Kondisi darurat melanda salah satu arteri vital Jawa Tengah, memicu kelumpuhan lalu lintas dan kepanikan warga. Hujan deras yang mengguyur wilayah Semarang dan sekitarnya sejak Minggu malam hingga Senin pagi telah menyebabkan banjir parah di Jalur Pantura Semarang-Demak, tepatnya di Kilometer (KM) 7. Genangan air dengan ketinggian mencapai 30 sentimeter ini seketika merendam sebagian besar badan jalan, menciptakan pemandangan mencekam dan memaksa ribuan kendaraan untuk berhenti total. Akibatnya, antrean panjang kendaraan tak terhindarkan, melumpuhkan arus transportasi dari kedua arah dan menimbulkan kerugian ekonomi serta sosial yang signifikan bagi masyarakat. Situasi ini memaksa pihak berwenang untuk segera mengeluarkan imbauan darurat agar masyarakat mencari dan menggunakan jalur alternatif untuk menghindari kemacetan yang kian memburuk.
Banjir yang melanda Jalur Pantura Semarang-Demak di KM 7 ini merupakan dampak langsung dari curah hujan ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah tersebut. Air hujan yang tidak mampu tertampung oleh sistem drainase yang ada dengan cepat meluap dan menggenangi ruas jalan utama yang menjadi denyut nadi perekonomian dan mobilitas masyarakat di Pulau Jawa. Ketinggian air yang mencapai 30 sentimeter, sebagaimana dilaporkan oleh Kapolsek Genuk, Kompol Rismanto, tergolong cukup signifikan untuk menghentikan laju kendaraan, bahkan jenis kendaraan yang lebih tinggi sekalipun. Ketinggian ini tidak hanya merendam ban kendaraan, tetapi juga berpotensi merusak komponen vital seperti mesin dan sistem kelistrikan, yang pada akhirnya menyebabkan banyak kendaraan mogok di tengah genangan air.
Dampak Luas Banjir Pantura: Kemacetan Parah dan Kendaraan Mogok
Situasi di lapangan menggambarkan kekacauan yang ditimbulkan oleh banjir ini. Kompol Rismanto, dalam keterangannya, memberikan gambaran yang mengerikan mengenai kondisi lalu lintas. “Ketinggian 30 sentimeter, kondisinya jalannya macet,” ujarnya, mengindikasikan betapa parahnya genangan tersebut. Lebih lanjut, ia merinci bahwa banjir kali ini secara spesifik menggenangi KM 7, membedakannya dari titik-titik banjir lain yang mungkin pernah terjadi sebelumnya. Meskipun demikian, ia memastikan bahwa area lain yang biasanya rentan terhadap genangan, seperti di depan Kampus Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), dilaporkan aman dari banjir. Pernyataan ini memberikan sedikit kelegaan, namun fokus utama tetap pada kelumpuhan total di KM 7.
Lebih jauh lagi, berdasarkan laporan dari berbagai sumber, kemacetan yang terjadi akibat banjir ini dilaporkan mencapai panjang yang sangat mengkhawatirkan, bahkan hingga 15 kilometer. Antrean kendaraan mengular panjang, baik dari arah Demak menuju Semarang maupun sebaliknya. Genangan air terutama terjadi di sisi selatan jalan, yang secara signifikan menghambat arus kendaraan dari arah Demak menuju Semarang. Panjang antrean kendaraan yang mencapai hampir 15 kilometer ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari ribuan jiwa yang terjebak, terhambatnya distribusi logistik, dan potensi kerugian ekonomi yang terus bertambah setiap menitnya. Sejumlah kendaraan dilaporkan mogok akibat terendam air, menambah kompleksitas penanganan situasi darurat ini.
Koordinasi dan Imbauan Jalur Alternatif
Menghadapi situasi yang kian memburuk, pihak kepolisian tidak tinggal diam. Kapolsek Genuk, Kompol Rismanto, menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan Polres Demak. Kolaborasi ini penting untuk memastikan penanganan yang terpadu dan efektif di sepanjang jalur Pantura yang terpengaruh. Tujuannya adalah untuk meminimalkan dampak negatif banjir terhadap masyarakat dan kelancaran transportasi.
Sebagai langkah darurat dan preventif, masyarakat pengguna jalan raya Pantura Semarang-Demak diberikan imbauan keras untuk menghindari jalur utama yang tergenang banjir. Pihak berwenang merekomendasikan penggunaan jalur alternatif yang telah disiapkan. Imbauan spesifik yang dikeluarkan adalah agar masyarakat melewati jalur alternatif dari pertigaan Sayung menuju Onggorawe dan Halte Karangtengah, Demak. Langkah ini diharapkan dapat mengalihkan volume kendaraan dari titik banjir, mengurangi potensi kemacetan yang lebih parah, serta memberikan solusi sementara bagi mereka yang perlu melakukan perjalanan di tengah kondisi darurat ini.

















