BANJARMASIN, Kalimantan Selatan – Sebuah peringatan dini cuaca ekstrem yang komprehensif telah dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) sepanjang pekan pertama Februari 2026. Prediksi ini menyoroti potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai kilat, petir, dan angin kencang, serta ancaman pasang air laut maksimum yang dapat memicu fenomena compound flooding. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak ikutan seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang, serta secara proaktif memantau informasi cuaca terkini dari sumber resmi BMKG. Peringatan ini datang sebagai respons terhadap kondisi atmosfer yang dinamis, termasuk pengaruh tiga bibit siklon tropis yang berpotensi memperparah situasi cuaca di wilayah tersebut.
Ancaman Hujan Lebat dan Angin Kencang Melanda Bumi Lambung Mangkurat
BMKG, sebagai lembaga meteorologi dan geofisika nasional, telah mengidentifikasi secara cermat periode-periode krusial di mana potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, disertai kilat, petir, dan angin kencang, akan sangat tinggi di berbagai wilayah Kalimantan Selatan. Peringatan ini mencakup rentang waktu dari tanggal 4 hingga 10 Februari 2026, sebuah periode yang diprediksi akan menjadi “pekan basah” bagi Bumi Lambung Mangkurat. Menurut Prakirawan BMKG Kalsel, Fitma, kondisi cuaca ekstrem ini tidak lepas dari pengaruh dinamika atmosfer regional, termasuk keberadaan tiga bibit siklon tropis yang turut berkontribusi terhadap peningkatan curah hujan di Kalimantan Tengah dan Selatan.
Pada hari Rabu, 4 Februari 2026, hampir seluruh wilayah Kalsel diprediksi akan menghadapi kondisi cuaca ekstrem ini. Sejak pagi hingga sore hari, serta berlanjut hingga dini hari, masyarakat di seluruh kabupaten dan kota di provinsi ini harus bersiap menghadapi guyuran hujan yang intens, berpotensi diiringi sambaran petir dan hembusan angin kencang. Ini menandai awal dari periode kewaspadaan tinggi yang harus dijaga.
Memasuki periode Kamis, 5 Februari hingga Jumat, 6 Februari 2026, ancaman cuaca serupa diperkirakan akan bergeser fokus pada siang dan sore hari di mayoritas wilayah Kalsel. Namun, untuk daerah-daerah spesifik seperti Tanah Laut, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan, dan Tabalong, potensi hujan lebat juga akan kembali terjadi pada dini hari. Pola ini menunjukkan adanya pergeseran waktu dan lokalisasi ancaman, yang menuntut kewaspadaan adaptif dari masyarakat dan otoritas setempat.
Berlanjut ke hari Sabtu, 7 Februari 2026, fokus peringatan dari BMKG akan beralih ke waktu malam hingga dini hari, di mana sebagian besar wilayah Kalimantan Selatan kembali berpeluang mengalami hujan dengan intensitas tinggi. Perubahan pola waktu ini mengindikasikan pentingnya kesiapsiagaan tidak hanya di siang hari, tetapi juga saat masyarakat beristirahat.
Pada periode Minggu, 8 Februari hingga Senin, 9 Februari 2026, perhatian khusus diarahkan pada wilayah pesisir tenggara Kalsel, yaitu Tanah Bumbu dan Kotabaru. Kedua kabupaten ini menjadi area prioritas pengawasan pada siang dan sore hari, di mana potensi hujan lebat dan angin kencang sangat mungkin terjadi. Kondisi ini berpotensi berdampak pada aktivitas maritim dan masyarakat pesisir.
Pekan cuaca ekstrem ini diperkirakan akan ditutup pada Selasa, 10 Februari 2026, dengan potensi hujan lebat yang signifikan pada malam hingga dini hari. Wilayah yang kembali menjadi sorotan adalah Hulu Sungai Utara, Balangan, dan Tabalong. Puncak intensitas hujan di akhir periode ini menekankan bahwa ancaman cuaca ekstrem tidak mereda begitu saja, melainkan berpotensi terus berlanjut hingga akhir pekan prediksi.
Bahaya Ganda: Pasang Air Laut Maksimum dan Potensi Compound Flooding
Selain ancaman hujan lebat di daratan, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini terhadap fenomena pasang air laut maksimum yang berpotensi memperparah situasi, terutama di wilayah pesisir dan muara sungai. Fenomena ini merupakan ancaman serius yang dapat menimbulkan dampak ganda.
Perairan Muara Sungai Barito, salah satu jalur vital di Kalimantan Selatan, diprediksi akan mengalami pasang air laut tertinggi mencapai 2,5 meter pada Rabu, 4 Februari 2026, antara pukul 20.00 WITA hingga 21.00 WITA. Ketinggian pasang ini jauh di atas rata-rata normal dan berpotensi menyebabkan genangan air di area-area rendah sepanjang bantaran sungai, serta mengganggu aktivitas transportasi air.
Sementara itu, perairan Kotabaru, yang merupakan salah satu gerbang maritim Kalsel, berpotensi mencapai ketinggian pasang yang lebih ekstrem, yaitu sekitar 2,8 meter. Kondisi ini diprediksi akan berlangsung selama tiga hari berturut-turut, dari Rabu, 4 Februari hingga Jumat, 6 Februari 2026, pada rentang waktu antara pukul 18.00 WITA hingga 21.00 WITA. Tingginya gelombang pasang di Kotabaru ini dapat mengancam permukiman pesisir, fasilitas pelabuhan, dan infrastruktur vital lainnya.
Fitma dari BMKG secara khusus menyoroti potensi terjadinya compound flooding, atau banjir gabungan. Ia menjelaskan bahwa kondisi pasang air laut maksimum ini, apabila bersamaan dengan curah hujan tinggi yang mengguyur daratan, dapat memicu banjir yang jauh lebih parah dan menimbulkan dampak yang lebih luas. Compound flooding terjadi ketika sistem drainase tidak mampu menampung volume air hujan yang melimpah karena terhalang oleh tingginya muka air laut yang masuk ke daratan atau menghambat aliran sungai ke laut. Akibatnya, air hujan akan tertahan di daratan, menyebabkan genangan yang lebih dalam, meluas, dan bertahan lebih lama. Potensi ini menjadi perhatian serius bagi kota-kota pesisir dan wilayah yang dilewati sungai besar seperti Banjarmasin dan sekitarnya.
Dampak Ikutan Cuaca Ekstrem: Mitigasi dan Kesiapsiagaan

















