Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah yang jatuh pada tahun 2026, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia secara resmi menginisiasi gerakan syiar masif bertajuk “Tarhib Ramadan” guna memperkuat fondasi filantropi Islam di tengah masyarakat urban. Acara yang dipusatkan di kawasan strategis Terowongan Kendal, Sudirman, Jakarta Pusat, pada Selasa (10/2/2026) ini, mengusung tema besar “Zakat Menguatkan Indonesia” sebagai respons nyata terhadap dinamika sosial-ekonomi nasional. Melalui perhelatan ini, BAZNAS berupaya mengintegrasikan nilai-nilai spiritualitas Ramadan dengan aksi nyata dalam bentuk pengumpulan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang dioptimalkan sebagai instrumen pengentasan kemiskinan dan penguatan solidaritas sosial di seluruh pelosok negeri.
Pemilihan Terowongan Kendal sebagai lokasi utama bukan tanpa alasan strategis. Sebagai salah satu titik temu transportasi publik paling sibuk di ibu kota yang menghubungkan berbagai moda seperti MRT, KRL Commuter Line, hingga TransJakarta, lokasi ini menjadi panggung ideal untuk menyasar audiens heterogen, terutama generasi muda dan kaum profesional. BAZNAS menyadari bahwa literasi zakat harus dibawa langsung ke ruang publik agar tidak lagi dianggap sebagai kewajiban yang kaku, melainkan gaya hidup berbagi yang inklusif. Dengan mobilitas masyarakat yang sangat tinggi di kawasan Sudirman, pesan-pesan mengenai pentingnya zakat diharapkan dapat terinternalisasi dengan lebih cepat dan luas, menciptakan efek bola salju dalam kesadaran berdonasi menjelang bulan puasa.
Transformasi Literasi Zakat Melalui Pendekatan Kreatif dan Inklusif
Dalam upaya menarik minat masyarakat luas, Tarhib Ramadan 2026 dikemas dengan beragam kegiatan yang memadukan aspek kemanusiaan, seni, dan gaya hidup modern. Salah satu daya tarik utama adalah kehadiran konter layanan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) yang memudahkan pejalan kaki untuk berkonsultasi maupun menunaikan kewajiban finansial mereka secara langsung di lokasi. Tidak hanya itu, BAZNAS juga menghadirkan demo kopi melalui unit usaha pemberdayaan mereka, ZCoffee. Program ini bukan sekadar menyajikan minuman berkualitas, tetapi juga menjadi bukti nyata bagaimana dana zakat dikelola secara produktif untuk menciptakan lapangan kerja dan kemandirian ekonomi bagi para mustahik (penerima zakat) yang telah dibina menjadi barista profesional.
Sisi artistik dan edukatif juga ditonjolkan melalui aksi live mural bertema “Zakat Menguatkan Indonesia”. Para seniman visual mentransformasi dinding-dinding ruang publik menjadi narasi visual yang menggambarkan bagaimana aliran dana zakat mampu membangun jembatan kesejahteraan bagi mereka yang kurang beruntung. Selain itu, terdapat panggung pertunjukan yang menampilkan musisi lokal serta seni tradisional Tari Topeng Jakarta, yang bertujuan untuk melestarikan budaya lokal sekaligus menyisipkan pesan-pesan kebajikan. Bagi masyarakat yang membutuhkan, BAZNAS juga menyediakan layanan kesehatan gratis sebagai bentuk implementasi langsung dari dana zakat di sektor kesehatan, memastikan bahwa kehadiran lembaga ini dirasakan manfaatnya secara konkret oleh warga di sekitar lokasi acara.
Visi Strategis: Zakat Sebagai Pilar Ketahanan Nasional
Pimpinan BAZNAS RI Bidang Pengumpulan, Rizaludin Kurniawan, dalam keterangannya menegaskan bahwa Ramadan 1447 H harus dimaknai lebih dari sekadar ritual ibadah personal. Menurutnya, zakat memiliki dimensi sosial yang sangat kuat untuk mengintervensi berbagai persoalan bangsa, mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, hingga pemulihan ekonomi pascabencana. Rizaludin menekankan bahwa melalui momentum Tarhib ini, BAZNAS ingin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin, di mana kesiapan batin diwujudkan dengan peningkatan ketaqwaan, sementara kesiapan lahir diwujudkan melalui komitmen untuk berbagi kepada sesama melalui lembaga resmi.
