Intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah Ibu Kota sejak dini hari menyebabkan permukiman padat penduduk di Kebon Pala, Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur, kembali terendam banjir luapan Sungai Ciliwung dengan ketinggian mencapai 120 sentimeter atau sekitar 1,2 meter pada Jumat siang. Bencana hidrometeorologi ini memaksa ratusan kepala keluarga di wilayah RW 04 dan RW 05 untuk bersiaga penuh seiring dengan kenaikan debit air yang terjadi secara bertahap namun konsisten sejak pukul 02.00 WIB dini hari. Kondisi ini meredam aktivitas warga di tengah bulan suci Ramadhan, di mana akses mobilitas menjadi sangat terbatas dan memaksa warga untuk bertahan di tengah kepungan air yang terus merangkak naik hingga melewati batas pinggang orang dewasa.
Kenaikan level air di kawasan Kebon Pala ini terpantau mengalami eskalasi yang cukup signifikan dari jam ke jam. Berdasarkan keterangan dari Ketua RT 13/RW 04 Kampung Melayu, Sanusi, kondisi air pada pagi hari awalnya masih dalam batas yang bisa diantisipasi, namun memasuki pukul 13.00 WIB, air telah mencapai titik tertinggi di angka 120 sentimeter. Wilayah yang terdampak cukup parah mencakup area yang luas, di antaranya RW 04 yang meliputi RT 11, RT 12, dan RT 13, serta wilayah RW 05 yang mencakup unit RT 05, RT 06, dan RT 09. Di lingkup RT 13 saja, tercatat sedikitnya 96 kepala keluarga (KK) yang terdampak langsung oleh genangan, sementara di wilayah rukun tetangga tetangganya, terdapat sekitar 70 KK yang juga harus berhadapan dengan luapan air yang masuk ke dalam rumah-rumah mereka.
Dilema Warga di Tengah Ibadah Ramadhan dan Minimnya Bantuan
Kejadian banjir kali ini terasa jauh lebih berat bagi warga Kebon Pala karena bertepatan dengan pelaksanaan ibadah di bulan suci Ramadhan. Sanusi mengungkapkan bahwa prosesi makan sahur warga pada Jumat dini hari mengalami hambatan besar akibat air yang mulai merangsek masuk ke area dapur dan ruang utama rumah sejak pukul 02.00 WIB. Keterbatasan akses jalan yang tertutup air setinggi satu meter lebih membuat mobilitas warga lumpuh total. Untuk memenuhi kebutuhan pangan, terutama saat waktu sahur dan persiapan berbuka, sebagian warga terpaksa menggunakan perahu kecil atau sampan darurat hanya untuk sekadar membeli bahan makanan di luar area terdampak. Meski dalam kondisi serba sulit, warga tetap berupaya menjalankan ibadah puasa dengan penuh ketabahan, walaupun fasilitas pendukung di dalam rumah mulai tidak berfungsi akibat rendaman air.
Ironisnya, di tengah kondisi darurat yang melanda ratusan jiwa tersebut, bantuan dari pemerintah daerah maupun instansi terkait dilaporkan belum menyentuh warga hingga Jumat siang. Sanusi menegaskan bahwa hingga saat ini, masyarakat masih berjuang secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan pokok harian mereka. Belum ada pendirian dapur umum maupun distribusi paket bantuan pangan yang diterima oleh warga di RW 04 dan RW 05. Ketidakhadiran bantuan logistik ini membuat warga harus memutar otak untuk tetap bisa bertahan hidup di tengah kepungan banjir, sembari berharap debit air segera surut agar aktivitas ekonomi dan ibadah dapat kembali berjalan normal tanpa hambatan sarana prasarana.
Meskipun ketinggian air telah mencapai level yang mengkhawatirkan, mayoritas warga Kebon Pala terpantau masih enggan untuk beranjak ke posko pengungsian. Keputusan untuk tetap bertahan di rumah masing-masing didasari oleh struktur bangunan di kawasan tersebut yang rata-rata sudah memiliki dua lantai. Lantai kedua menjadi benteng terakhir bagi warga untuk menyelamatkan harta benda elektronik, perabotan rumah tangga, serta sebagai tempat beristirahat dan berlindung dari genangan. Strategi bertahan di lantai atas ini sudah menjadi pola adaptasi menahun bagi warga Kebon Pala yang memang bermukim di daerah rawan banjir, sehingga mereka merasa lebih aman memantau kondisi rumah secara langsung daripada harus meninggalkan kediaman mereka dalam keadaan kosong.
Aksi Cepat Tanggap SAR Ditpolairud Polda Metro Jaya
Menanggapi situasi kritis di lapangan, Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Metro Jaya segera mengerahkan personel ke titik-titik banjir terparah di Kebon Pala. Di bawah komando Dirpolairud Polda Metro Jaya, Kombes Pol Mustofa, Tim SAR dikerahkan sejak pagi hari untuk melakukan penyisiran dan memberikan bantuan evakuasi bagi warga yang membutuhkan penanganan khusus. Kehadiran petugas kepolisian ini menjadi angin segar di tengah kepanikan warga, terutama dalam menangani kelompok rentan seperti bayi, lansia, dan balita yang terjebak di dalam rumah dengan ketinggian air yang terus meningkat. Petugas bergerak cepat memindahkan bayi-bayi ke lokasi yang lebih tinggi dan kering untuk menjamin kesehatan dan keselamatan mereka dari risiko penyakit pascabanjir.
Selain melakukan evakuasi terhadap warga, personel Ditpolairud juga membantu masyarakat dalam mengamankan aset berharga, seperti kendaraan bermotor. Mengingat banyak motor warga yang terendam, petugas bahu-membahu memindahkan kendaraan tersebut ke area yang tidak terjangkau air guna meminimalisir kerugian materiil yang lebih besar. Dalam operasi kemanusiaan ini, Tim SAR menyiagakan peralatan lengkap yang terdiri dari dua unit perahu karet (rubber boat), satu unit skiff boat untuk manuver cepat di gang-gang sempit, serta tiga mesin tempel. Untuk menjamin standar keselamatan operasional, setiap petugas dan warga yang dievakuasi juga dilengkapi dengan life jacket dan ring buoy sebagai antisipasi jika terjadi arus deras yang tidak terduga di lorong-lorong permukiman.
Hingga Jumat petang, personel kepolisian dan tim gabungan masih bersiaga di lokasi kejadian untuk mengantisipasi adanya banjir susulan atau kenaikan debit air kiriman dari hulu Sungai Ciliwung. Pemantauan intensif terus dilakukan mengingat cuaca di wilayah Bogor dan sekitarnya masih menunjukkan potensi hujan yang dapat memicu kenaikan status Bendung Katulampa. Warga diimbau untuk tetap waspada dan segera melapor kepada petugas jika membutuhkan bantuan evakuasi darurat, terutama bagi keluarga yang memiliki anggota keluarga sakit atau lansia yang membutuhkan perawatan medis segera di tengah situasi bencana yang masih berlangsung.















