Banjir dahsyat di Sumatera Utara pada akhir tahun 2025, yang menimbulkan kerugian dan kepanikan meluas, ternyata dipicu oleh fenomena cuaca ekstrem yang jarang terjadi, bukan semata-mata akibat perubahan tutupan lahan. Temuan ini diungkapkan oleh kajian mendalam yang dilakukan oleh Center for Analysis and Applying Geospatial Information (Cenago) dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Studi forensik yang komprehensif ini menganalisis berbagai faktor, mulai dari presipitasi ekstrem, karakteristik hidrologi, hingga perubahan tutupan lahan di tiga daerah aliran sungai (DAS) utama: Badiri, Garoga, dan Batang Toru. Hasil riset ini memberikan perspektif baru yang krusial dalam memahami akar penyebab bencana, menyoroti bahwa kapasitas sistem pengendalian banjir yang ada saat ini tidak dirancang untuk menghadapi skala peristiwa alam yang luar biasa ini.
Kajian forensik yang diselesaikan oleh Cenago ITB ini merupakan sebuah upaya ilmiah yang mendalam untuk mengurai kompleksitas bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Sumatera Utara. Tim peneliti tidak hanya berfokus pada satu aspek, tetapi mengintegrasikan berbagai metodologi analisis. Analisis presipitasi ekstrem menjadi pilar utama, di mana intensitas curah hujan yang tidak biasa diukur dan dipetakan secara detail. Selain itu, karakteristik hidrologi dari tiga DAS yang terdampak — Badiri, Garoga, dan Batang Toru — dikaji secara cermat untuk memahami bagaimana air mengalir dan terakumulasi di wilayah tersebut. Perubahan tutupan lahan, yang seringkali menjadi sorotan utama dalam analisis bencana, juga menjadi bagian integral dari penelitian ini, namun dengan penekanan pada kontribusinya yang relatif kecil dibandingkan dengan faktor cuaca.
Temuan kunci dari riset yang dipimpin oleh Cenago ITB ini adalah kesimpulan bahwa curah hujan dengan intensitas yang sangat ekstrem, yang dipicu oleh fenomena Siklon Tropis Senyar, menjadi penyebab utama banjir dan tanah longsor. Intensitas hujan yang tercatat pada akhir November 2025 dilaporkan mencapai angka 150 hingga 300 milimeter per hari, sebuah level yang dikategorikan sebagai sangat ekstrem. Tingkat presipitasi ini melampaui kapasitas normal sistem drainase dan pengendalian banjir yang ada. Lebih lanjut, analisis probabilitas menunjukkan bahwa kejadian ini masuk dalam kategori siklus ulang 700 hingga 1.000 tahun (R700 hingga R1000), yang secara signifikan melebihi standar desain sistem mitigasi banjir pada umumnya, yang biasanya dirancang untuk siklus 50 tahun (R50). Hal ini menegaskan bahwa bencana tersebut berada pada skala yang secara perencanaan melampaui kapasitas pengendalian banjir yang berlaku di wilayah tersebut.
Analisis Mendalam Perubahan Tutupan Lahan dan Kontribusinya
Dalam konteks bencana, perubahan tutupan lahan seringkali menjadi fokus utama investigasi, terutama jika melibatkan aktivitas korporasi. Namun, kajian Cenago ITB memberikan pandangan yang berbeda mengenai kontribusi perubahan tutupan lahan terhadap banjir yang terjadi di Sumatera Utara. Koordinator Tim Riset Cenago, Heri Andreas, menjelaskan bahwa analisis perubahan tutupan lahan yang dilakukan terhadap citra satelit resolusi tinggi menunjukkan bahwa porsi alih fungsi lahan oleh sejumlah korporasi, seperti PT NSHE, PT AGR, dan PT TBS, relatif kecil jika dibandingkan dengan skala faktor cuaca ekstrem yang menjadi pemicu utama. Secara kuantitatif, kontribusi perubahan tutupan lahan yang dituduhkan kepada tiga korporasi tersebut terhadap luas DAS tercatat sebagai berikut: PT AR sekitar 1,6 persen, PT TBS 0,4 persen, dan PT NSHE sebesar 0,02 persen.
