Jakarta – Hujan deras yang mengguyur Ibu Kota pada Rabu, 28 Januari 2026, kembali memicu banjir di sejumlah wilayah, memaksa 11 rukun tetangga (RT) terendam genangan air. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat bahwa mayoritas titik banjir terpusat di Jakarta Timur, akibat meluapnya Kali Ciliwung. Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga dan memicu respons cepat dari pemerintah daerah untuk penanganan darurat, termasuk penyediaan kebutuhan dasar dan upaya percepatan surutnya genangan, sembari mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan.
Analisis Mendalam Dampak Luapan Kali Ciliwung
Meluapnya Kali Ciliwung pada Rabu, 28 Januari 2026, merupakan sebuah peristiwa yang kembali menyoroti kerentanan Jakarta terhadap banjir, khususnya di wilayah yang berdekatan dengan aliran sungai. Berdasarkan data yang dihimpun oleh BPBD DKI Jakarta, tercatat sebanyak 11 rukun tetangga (RT) yang tergenang air. Distribusi geografis genangan ini menunjukkan konsentrasi yang signifikan di wilayah Jakarta Timur, meskipun laporan juga menyebutkan adanya dampak di sebagian wilayah Jakarta Selatan. Intensitas hujan yang tinggi sejak pagi hari di wilayah Jakarta dan sekitarnya menjadi pemicu utama peningkatan debit air Kali Ciliwung secara drastis, melebihi kapasitas tampungnya dan menyebabkan air meluap ke permukiman warga.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, melalui BPBD, segera mengambil langkah-langkah penanggulangan. Personel dikerahkan ke lokasi-lokasi terdampak untuk melakukan penanganan genangan, dengan target utama adalah mempercepat proses surutnya air. Upaya ini melibatkan berbagai sektor, termasuk peninjauan pintu air dan koordinasi dengan dinas terkait untuk memastikan aliran air dapat kembali normal dan meminimalkan dampak jangka panjang. Selain itu, kesiapsiagaan juga ditingkatkan dengan menaikkan status waspada di beberapa pintu air strategis yang memantau ketinggian air sungai.
Respons Cepat dan Imbauan Kewaspadaan
Dalam menghadapi situasi darurat seperti banjir ini, peran aparatur pemerintah di tingkat kelurahan dan kecamatan menjadi sangat krusial. Para lurah dan camat setempat tidak hanya bertugas memantau perkembangan genangan, tetapi juga aktif dalam menyiapkan dan mendistribusikan kebutuhan dasar bagi warga yang terdampak. Kebutuhan dasar ini mencakup pasokan makanan, air bersih, serta sarana sanitasi sementara bagi warga yang terpaksa mengungsi atau terisolasi akibat genangan. Prioritas utama adalah memastikan bahwa hak-hak dasar warga terpenuhi selama masa-masa sulit ini. Target waktu untuk surutnya genangan juga menjadi fokus utama, agar aktivitas warga dapat segera pulih seperti sedia kala.
BPBD DKI Jakarta secara konsisten mengeluarkan imbauan kepada seluruh masyarakat untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi genangan banjir. Imbauan ini tidak hanya terbatas pada saat terjadinya hujan deras, tetapi juga mencakup kesiapan menghadapi dampak lanjutan seperti longsor atau krisis air bersih pascabanjir. Dalam situasi darurat yang membutuhkan penanganan segera, masyarakat diimbau untuk tidak ragu menghubungi nomor telepon darurat 112. Layanan ini bersifat gratis dan beroperasi selama 24 jam nonstop, siap memberikan bantuan dan respons cepat terhadap berbagai keadaan darurat yang dihadapi oleh warga Jakarta.
Analisis Historis dan Faktor Pemicu Banjir Ciliwung
Sungai Ciliwung, sebagai salah satu sungai terpanjang yang melintasi wilayah Jakarta, memiliki sejarah panjang terkait dengan insiden banjir. Luapan kali ini, yang kembali merendam 11 RT di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur, bukanlah kali pertama terjadi. Fenomena banjir yang disebabkan oleh luapan Kali Ciliwung telah menjadi siklus tahunan yang kerap dihadapi oleh warga di bantaran sungai. Berbagai faktor berkontribusi terhadap kerentanan ini, termasuk perubahan tata guna lahan di daerah hulu yang mengurangi kemampuan resapan air, peningkatan volume sampah yang menyumbat aliran sungai, serta intensitas curah hujan yang semakin ekstrem akibat perubahan iklim global. Laporan dari BPBD DKI Jakarta yang mencatat genangan di Kelurahan Pejaten Timur, Bidara Cina, Kampung Melayu, Cawang, dan area lainnya, mengindikasikan pola genangan yang konsisten di titik-titik yang secara historis rentan terhadap banjir.
Peristiwa banjir pada Jumat, 23 Januari 2026, yang juga melanda RW 04 Cipinang Melayu, Makasar, Jakarta Timur, menjadi bukti nyata bahwa banjir di kawasan tersebut bersifat repetitif. Data yang dihimpun per pukul 21.00 WIB pada suatu kesempatan lain, yang menyebutkan bahwa 17 RT di Jakarta masih terendam banjir akibat luapan Kali Ciliwung, semakin menggarisbawahi skala permasalahan yang dihadapi. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun upaya penanganan telah dilakukan, solusi jangka panjang yang komprehensif masih sangat dibutuhkan untuk mengatasi akar permasalahan banjir di Jakarta, yang melibatkan pengelolaan daerah aliran sungai secara terpadu, normalisasi sungai, serta penataan kawasan permukiman di bantaran sungai.


















