Pada Sabtu, 24 Januari, ketenangan pagi di wilayah Karangmalang, Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), seketika berubah menjadi kengerian. Angin kencang yang berhembus dengan kekuatan luar biasa tiba-tiba memicu serangkaian insiden tragis, salah satunya adalah tumbangnya sebatang pohon besar yang menimpa dua individu tak berdosa. Peristiwa memilukan ini sontak mengguncang warga setempat dan menyisakan duka mendalam, sekaligus menjadi pengingat akan kekuatan alam yang tak terduga dan dampaknya yang bisa sangat fatal.
Tragedi di Karangmalang: Dua Nyawa Melayang Diterpa Angin
Insiden nahas yang merenggut dua nyawa ini menjadi sorotan utama. Korban jiwa diidentifikasi sebagai seorang kakek berinisial S, berusia 66 tahun, dan cucunya, seorang anak laki-laki berinisial AB, yang masih berusia 7 tahun. Keduanya merupakan warga yang beralamat di Balikpapan sesuai data Kartu Tanda Penduduk (KTP) mereka, sebuah detail yang menambah dimensi pilu pada tragedi ini, mengisyaratkan kemungkinan mereka sedang berkunjung atau baru saja pindah ke wilayah Sleman. Musibah ini terjadi ketika sang kakek, S, tengah mengendarai sepeda motor, membonceng cucunya, AB, melintasi jalan di Karangmalang. Dalam sekejap mata, angin kencang yang bergemuruh merobohkan pohon di jalur mereka, menyebabkan pohon tersebut ambruk dan menimpa keduanya secara langsung, tanpa memberi kesempatan sedikit pun untuk menghindar.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Bambang Kuntoro, dalam pernyataannya mengonfirmasi detail tragis ini. “Pohon tumbang menimpa pengendara motor. Korban jiwa dua orang. Korban sudah dievakuasi ke RS Bhayangkara,” ujarnya. Pernyataan ini menegaskan respons cepat dari tim darurat untuk mengevakuasi korban ke rumah sakit terdekat, meskipun upaya penyelamatan tidak dapat mengubah takdir kedua korban. Kehilangan dua generasi sekaligus dalam satu insiden, terutama seorang kakek dan cucu yang sedang dalam perjalanan, meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan menjadi pelajaran pahit bagi komunitas mengenai bahaya cuaca ekstrem yang seringkali datang tanpa peringatan.
Amukan Angin Kencang Melanda Sleman: Analisis Meteorologi dan Dampak Luas
Peristiwa pohon tumbang di Karangmalang hanyalah salah satu dari sekian banyak dampak yang ditimbulkan oleh angin kencang yang melanda wilayah Sleman pada Sabtu tersebut. Fenomena angin kencang ini tidak terbatas pada satu titik, melainkan menyebar luas dan menyebabkan serangkaian kerusakan di berbagai kapanewon. Menurut penjelasan dari Bambang Kuntoro, berdasarkan hasil pantauan dari Automatic Weather Station (AWS) Pakem, kecepatan angin tercatat mencapai angka 35 kilometer per jam. Kecepatan angin sebesar ini, meskipun mungkin tidak tergolong badai ekstrem, sudah cukup kuat untuk menimbulkan kerusakan signifikan, terutama pada vegetasi yang rapuh atau struktur bangunan yang kurang kokoh.
Lebih lanjut, Bambang Kuntoro menjelaskan bahwa angin kencang ini dipengaruhi oleh pergerakan angin yang berasal dari arah Barat Laut DIY, di mana lapisan atas atmosfer juga menunjukkan kekuatan angin yang signifikan. Sebuah detail penting yang perlu digarisbawahi adalah bahwa pergerakan angin ini tidak disertai adanya potensi hujan. Ini berarti bahwa kerusakan yang terjadi murni disebabkan oleh tekanan dan kekuatan hembusan angin, bukan kombinasi dengan tanah yang basah atau pohon yang rapuh akibat hujan lebat. Kondisi ini seringkali membuat pohon-pohon yang akarnya tidak terlalu dalam atau batangnya sudah lapuk menjadi sangat rentan terhadap terjangan angin kencang, bahkan tanpa adanya faktor kelembaban tanah yang biasanya mempermudah pohon tumbang. Dampak kerusakan yang ditimbulkan tersebar di beberapa wilayah, menunjukkan skala fenomena cuaca yang cukup luas dan serius.
Rincian Kerusakan Berdasarkan Data BPBD Sleman
BPBD Sleman dengan sigap melakukan pendataan terhadap seluruh dampak yang ditimbulkan oleh angin kencang tersebut di berbagai kapanewon. Data yang terkumpul memberikan gambaran komprehensif mengenai skala dan jenis kerusakan yang terjadi, menunjukkan betapa luasnya jangkauan bencana ini. Kerusakan tidak hanya terbatas pada pohon tumbang, tetapi juga mencakup infrastruktur dan properti warga, mengganggu aktivitas sehari-hari dan menimbulkan kerugian materiil yang tidak sedikit.
| Kapanewon | Jenis Kerusakan | Jumlah/Keterangan |
|---|---|---|
| Cangkringan | Pohon tumbang/patah | 13 kejadian |
| Tiang roboh | 1 kejadian | |
| Atap rumah diterjang angin | 1 rumah | |
| Bambu menimpa rumah | 1 kejadian | |
| Pakem | Pohon tumbang/patah | 7 kejadian |
| Atap rumah berterbangan/rusak | 6 rumah | |
| Ngemplak | Pohon tumbang | 1 kejadian |
| Sleman | Pohon tumbang | 3 kejadian |
| Tempel | Pohon tumbang | 3 kejadian |
| Turi | Pohon tumbang atau patah | 8 kejadian |
| Atap asbes rusak | 2 atap | |
| Genteng rumah rusak | 1 rumah | |
| Tembok dan atap kandang rusak | 1 kandang |
-
Di Kapanewon Cangkringan, tercatat adanya 13 pohon tumbang atau patah, menunjukkan kekuatan angin yang mampu merobohkan belasan vegetasi. Selain itu, satu tiang juga dilaporkan roboh, satu atap rumah diterjang angin hingga mengalami kerusakan, dan bahkan bambu yang tumbang menimpa sebuah rumah, menambah daftar panjang kerusakan.
-

















