Sebuah analisis mendalam dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah secara tegas menepis spekulasi yang mengaitkan bencana tanah longsor masif di lereng Gunung Slamet, khususnya di wilayah Kabupaten Pemalang dan Purbalingga, dengan aktivitas pertambangan. Kajian komprehensif yang dirilis pada Rabu, 28 Januari 2026, menyimpulkan bahwa pemicu utama fenomena geologi tersebut adalah murni faktor alam, yakni hujan ekstrem dengan intensitas dan durasi yang panjang. Penemuan ini, yang didapatkan melalui tinjauan lapangan dan kajian teknis, memberikan kejelasan penting mengenai penyebab sebenarnya di balik serangkaian insiden longsor yang telah menarik perhatian publik dan memicu kekhawatiran lingkungan.
Analisis Mendalam ESDM: Hujan Ekstrem sebagai Pemicu Utama
Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah, Agus Sugiharto, dalam keterangan tertulisnya, menjelaskan secara rinci mekanisme terjadinya longsoran di kawasan tersebut. “Longsoran terjadi pada lereng-lereng terjal di tubuh Gunung Slamet akibat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang. Ini murni faktor alam,” tegas Agus. Pernyataan ini bukan sekadar bantahan, melainkan hasil dari sebuah kajian teknis yang melibatkan pengamatan geologi dan hidrologi secara seksama. Tim ahli dari Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah melakukan


















