Jakarta, ibu kota Indonesia yang padat penduduk, kembali dihadapkan pada tantangan klasik nan pelik: banjir. Hujan deras yang mengguyur wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya sejak Kamis pagi, 22 Januari 2026, telah memicu genangan air yang meluas di berbagai titik. Berdasarkan pembaruan data terkini dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta yang dirilis pada pukul 18.00 WIB di hari yang sama, tercatat bahwa bencana hidrometeorologi ini telah merendam setidaknya 80 Rukun Tetangga (RT) dan mengganggu kelancaran lalu lintas di 23 ruas jalan utama maupun penghubung. Situasi ini menggambarkan kerentanan kota metropolitan terhadap perubahan iklim dan sistem drainase yang kerap kali kewalahan menghadapi intensitas curah hujan ekstrem.
Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD Jakarta, Mohamad Yohan, dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (22/1), menegaskan, “Hujan deras yang melanda wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya pada Kamis, 22 Januari 2026 menyebabkan terjadinya beberapa genangan di wilayah DKI Jakarta.” Pernyataan ini bukan sekadar laporan, melainkan penanda dimulainya respons darurat yang komprehensif. Menanggapi kondisi kritis ini, BPBD DKI Jakarta dengan sigap mengerahkan seluruh personelnya ke lapangan untuk melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi genangan di setiap wilayah terdampak. Langkah proaktif ini krusial untuk memastikan data yang akurat dan respons yang cepat. Lebih lanjut, BPBD telah mengkoordinasikan berbagai unsur dinas terkait, termasuk Dinas Sumber Daya Air (SDA) yang bertanggung jawab atas pengelolaan air dan infrastruktur pengairan, Dinas Bina Marga yang mengelola jalan dan saluran di bawahnya, serta Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) yang memiliki peralatan penyedot air berkapasitas tinggi. Kolaborasi lintas sektor ini bertujuan untuk mempercepat proses penyedotan genangan air dan, yang tak kalah penting, memastikan seluruh tali air atau saluran drainase berfungsi optimal tanpa hambatan, mencegah akumulasi air yang lebih parah.
Di tengah situasi darurat ini, BPBD DKI Jakarta juga tidak henti-hentinya mengimbau masyarakat untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi genangan yang bisa muncul sewaktu-waktu. Informasi mengenai ketinggian air dan daerah rawan banjir menjadi sangat vital bagi keselamatan warga. Untuk memfasilitasi pelaporan dan permintaan bantuan, BPBD menyediakan layanan telepon darurat 112 yang dapat diakses secara gratis dan beroperasi penuh selama 24 jam. Layanan ini menjadi jembatan komunikasi penting antara warga yang membutuhkan pertolongan dengan tim respons cepat, memastikan setiap laporan genangan atau kebutuhan evakuasi dapat ditangani secepat mungkin. Keberadaan layanan darurat yang responsif seperti 112 adalah pilar utama dalam mitigasi bencana di perkotaan.
Dampak Banjir di Tingkat Rukun Tetangga: Analisis Mendalam Wilayah Terdampak
Data BPBD DKI Jakarta merinci sebaran genangan di 80 RT, menunjukkan pola dan penyebab yang beragam di tiga wilayah administrasi utama: Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur. Setiap wilayah memiliki karakteristik geografis dan hidrologis yang berbeda, yang memengaruhi tingkat keparahan banjir.
Di **Jakarta Barat**, sebanyak 22 RT dilaporkan tergenang. Kelurahan Kapuk mencatat 1 RT dengan ketinggian 30 cm, sementara Kelurahan Kedaung Kali Angke menjadi salah satu yang terparah dengan 8 RT terendam antara 70 cm hingga 80 cm. Kelurahan Rawa Buaya terdampak 3 RT dengan ketinggian 35 cm, dan Kelurahan Kedoya Utara menghadapi genangan di 7 RT dengan variasi ketinggian 20 cm hingga 80 cm. Yang paling signifikan adalah Kelurahan Sukabumi Selatan, di mana 2 RT terendam hingga 110 cm, menjadikannya salah satu titik genangan tertinggi. Kelurahan Sukabumi Utara juga mencatat 1 RT dengan ketinggian 30 cm. Hampir seluruh genangan di Jakarta Barat ini disebabkan oleh curah hujan tinggi yang melebihi kapasitas drainase lokal, menunjukkan perlunya peningkatan infrastruktur penampungan dan pengaliran air.

