Heri Andreas menekankan bahwa jika kontribusi perubahan tutupan lahan ini secara kuantitatif relatif kecil, maka penetapan pertanggungjawaban mutlak atau strict liability terhadap pihak-pihak tertentu perlu ditinjau kembali demi objektivitas ilmiah. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah keterangan tertulis pada Senin, 23 Februari 2026. Untuk mendukung analisis ini, tim Cenago tidak hanya mengandalkan identifikasi dan digitasi citra satelit untuk mengklasifikasikan tutupan lahan, tetapi juga mengintegrasikan data presipitasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat. Selain itu, definisi DAS dan sub-DAS, model elevasi digital (DEM), serta data standar parameter hidrologi-hidrolika juga menjadi landasan penting dalam kajian ini. Pendekatan multidisiplin ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang holistik dan akurat mengenai penyebab bencana.
Simulasi Hidrologi-Hidrolika dan Perspektif Geomorfologi
Untuk memperdalam pemahaman mengenai dampak perubahan tutupan lahan, tim peneliti Cenago ITB juga melakukan simulasi banjir menggunakan model hidrologi dan hidrolika. Simulasi ini dilakukan dengan berbagai skenario, termasuk skenario di mana seluruh wilayah DAS diasumsikan dalam kondisi hutan, tambang, atau tutupan lahan lainnya. Hasil simulasi ini memberikan gambaran kuantitatif mengenai kontribusi spesifik dari aktivitas di area tambang terhadap banjir. Sebagai contoh, PT AR tercatat berkontribusi sebesar 0,32 persen terhadap banjir, yang berarti penambahan runoff (air hujan yang tidak meresap ke tanah) sebesar 0,71 persen. Sementara itu, PT NSHE hanya berkontribusi sebesar 0,05 persen terhadap banjir dan 0,01 persen terhadap runoff. PT TBS menunjukkan kontribusi terhadap banjir sebesar 1,7 persen atau penambahan runoff sekitar 0,06 persen. Angka-angka ini, sekali lagi, menegaskan bahwa kontribusi aktivitas korporasi dalam hal perubahan tutupan lahan relatif kecil jika dibandingkan dengan skala bencana yang disebabkan oleh presipitasi ekstrem.
Selain analisis hidrologi-hidrolika, perspektif geomorfologi juga turut diperkaya melalui pandangan akademisi ITB dari Kelompok Keahlian Geologi, Ahmad Imam Sadisun. Beliau menyoroti bahwa area longsor yang terdampak oleh hujan ekstrem masif terjadi pada zona Toba Tuff dengan kemiringan yang sangat curam, yang banyak ditemukan di hulu DAS Garoga dan kawasan hutan lindung. Dari sisi geomorfologi, Imam menjelaskan bahwa area tambang PT AR berjarak cukup jauh dari Desa Garoga dan berada di sub-DAS yang berbeda, sehingga dipastikan tidak berkontribusi terhadap banjir di sekitar desa tersebut. Secara prinsip aliran, air tidak mungkin mengalir dari elevasi yang lebih rendah menuju wilayah yang lebih tinggi. Demikian pula, PT TBS berada di luar cakupan DAS Garoga. Imam menegaskan kembali pentingnya pemanfaatan data geospasial berketelitian tinggi dalam pengambilan keputusan terkait kebencanaan, menekankan bahwa masih ada pekerjaan rumah besar dalam mengintegrasikan data geosciences untuk penelaahan dan pengambilan keputusan berbagai masalah.
Banjir dan tanah longsor yang melanda 18 kabupaten dan kota di Sumatera Utara ini menimbulkan dampak yang sangat luas, mendorong Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, untuk memperpanjang Status Tanggap Darurat Bencana. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan dampak yang parah dan kondisi korban yang masih membutuhkan penanganan pascabencana. Dalam pertemuan dengan Wakil Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Purwadi Arianto, Bobby Nasution menyampaikan bahwa pemerintah tingkat desa mengalami dampak fisik yang signifikan, termasuk kerusakan kantor desa. Pasca-bencana, fokus utama adalah pada pemulihan fungsi pemerintahan di kabupaten dan kota, serta pelayanan di rumah sakit dan Puskesmas. Purwadi Arianto menambahkan bahwa tujuannya datang ke Sumatera Utara adalah untuk memastikan penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik berjalan secara adaptif, terpadu, dan akuntabel di wilayah terdampak bencana, termasuk memastikan pelaksanaan pelayanan publik digital di semua sektor untuk memudahkan masyarakat.

















