Guncangan tektonik hebat berkekuatan magnitudo 6,5 yang berpusat di Samudera Hindia, tepatnya di selatan Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, menghentak warga pada Jumat (6/2/2026) dini hari pukul 01.06 WIB saat sebagian besar penduduk sedang terlelap dalam istirahat mereka. Peristiwa alam yang terjadi di kedalaman laut ini mengakibatkan kerusakan signifikan pada sejumlah bangunan di Pacitan dan Blitar, serta memicu dampak luka-luka dan kerusakan infrastruktur yang meluas hingga ke wilayah Bantul, Yogyakarta, sehingga mengharuskan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) segera melakukan asesmen darurat serta koordinasi lintas sektoral untuk memitigasi risiko lebih lanjut. Berdasarkan data awal yang dihimpun, fenomena ini tidak hanya merusak tujuh unit rumah tinggal dan satu tempat usaha di Jawa Timur, namun juga menciptakan kepanikan massal di berbagai kota besar di Pulau Jawa akibat durasi getaran yang dirasakan cukup lama.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jawa Timur, Satriyo Nurseno, memberikan pernyataan resmi terkait langkah-langkah strategis yang diambil pemerintah daerah dalam merespons bencana ini. Beliau menegaskan bahwa segera setelah guncangan mereda, personel BPBD langsung dikerahkan untuk menjalin komunikasi intensif dengan perangkat desa di pelosok wilayah terdampak guna memverifikasi laporan kerusakan secara presisi. Upaya pendataan ini dilakukan secara maraton untuk memastikan tidak ada warga yang terjebak di bawah reruntuhan atau membutuhkan bantuan medis darurat di tengah kegelapan malam. Satriyo menekankan bahwa sinkronisasi data antara tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten menjadi prioritas utama agar bantuan logistik dan tim teknis dapat diterjunkan tepat sasaran ke lokasi yang mengalami kerusakan paling parah, terutama di wilayah pesisir selatan yang paling dekat dengan episentrum gempa.
Dalam keterangannya kepada awak media, Satriyo Nurseno menjelaskan bahwa mekanisme koordinasi tidak hanya terbatas pada internal Jawa Timur, melainkan juga mencakup komunikasi antar-provinsi. “BPBD Provinsi Jawa Timur terus berkoordinasi secara aktif dengan jajaran BPBD di tingkat Kabupaten dan Kota untuk memantau setiap perkembangan sekecil apa pun terkait dampak yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut,” tegas Satriyo saat dikonfirmasi pada Jumat pagi. Langkah ini diambil sebagai bentuk kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan yang mungkin terjadi, meskipun hasil pemodelan awal menunjukkan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami. Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, serta menghindari bangunan yang sudah menunjukkan retakan struktur yang membahayakan keselamatan jiwa.
Analisis Sebaran Dampak dan Kerusakan di Wilayah Jawa Timur
Dampak dari gempa bumi magnitudo 6,5 ini memiliki radius persebaran getaran yang sangat luas, menjangkau berbagai wilayah di Jawa Tengah hingga Jawa Barat. Laporan dari lapangan menunjukkan bahwa getaran dirasakan dengan intensitas yang bervariasi di Kulon Progo, Trenggalek, Wonogiri, Malang, hingga sejauh Cirebon. Selain itu, wilayah Blitar, Surakarta, Karanganyar, Magelang, Jombang, Tulungagung, Ponorogo, Magetan, Nganjuk, hingga Wonosobo dan Banjarnegara juga melaporkan adanya guncangan yang membuat warga berhamburan keluar rumah. Di Desa Ploso, Kecamatan Pacitan, dilaporkan terdapat rumah warga yang mengalami kerusakan pada bagian atap dan dinding akibat besarnya energi seismik yang dilepaskan. Fenomena ini menggambarkan betapa masifnya energi gempa yang terjadi di zona subduksi selatan Jawa, yang selama ini memang dikenal sebagai kawasan aktif secara tektonik.
