jateng.jpnn.com
Dua Nyawa Melayang Akibat Bencana Alam di Lereng Gunung Slamet, Tim SAR Lakukan Pencarian Intensif
Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, kembali berduka. Bencana alam dahsyat berupa banjir bandang dan longsor yang menerjang kawasan lereng Gunung Slamet dilaporkan telah merenggut dua nyawa warga. Insiden tragis ini tidak hanya menimbulkan kerugian materiil, tetapi juga meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban. Hingga berita ini diturunkan, upaya pencarian terhadap satu warga yang masih dinyatakan hilang terus dilakukan dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada.
Korban terbaru yang dilaporkan meninggal dunia berasal dari Desa Bongas, Kecamatan Watukumpul. Dalam insiden yang mengerikan ini, jasad seorang anak ditemukan terkubur di bawah timbunan material longsor yang menghancurkan. Tragisnya, ayah dari anak tersebut hingga kini masih belum berhasil ditemukan, menambah daftar panjang kekhawatiran dan harapan akan keselamatan. Peristiwa ini menjadi pengingat betapa rentannya kehidupan manusia di hadapan kekuatan alam yang tak terduga.
Sebelumnya, duka serupa telah menyelimuti Desa Penakir, Kecamatan Pulosari. Pada hari Jumat, tanggal 23 Januari, seorang warga dilaporkan tewas akibat terjangan banjir bandang yang datang tanpa peringatan. Kejadian ini menunjukkan pola bencana yang berulang dan meluas di wilayah terdampak, menggarisbawahi urgensi penanggulangan bencana yang komprehensif.
“Yang baru ditemukan jasad anaknya. Yang bapaknya masih dalam pencarian,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pemalang, Agus Ikmaludin, dalam keterangan persnya pada hari Senin, tanggal 26 Januari. Pernyataan ini menegaskan situasi darurat yang sedang dihadapi dan skala upaya penyelamatan yang sedang berlangsung. Tim SAR gabungan, yang terdiri dari unsur BPBD, Basarnas, TNI, Polri, dan relawan, bekerja tanpa lelah menghadapi kondisi medan yang sangat menantang.
Analisis Mendalam: Faktor Pemicu dan Tantangan Penyelamatan
Agus Ikmaludin lebih lanjut menjelaskan bahwa peristiwa longsor di Desa Bongas terjadi sebagai akibat langsung dari curah hujan yang sangat tinggi dan intens mengguyur kawasan Watukumpul. Saat bencana itu terjadi, kedua korban yang nahas tersebut diketahui sedang beraktivitas di area persawahan yang terletak di bawah lereng perbukitan. Lokasi persawahan tersebut, yang seharusnya menjadi sumber mata pencaharian, justru berubah menjadi arena tragedi yang tak terbayangkan.
“Longsornya berasal dari bukit di area persawahan. Mereka sedang berada di sawah lalu tertimbun longsor tersebut,” ungkap Agus, merinci kronologi kejadian yang mengerikan. Material tanah dan bebatuan dari bukit yang tidak stabil, jenuh oleh air hujan, tiba-tiba longsor dan menimbun area persawahan beserta para petani yang sedang bekerja di sana. Kecepatan dan volume longsoran diperkirakan sangat besar, sehingga menyulitkan korban untuk menyelamatkan diri.
Proses pencarian korban yang masih hilang, lanjut Agus, dihadapkan pada berbagai kendala signifikan. Kondisi medan yang terjal, terjal, dan sulit dijangkau oleh peralatan berat menjadi tantangan utama. Selain itu, cuaca ekstrem yang masih terus terjadi di lokasi kejadian, seperti hujan deras yang tak kunjung reda dan kabut tebal, semakin mempersulit upaya tim SAR. “Cuacanya masih ekstrem, hujan dan berkabut. Itu yang menjadi kendala utama dalam proses pencarian,” tegasnya. Tim SAR harus berjuang melawan elemen alam yang ganas demi menemukan korban yang masih hilang dan memberikan kejelasan bagi keluarga yang menanti.
Dampak Bencana yang Meluas: Kerugian Materiil dan Ancaman Lingkungan
Sebelumnya, insiden serupa di Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, yang terjadi pada Jumat (23/1), telah menelan satu korban jiwa akibat terjangan banjir bandang. Dengan ditemukannya korban di Desa Bongas, total korban jiwa akibat serangkaian bencana alam di Kabupaten Pemalang kini bertambah menjadi dua orang. Angka ini, meskipun terlihat kecil, merepresentasikan kehilangan yang tak ternilai bagi keluarga dan komunitas yang terdampak.
Untuk diketahui lebih lanjut, banjir bandang dan longsor ini tidak hanya melanda satu atau dua titik, melainkan terjadi di sejumlah lokasi berbeda di Kabupaten Pemalang. Bencana ini merupakan dampak langsung dari hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah selatan Pemalang secara terus-menerus sejak hari Jumat (23/1). Wilayah yang dilaporkan terdampak meliputi Kecamatan Pulosari, Belik, Moga, Watukumpul, dan Warungpring. Luasnya area terdampak menunjukkan skala bencana yang signifikan dan memerlukan respons terpadu dari berbagai pihak.
Selain banjir bandang dan longsor yang menjadi perhatian utama, hujan deras yang disertai dengan angin kencang juga menimbulkan dampak tambahan. Pohon-pohon besar tumbang di berbagai lokasi, menghalangi akses jalan dan merusak infrastruktur. Lebih mengkhawatirkan lagi, arus banjir yang deras dilaporkan menyeret kayu-kayu gelondongan dari kawasan hutan, menambah potensi bahaya dan kerusakan di daerah hilir. Fenomena ini juga menimbulkan kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap ekosistem dan stabilitas lereng di kawasan tersebut.
Data dan Fakta Lapangan
| Lokasi Bencana | Jenis Bencana | Jumlah Korban Jiwa | Status Korban Hilang | Tanggal Kejadian |
|---|---|---|---|---|
| Desa Bongas, Kecamatan Watukumpul | Longsor | 1 (anak) | 1 (ayah) | (Perkiraan: Sabtu, 24 Januari) |
| Desa Penakir, Kecamatan Pulosari | Banjir Bandang | 1 | – | Jumat, 23 Januari |
Situasi darurat di Kabupaten Pemalang menuntut perhatian serius dan tindakan cepat dari pemerintah serta masyarakat. Upaya pemulihan pasca-bencana, termasuk penanganan korban, perbaikan infrastruktur, dan mitigasi risiko di masa mendatang, akan menjadi prioritas utama. Koordinasi yang erat antara semua pemangku kepentingan sangat krusial untuk mengatasi krisis ini secara efektif dan memulihkan kehidupan warga yang terdampak.


















