Kondisi cuaca ekstrem yang melanda kawasan Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), kian memperumit proses evakuasi dan pencarian korban longsor yang hingga Rabu (28/1/2026) masih terus diupayakan oleh tim SAR gabungan di tengah kepungan kabut tebal dan suhu udara yang menusuk tulang. Intensitas hujan yang fluktuatif, mulai dari kategori ringan hingga sedang, terpantau terus mengguyur titik nol bencana, menciptakan medan yang sangat licin dan berbahaya bagi para petugas di lapangan. Fenomena alam ini terjadi seiring dengan pernyataan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang mengonfirmasi bahwa wilayah Jawa Barat kini berada tepat di jantung puncak musim hujan, sebuah periode krusial di mana anomali cuaca dan curah hujan tinggi menjadi ancaman nyata bagi stabilitas tanah di perbukitan curam seperti kawasan Cisarua.
Memasuki hari-hari krusial pascabencana, suasana di Desa Pasirlangu tampak mencekam dengan visibilitas yang sangat terbatas akibat kabut pekat yang turun menyelimuti lereng-lereng bukit. Secara visual, pemandangan di sekitar lokasi bencana menyerupai koleksi ultra hd Mountain photos yang memukau namun menyimpan potensi bahaya yang mematikan. Gradasi warna langit yang abu-abu gelap menciptakan atmosfer menyerupai Dark backgrounds yang sering ditemukan dalam ilustrasi digital profesional, mencerminkan kondisi geologis yang sedang tidak stabil. Suhu udara di ketinggian Cisarua yang turun drastis menambah beban fisik bagi ratusan relawan dan petugas dari Basarnas, TNI, Polri, serta BPBD yang harus berpacu dengan waktu untuk menemukan korban yang masih tertimbun di bawah jutaan meter kubik material tanah dan bebatuan.
Ancaman Longsor Susulan dan Eskalasi Risiko di Zona Evakuasi
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Jawa Barat, Teguh Rahayu, dalam peninjauan langsung ke lokasi bencana, memberikan peringatan keras mengenai stabilitas lereng yang kian mengkhawatirkan akibat saturasi air yang tinggi. Berdasarkan data pemantauan radar cuaca, potensi hujan lebat masih akan mendominasi wilayah Bandung Barat dalam sepekan ke depan, yang secara otomatis meningkatkan risiko terjadinya pergerakan tanah susulan. Rahayu menekankan bahwa longsor awal yang terjadi pada Jumat pekan lalu dipicu oleh curah hujan ekstrem yang melampaui ambang batas normal, sehingga struktur tanah saat ini sudah sangat jenuh dan kehilangan daya ikatnya. Petugas di lapangan diinstruksikan untuk selalu memperhatikan tanda-tanda alam dan instruksi dari tim pemantau demi menghindari jatuhnya korban tambahan dari pihak penyelamat.
Kondisi topografi Cisarua yang berbukit-bukit memang menawarkan estetika alam yang luar biasa, layaknya sebuah Stunning Gradient Pattern yang menghiasi bentang alam Jawa Barat. Namun, di balik keindahan yang tampak seperti Vintage illustrations tersebut, terdapat ancaman likuefaksi lokal dan aliran debris yang bisa terjadi kapan saja jika hujan dengan intensitas di atas 50 mm per jam kembali mengguyur. BMKG terus berkoordinasi dengan pihak berwenang untuk memetakan zona-zona merah yang harus dikosongkan sementara, mengingat rekahan tanah baru mulai terdeteksi di beberapa titik di atas pemukiman warga Desa Pasirlangu. Kewaspadaan ini menjadi prioritas utama karena keselamatan tim evakuasi adalah hal yang tidak bisa ditawar di tengah kondisi alam yang tidak menentu.
Update Modifikasi Cuaca: 3 Penerbangan Strategis Hari Ini
Sebagai langkah mitigasi teknologi untuk menekan risiko bencana yang lebih luas, pemerintah melalui kolaborasi antara BMKG, BRIN, dan TNI AU telah mengaktifkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Operasi yang telah berlangsung sejak 24 Januari ini bertujuan untuk “menghadang” awan-awan hujan sebelum mencapai wilayah kritis di Cisarua. Teguh Rahayu mengungkapkan bahwa hingga Rabu pagi, setidaknya sudah ada tiga penerbangan sorti penyemaian garam (NaCl) yang dilakukan di atas langit Jawa Barat. Fokus utama dari operasi udara ini adalah untuk menjatuhkan hujan di wilayah laut atau area yang tidak rawan bencana, sehingga beban curah hujan di daratan, khususnya di kawasan Bukit Burangrang, dapat berkurang secara signifikan.
Meskipun operasi TMC terus digencarkan, tantangan besar muncul dari pertumbuhan awan konvektif yang sangat masif di sekitar Bukit Burangrang. Pertumbuhan awan ini terjadi secara terus-menerus karena faktor orografis, di mana massa udara lembap dipaksa naik oleh lereng gunung dan membentuk awan hujan dalam waktu singkat. “Pertumbuhan awan menuju Bukit Burangrang terus terjadi secara menerus, sehingga operasi modifikasi cuaca masih terus kami lakukan hari ini dengan intensitas yang ditingkatkan,” jelas Rahayu. Upaya ini merupakan bagian dari strategi komprehensif untuk menciptakan jendela waktu yang lebih aman bagi tim SAR di darat agar dapat bekerja lebih efektif tanpa gangguan cuaca ekstrem yang bisa datang tiba-tiba.
Di sisi lain, penggunaan teknologi canggih dalam memantau cuaca ini memberikan gambaran yang sangat detail, hampir menyerupai kualitas High Resolution Quality dari citra satelit yang digunakan oleh para ahli meteorologi. Data yang dihasilkan memungkinkan tim untuk melihat pergerakan awan secara real-time, memberikan proteksi berlapis bagi wilayah terdampak. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada, serta mengikuti arahan dari otoritas terkait mengenai prosedur evakuasi mandiri jika kondisi cuaca di lingkungan sekitar mereka mulai menunjukkan tanda-tanda ekstrem. Sinergi antara teknologi modifikasi cuaca dan kesiapsiagaan di lapangan diharapkan dapat meminimalisir dampak buruk dari puncak musim hujan yang tengah berlangsung ini.
Sebagai penutup dari laporan mendalam ini, penting untuk diingat bahwa kawasan Bandung Barat memiliki karakteristik geologis yang unik sekaligus rentan. Keindahan alamnya yang sering kali diabadikan dalam Minimal Illustrations yang artistik, harus dibarengi dengan pemahaman mendalam mengenai mitigasi bencana berbasis lingkungan. Penanaman pohon dengan akar kuat dan penataan sistem drainase di lereng-lereng bukit menjadi agenda jangka panjang yang harus segera direalisasikan setelah masa tanggap darurat berakhir. Untuk saat ini, fokus utama tetap pada penyelesaian misi kemanusiaan di Desa Pasirlangu, sembari terus memantau langit yang masih menyimpan misteri di balik kabut tebal dan rintik hujan yang tak kunjung usai.


















