Deru air bercampur lumpur dan tangisan histeris warga kembali pecah di tengah malam yang mencekam. Sebuah mimpi buruk yang baru saja berlalu tiga bulan silam, kini berulang dengan kejam. Pada Rabu, 11 Februari 2026, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, sekali lagi dilanda banjir bandang dan tanah longsor, menghantam desa-desa yang bahkan belum sempat bangkit dari keterpurukan sebelumnya. Bencana kali ini, dipicu oleh curah hujan ekstrem dan kegagalan tanggul darurat, memperparah luka ribuan warga, terutama di Desa Hutanabolon, Kecamatan Tukka, yang menjadi episentrum kepedihan. Kisah-kisah pilu para penyintas seperti Rinilorensa Sinaga, Paten Sidabutar, dan Rinto Gultom menjadi cerminan nyata dari trauma yang tak kunjung usai dan perjuangan panjang di tengah janji pemulihan yang masih jauh dari kenyataan.
Bagi Rinilorensa Sinaga, perempuan berusia 23 tahun asal Desa Hutanabolon, kejadian pada Rabu malam itu adalah deja vu yang mengerikan. “Banyak yang panik. Ada juga yang menangis,” ujarnya, suaranya masih bergetar saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Kamis, 12 Februari 2026. Lingkungan IV, tempat rumahnya berdiri relatif tak jauh dari tepi sungai, kembali menjadi saksi bisu keganasan alam. Pada akhir November 2025, kediamannya ludes digulung air bah dan gelondongan kayu, menyisakan hanya ponsel dan pakaian yang melekat di badan. Kini, bayangan menakutkan itu kembali menerpanya. Air sungai yang tiba-tiba meluap selang beberapa jam setelah hujan deras mengguyur, memicu kepanikan massal. Rini dan warga lainnya berhamburan menyelamatkan diri, sebagian menangis histeris, menciptakan suasana yang semakin mencekam dan penuh keputusasaan.

