Secara lebih mendetail, BPBD Jawa Timur telah merilis rincian kerusakan bangunan yang terkonsentrasi di dua wilayah utama, yakni Kabupaten Pacitan dan Kota Blitar. Di Kabupaten Pacitan, khususnya di wilayah Kecamatan Pacitan, tercatat sebanyak enam unit rumah warga mengalami kerusakan kategori ringan, yang umumnya berupa retak-retak pada dinding non-struktural dan jatuhnya genteng. Sementara itu, di Kota Blitar, tepatnya di Kecamatan Kepanjenkidul, dampak gempa terasa lebih destruktif dengan adanya satu unit rumah yang mengalami kerusakan kategori sedang serta satu unit tempat usaha berupa kafe yang dilaporkan mengalami kerusakan signifikan pada bagian interior dan struktur bangunannya. Total sementara dampak kerusakan di Jawa Timur mencakup tujuh rumah dan satu fasilitas ekonomi, namun angka ini masih berpotensi berubah seiring dengan proses asesmen yang masih berlangsung di lapangan.
Data Inventarisasi Kerusakan Bangunan:
- Kabupaten Pacitan:
- Kecamatan Pacitan: 6 unit rumah tinggal mengalami kerusakan ringan (retak dinding dan kerusakan atap).
- Kota Blitar:
- Kecamatan Kepanjenkidul: 1 unit rumah tinggal mengalami kerusakan sedang.
- Kecamatan Kepanjenkidul: 1 unit tempat usaha (Cafe) mengalami kerusakan material yang menghambat operasional.
- Total Akumulasi Dampak di Jawa Timur: 7 unit rumah rusak dan 1 tempat usaha terdampak.
Eskalasi Dampak di Wilayah Bantul dan Penanganan Korban Luka
Selain kerusakan yang terjadi di Jawa Timur, wilayah Kabupaten Bantul di Daerah Istimewa Yogyakarta juga melaporkan dampak yang cukup serius akibat gempa yang berpusat di Pacitan ini. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh BPBD Bantul, tercatat ada sedikitnya 13 bangunan yang mengalami kerusakan dengan berbagai tingkat keparahan, mulai dari kerusakan ringan hingga kerusakan struktur yang cukup mengkhawatirkan. Tidak hanya kerugian materiil, aspek kemanusiaan juga menjadi perhatian utama setelah dilaporkan adanya 15 orang warga yang mengalami luka-luka. Para korban mayoritas mengalami cedera akibat tertimpa material bangunan saat berusaha menyelamatkan diri keluar dari rumah atau terjatuh dalam kondisi panik di tengah kegelapan malam. Tim medis dan relawan telah dikerahkan ke titik-titik terdampak di Bantul untuk memberikan pertolongan pertama dan mengevakuasi korban ke fasilitas kesehatan terdekat.
Situasi di lapangan saat gempa terjadi digambarkan sangat mencekam, di mana warga yang sedang tertidur lelap tiba-tiba terbangun oleh guncangan yang sangat kuat dan durasi yang cukup lama. Banyak warga di wilayah pesisir selatan yang langsung berinisiatif lari menuju dataran tinggi karena kekhawatiran akan terjadinya tsunami, meskipun peringatan dini dari BMKG tidak menunjukkan adanya potensi gelombang pasang tersebut. Kondisi psikologis warga, terutama anak-anak dan lansia, menjadi fokus penanganan pasca-bencana oleh pemerintah setempat melalui program dukungan psikososial. Selain itu, BPBD terus melakukan pemantauan terhadap struktur bangunan publik seperti sekolah, rumah sakit, dan perkantoran guna memastikan keamanan sebelum aktivitas normal kembali dijalankan sepenuhnya.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan dari TNI, Polri, BPBD, dan relawan masih terus bersiaga di lokasi-lokasi terdampak untuk membantu proses pembersihan puing-puing bangunan dan memberikan bantuan darurat. Evaluasi menyeluruh terhadap ketahanan bangunan di sepanjang jalur selatan Jawa kembali menjadi sorotan utama para ahli geologi dan kebencanaan. Gempa Pacitan magnitudo 6,5 ini menjadi pengingat penting bagi seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat mengenai pentingnya mitigasi bencana berbasis komunitas serta penerapan standar bangunan tahan gempa di wilayah-wilayah yang memiliki risiko seismik tinggi. Masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi resmi dari kanal BMKG dan BPBD guna menghindari disinformasi atau hoaks yang seringkali beredar pasca terjadinya bencana besar seperti ini.

















