Dunia arkeologi internasional baru saja diguncang oleh penemuan monumental yang menggeser garis waktu sejarah kreativitas manusia modern. Sebuah stensil atau cap tangan purba yang ditemukan di dinding gua karst di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, kini secara resmi dinobatkan sebagai karya seni cadas tertua di dunia yang pernah tercatat dalam sejarah peradaban manusia. Melalui penelitian kolaboratif yang intensif, para ilmuwan berhasil mengonfirmasi bahwa usia lukisan ini mencapai setidaknya 67.800 tahun, sebuah angka yang secara dramatis melampaui rekor-rekor sebelumnya. Penemuan ini tidak hanya sekadar menambah daftar panjang situs prasejarah di Indonesia, tetapi juga merombak narasi global mengenai kapan dan di mana kemampuan kognitif tingkat tinggi—yang diwujudkan melalui ekspresi artistik—pertama kali muncul pada spesies manusia modern (Homo sapiens). Temuan ini memberikan bukti fisik yang tak terbantahkan bahwa wilayah Nusantara, khususnya Pulau Sulawesi, merupakan pusat kebudayaan artistik yang jauh lebih tua daripada wilayah Eropa yang selama ini sering dianggap sebagai tempat kelahiran seni gua.
Eksplorasi mendalam ini dilakukan oleh tim peneliti gabungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Republik Indonesia, bekerja sama dengan para ahli dari Griffith University dan Southern Cross University, Australia. Fokus utama penelitian terletak di Liang Metanduno, sebuah gua batu kapur yang tersembunyi di pedalaman Pulau Muna. Untuk menentukan usia lukisan dengan akurasi yang sangat tinggi, tim menggunakan teknologi mutakhir yang dikenal sebagai teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA-U-series). Metode ini bekerja dengan menganalisis lapisan tipis endapan mineral kalsium karbonat mikroskopis yang terbentuk secara alami di atas permukaan lukisan selama puluhan ribu tahun. Hasil analisis laboratorium menunjukkan angka yang mencengangkan, yakni 71.600 ± 3.800 tahun. Berdasarkan data tersebut, para peneliti menetapkan batas usia minimum yang konservatif sebesar 67.800 tahun. Angka ini secara signifikan lebih tua sekitar 16.600 tahun dibandingkan dengan seni cadas yang sebelumnya ditemukan di kawasan Maros-Pangkep, serta melampaui usia cap tangan purba di Spanyol dengan selisih sekitar 1.100 tahun, memantapkan posisi Sulawesi sebagai pemegang rekor dunia saat ini.
Implikasi Geopolitik Purba dan Migrasi Manusia Modern
Adhi Agus Oktaviana, peneliti dari Pusat Riset Arkeometri BRIN yang memimpin studi ini, menekankan bahwa penemuan di Liang Metanduno ini merupakan kepingan teka-teki krusial dalam memahami pola migrasi manusia modern awal ke wilayah Nusantara dan sekitarnya. Keberadaan seni cadas yang sangat tua ini menjadi bukti pendukung yang kuat bagi teori gelombang migrasi manusia dari daratan Asia menuju kawasan Sahul—sebuah daratan purba yang pada zaman es menyatukan Australia, Tasmania, dan Papua Nugini. Dalam konferensi pers yang digelar di kantor BRIN B.J. Habibie, Jakarta, pada 22 Januari 2026, Adhi menjelaskan bahwa para pembuat lukisan di Sulawesi ini kemungkinan besar merupakan bagian dari populasi pionir yang memiliki kemampuan navigasi dan adaptasi lingkungan yang luar biasa. Penemuan ini secara langsung mendukung hipotesis bahwa nenek moyang masyarakat Aborigin Australia telah berada di wilayah Sahul sekitar 65.000 tahun yang lalu, dengan Sulawesi berfungsi sebagai “batu loncatan” atau pusat hunian jangka panjang sebelum mereka melanjutkan perjalanan lebih jauh ke arah timur melintasi garis Wallace.