Direktur Layanan, Promosi, dan Data Optimasi BAZNAS sekaligus Ketua Panitia Ramadan 2026, Rulli Kurniawan, menambahkan bahwa tema “Zakat Menguatkan Indonesia” dipilih berdasarkan refleksi atas berbagai tantangan dan musibah yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. Zakat diposisikan sebagai jaring pengaman sosial yang paling efektif untuk mempercepat proses pemulihan masyarakat terdampak. Rulli menjelaskan bahwa terdapat dua pesan utama yang ingin disampaikan: pertama, mengajak masyarakat menyambut Ramadan dengan penuh sukacita dan kesiapan materiil; kedua, mendorong optimalisasi ZIS sebagai instrumen kolektif untuk memperkuat ketahanan nasional di tengah ketidakpastian global.
Target Ambisius dan Standarisasi Zakat Fitrah 2026
Sebagai bagian dari strategi penguatan ekonomi umat, BAZNAS telah menetapkan target pengumpulan ZIS yang cukup ambisius untuk periode Ramadan 2026. Berdasarkan proyeksi pertumbuhan kesadaran berzakat, BAZNAS menargetkan perolehan dana zakat, infak, dan sedekah mencapai angka Rp 515 miliar secara nasional. Angka ini diharapkan dapat tercapai melalui berbagai kanal digital dan konvensional yang telah disiapkan. Selain itu, untuk memberikan kepastian bagi masyarakat dalam menunaikan kewajiban tahunan, BAZNAS juga telah menetapkan besaran zakat fitrah untuk tahun 2026 sebesar Rp 50.000 per jiwa, atau setara dengan 2,5 kilogram atau 3,5 liter beras berkualitas pokok.
| Komponen Program | Detail Informasi Ramadan 2026 |
|---|---|
| Tema Utama | Zakat Menguatkan Indonesia |
| Target Pengumpulan | Rp 515 Miliar |
| Nilai Zakat Fitrah | Rp 50.000,- per jiwa |
| Lokasi Strategis | Terowongan Kendal, Sudirman, Jakarta |
| Fokus Program | Kesehatan, Ekonomi Produktif, Pendidikan, dan Kemanusiaan |
Keberhasilan acara Tarhib Ramadan di Terowongan Kendal ini juga didukung oleh keterlibatan berbagai komunitas, mulai dari komunitas sepeda, komunitas seni, hingga relawan kemanusiaan. Adanya lelang amal dan talkshow interaktif mengenai program-program BAZNAS memberikan ruang bagi masyarakat untuk memahami lebih dalam ke mana aliran dana yang mereka titipkan akan disalurkan. Dengan transparansi data dan pemanfaatan teknologi informasi, BAZNAS optimistis bahwa Ramadan 1447 H akan menjadi titik balik bagi penguatan solidaritas sosial di Indonesia, di mana zakat tidak hanya menjadi kewajiban agama, tetapi menjadi mesin penggerak kesejahteraan yang berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Melalui rangkaian kegiatan ini, BAZNAS berharap pesan “Zakat Menguatkan Indonesia” tidak hanya berhenti sebagai slogan, tetapi bertransformasi menjadi gerakan masif yang mampu menyentuh lapisan masyarakat paling bawah. Dengan optimalisasi zakat pada Ramadan 2026, diharapkan kesenjangan sosial dapat dikurangi, dan masyarakat yang kurang beruntung dapat merasakan kebahagiaan hari raya dengan dukungan penuh dari saudara-saudara mereka yang lebih mampu. Sinergi antara lembaga pengelola zakat, pemerintah, dan masyarakat umum menjadi kunci utama dalam mewujudkan Indonesia yang lebih kuat, mandiri, dan berdaya melalui kekuatan zakat.

















