Peristiwa tragis melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu, 24 Januari 2026, ketika tanah longsor menerjang wilayah tersebut. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, secara langsung meninjau lokasi bencana alam yang merenggut nyawa dan menghancurkan permukiman warga. Keterlibatan langsung orang nomor satu di Jawa Barat ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani dampak bencana dan memberikan dukungan kepada para korban.
Dalam upaya pencarian korban yang tertimbun longsor, Gubernur Dedi Mulyadi turut serta bersama tim gabungan yang terdiri dari personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan relawan kemanusiaan. Pantauan langsung di lapangan oleh tim jurnalis pada Sabtu sore, sekitar pukul 15.00 WIB, membuahkan hasil yang mengharukan. Tiga jenazah korban berhasil ditemukan terkubur di bawah timbunan tanah dan material longsor. Penemuan ini menjadi momen krusial dalam upaya evakuasi yang telah berlangsung intensif sejak longsor terjadi.
Kesulitan Evakuasi Akibat Kondisi Material Longsor
Proses evakuasi jenazah korban longsor di Desa Pasirlangu dilaporkan mengalami berbagai tantangan signifikan. Tim gabungan harus mengerahkan seluruh tenaga dan keahlian mereka untuk dapat mengangkat jasad para korban dari bawah timbunan. Kesulitan utama berasal dari sifat material longsor itu sendiri yang sangat padat dan bertumpuk. Gubernur Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa kondisi tanah yang menumpuk tebal menciptakan potensi tubuh korban terperangkap dan tenggelam lebih dalam ke dalam tanah, sehingga setiap gerakan harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindari cedera lebih lanjut pada jenazah dan untuk memastikan keselamatan para petugas yang bekerja.
Lebih lanjut, Gubernur Dedi Mulyadi merinci bahwa posisi jenazah yang terkubur cukup dalam, bahkan terjepit di antara puing-puing kayu dari bangunan yang runtuh dan bebatuan besar, semakin mempersulit upaya evakuasi. Keberadaan elemen-elemen berat dan tajam ini membutuhkan penanganan ekstra cermat agar tidak merusak jenazah dan memperlancar proses pengangkatan. Ia menambahkan bahwa beberapa korban ditemukan dalam posisi sedang tertidur, tergulung bersama kasur dan selimut mereka. Tragedi ini semakin diperparah dengan adanya pohon tumbang dan batu-batu besar yang ikut terbawa longsor, menutup akses dan menindih korban. Posisi jenazah yang terperangkap di sela-sela kayu dan batu tersebut membutuhkan waktu dan metode khusus untuk dapat dikeluarkan dengan aman.
Meskipun menghadapi kendala yang luar biasa, Gubernur Dedi Mulyadi menyampaikan harapan tulus agar seluruh warga yang dilaporkan hilang segera ditemukan. Ia menekankan pentingnya proses evakuasi yang bertahap namun pasti, dengan mengutamakan keselamatan dan penghormatan terhadap korban. Proses pengangkatan jenazah yang memakan waktu hampir satu jam, dari penemuan sekitar pukul 15.00 WIB hingga berhasil dievakuasi pada pukul 15.50 WIB, menunjukkan betapa sulitnya medan dan kondisi di lokasi bencana.
Instruksi Penyelamatan dan Peringatan Longsor Susulan
Menyadari potensi bahaya yang masih mengintai, Gubernur Dedi Mulyadi memberikan instruksi tegas kepada seluruh petugas gabungan untuk melanjutkan upaya pencarian korban secara menyeluruh. Namun, ia juga menekankan pentingnya kewaspadaan yang tinggi terhadap kemungkinan terjadinya longsor susulan. Kondisi geografis wilayah yang berbukit dan curah hujan yang masih tinggi menjadi faktor risiko utama yang perlu diantisipasi. Hujan yang terus mengguyur lokasi bencana alam ini berpotensi memicu pergerakan tanah lebih lanjut, sehingga setiap langkah dalam proses pencarian dan penyelamatan harus dilakukan dengan pertimbangan matang terhadap faktor keamanan.
Data sementara yang dihimpun hingga pukul 16.30 WIB pada hari yang sama menunjukkan skala keparahan bencana yang terjadi. Lebih dari delapan orang dilaporkan meninggal dunia akibat peristiwa longsor tersebut. Dampak kerusakan tidak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menghancurkan infrastruktur dan permukiman warga. Sekitar 30 rumah warga dilaporkan tertimbun oleh material longsor, menyebabkan kerugian materiil yang sangat besar. Total 113 orang dari 34 kepala keluarga (KK) terdampak langsung oleh bencana ini. Beruntung, 23 orang berhasil menyelamatkan diri di wilayah Kampung Pasir Kuning RT 05/11 dan Pasirkuda RT 01/10. Kejadian ini menjadi pengingat akan kerentanan permukiman yang berada di daerah rawan bencana.
Selain bencana longsor, Desa Pasirlangu juga dilanda banjir bandang di Kampung Babakan Cibudah, RT 05/07. Banjir bandang ini menyebabkan satu rumah warga mengalami kerusakan berat. Peristiwa banjir bandang ini juga menyebabkan tiga orang tertimbun, yang kemudian berhasil dievakuasi ke fasilitas kesehatan terdekat, baik Puskesmas maupun rumah sakit, untuk mendapatkan penanganan medis. Satu orang lainnya dilaporkan selamat dari insiden banjir bandang tersebut. Gabungan antara longsor dan banjir bandang ini menunjukkan kompleksitas bencana alam yang terjadi di wilayah tersebut, membutuhkan respons terpadu dan berkelanjutan dari berbagai pihak.


