Profesor Maxime Aubert, seorang arkeolog dan ahli geokimia terkemuka dari Griffith Centre for Social and Cultural Research (GCSCR), menambahkan dimensi lain pada signifikansi temuan ini. Menurutnya, Sulawesi kini dapat dipandang sebagai rumah bagi tradisi seni paling kaya dan paling bertahan lama di muka bumi. Penelitian ini mengungkapkan bahwa Pulau Muna bukan sekadar tempat persinggahan sementara, melainkan pusat kebudayaan artistik yang berkelanjutan. Data arkeologis menunjukkan bahwa gua-gua di Pulau Muna digunakan sebagai lokasi pembuatan seni dalam rentang waktu yang sangat panjang, mencakup periode setidaknya 35.000 tahun hingga berakhir sekitar 20.000 tahun yang lalu. Hal ini mengindikasikan adanya transmisi pengetahuan dan tradisi visual yang diwariskan dari generasi ke generasi selama ribuan tahun, menciptakan salah satu budaya artistik paling stabil dan berkelanjutan dalam sejarah manusia purba sebelum memasuki era agrikultur.
Simbolisme Unik dan Transformasi Estetika “Tangan Bercakar”
Salah satu aspek yang paling menarik dan misterius dari stensil tangan di Liang Metanduno adalah karakteristik visualnya yang unik secara global. Meskipun ditemukan dalam kondisi fragmentaris atau terfragmentasi dan dikelilingi oleh lapisan lukisan dari periode yang lebih muda, stensil tangan ini menunjukkan adanya modifikasi yang disengaja. Para peneliti mengamati bahwa setelah stensil tangan asli dibuat, garis-garis negatif di sekitar jari-jari dimodifikasi sedemikian rupa sehingga tampak lebih sempit dan meruncing, memberikan kesan bentuk tangan yang menyerupai cakar binatang. Transformasi estetika ini memicu diskusi mendalam mengenai makna simbolik di baliknya. Apakah ini merupakan representasi dari upaya manusia purba untuk mengidentifikasi diri mereka dengan kekuatan alam atau hewan predator tertentu? Fenomena ini menunjukkan bahwa sejak puluhan ribu tahun lalu, manusia di Sulawesi sudah memiliki pemikiran abstrak yang kompleks mengenai identitas dan hubungan mereka dengan dunia non-manusia.
Profesor Adam Brumm dari Australian Research Centre for Human Evolution (ARCHE) memberikan interpretasi yang mendalam terkait modifikasi “tangan bercakar” tersebut. Ia berpendapat bahwa seni ini kemungkinan besar melambangkan gagasan kuno tentang hubungan ontologis yang erat antara manusia dan hewan. Konsep ini sejalan dengan temuan seni awal lainnya di Sulawesi yang menggambarkan figur-figur “therianthrope” atau makhluk hibrida setengah manusia dan setengah hewan. Keberadaan motif unik ini di Liang Metanduno memperkuat teori bahwa sistem kepercayaan spiritual dan mitologi yang kompleks sudah berkembang pesat di Nusantara jauh sebelum peradaban besar dunia lainnya muncul. Seni cadas ini bukan sekadar coretan dinding, melainkan media komunikasi suci yang merekam pandangan dunia (worldview) manusia purba terhadap alam semesta dan entitas di dalamnya.
Studi komprehensif yang berjudul “Rock art from at least 67,800 years ago in Sulawesi” ini telah resmi dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi, Nature, yang menandakan pengakuan komunitas sains global terhadap validitas temuan ini. Proyek penelitian berskala besar ini berhasil terlaksana berkat dukungan penuh dari berbagai lembaga internasional, termasuk Australian Research Council, Google Arts & Culture, serta National Geographic Society. Keberhasilan ini juga menegaskan posisi Indonesia sebagai laboratorium arkeologi dunia yang masih menyimpan banyak rahasia tentang asal-usul kemanusiaan. Dengan ditemukannya bukti seni rupa tertua ini, perhatian dunia kini tertuju pada pelestarian situs-situs karst di Sulawesi yang terancam oleh aktivitas industri, mengingat setiap jengkal dinding gua di wilayah tersebut berpotensi menyimpan catatan sejarah yang dapat mengubah pemahaman kita tentang jati diri spesies manusia.
| Parameter Penemuan | Detail Informasi |
|---|---|
| Lokasi Situs | Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara |
| Usia Minimum | 67.800 Tahun (Berdasarkan analisis 71.600 ± 3.800 tahun) |
| Metode Penanggalan | Laser-ablation uranium-series (LA-U-series) |
| Jenis Motif | Stensil tangan (dengan modifikasi menyerupai cakar) |
| Signifikansi Global | Seni cadas tertua di dunia, melampaui temuan di Eropa dan Maros |
| Publikasi | Jurnal Nature (Januari 2026) |
















