkahan: Tuntunan Ustadz Adi Hidayat
Melengkapi persiapan amaliah tersebut, aspek spiritualitas juga harus diperkuat dengan doa-doa khusus yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Ustadz Adi Hidayat (UAH), dalam berbagai kajian literatur hadisnya, menyoroti pentingnya menghafalkan doa menjelang masuknya awal Ramadan agar setiap individu diberikan kesehatan, kekuatan fisik, serta keamanan iman. Menurut UAH, terdapat banyak redaksi doa yang beredar di tengah masyarakat, namun yang paling otentik dan memiliki redaksi paling lengkap adalah doa yang bersumber dari Hadis Riwayat Imam At-Tirmidzi nomor 3.451. Doa ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah permohonan komprehensif agar transisi menuju bulan suci membawa stabilitas spiritual dan keselamatan dari segala marabahaya yang dapat menghalangi ibadah.
Adapun redaksi doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca saat melihat hilal atau menjelang masuknya 1 Ramadan 1447 H adalah sebagai berikut:
اللهم أهله علينا باليمن والإيمان والسلامة والإسلام ربي وربك الله
“Allahumma ahillahu ‘alainaa bil yumni wal Imani wassalamati wal islami Rabbi wa Rabbukallahu.”
Makna mendalam dari doa tersebut adalah: “Ya Allah, mohon hadirkan awal Ramadan kepada kami dengan penuh ketentraman, dan dengan penuh kekuatan iman, sehat dan selamat, dan dengan kekuatan Islam. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” Ustadz Adi Hidayat menekankan bahwa kata “Al-Yumni” dalam doa tersebut mencakup makna keberkahan dan ketenangan jiwa, sementara “Al-Iman” memohon agar keyakinan tetap kokoh di tengah godaan. Dengan memanjatkan doa ini secara tulus, diharapkan setiap Muslim dapat menjalani ibadah puasa tahun 2026 dengan kondisi prima, baik secara lahiriah maupun batiniah, sehingga tujuan akhir menjadi hamba yang bertaqwa (la’allakum tattaqun) dapat terealisasi secara sempurna.
| Jenis Persiapan | Amalan Utama | Target Capaian |
|---|---|---|
| Spiritual (Batin) | Taubat Nasuha & Istighfar | Hati yang bersih dan suci |
| Sosial (Sesama) | Saling Memaafkan & Silaturahmi | Nol konflik dengan sesama |
| Intelektual (Akal) | Belajar Fiqih Ramadan | Ibadah sesuai Sunnah |
| Finansial (Harta) | Menabung untuk Sedekah | Membantu kaum dhuafa |
| Fisik (Raga) | Menjaga Kesehatan & Puasa Sunnah | Kekuatan menjalani puasa 30 hari |
Sebagai penutup, menyambut Ramadan 2026 memerlukan sinergi antara niat yang ikhlas dan ikhtiar yang nyata. Dengan mengikuti panduan amalan dari para ulama seperti Ustadz Abdul Somad dan Ustadz Adi Hidayat, diharapkan umat Muslim di Indonesia tidak hanya sekadar melewati bulan suci sebagai pergantian kalender, tetapi menjadikannya sebagai batu loncatan untuk perubahan hidup yang lebih religius dan humanis. Persiapan yang dilakukan sejak dini adalah bukti kecintaan seorang hamba terhadap tamu agung yang membawa ribuan kemuliaan, yakni bulan suci Ramadan.

















