Dinamika Vulkanik Gunung Marapi: Analisis Mendalam Pasca Erupsi Beruntun Januari 2026
Aktivitas vulkanik Gunung Marapi yang terletak di Provinsi Sumatera Barat kembali menunjukkan eskalasi yang signifikan pada awal tahun 2026. Tepat pada hari Senin, 26 Januari 2026, sekitar pukul 11.11 WIB, gunung api yang dikenal sebagai salah satu yang paling aktif di Pulau Sumatera ini memuntahkan material vulkanik ke angkasa. Berdasarkan data teknis yang dihimpun dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Marapi, kolom abu teramati membubung tinggi hingga mencapai 600 meter di atas puncak kawah, atau secara akumulatif berada pada ketinggian sekitar 3.491 meter di atas permukaan laut. Fenomena ini bukan sekadar letusan biasa, melainkan manifestasi dari tekanan magmatik yang terus bergejolak di bawah permukaan Kawah Verbeek, menciptakan kolom abu berwarna kelabu pekat dengan intensitas tebal yang secara visual condong bergerak ke arah timur laut, mengancam wilayah-wilayah di sekitarnya dengan paparan material piroklastik halus.
Secara teknis, letusan yang terjadi pada Senin siang tersebut terekam dengan sangat jelas melalui perangkat seismograf yang terpasang di sekitar lereng gunung. Getaran atau vibrasi yang dihasilkan oleh pelepasan energi dari dalam perut bumi tersebut memiliki amplitudo maksimum mencapai 30,4 milimeter. Angka ini menunjukkan adanya energi kinetik yang cukup besar dalam proses fragmentasi magma saat menembus sumbat kawah. Durasi letusan tercatat berlangsung selama kurang lebih 34 detik, sebuah periode waktu yang cukup untuk melontarkan ribuan meter kubik material abu vulkanik ke atmosfer. Ahmad Rifandi, salah satu petugas ahli di Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Marapi, dalam laporan resminya kepada Badan Geologi, menegaskan bahwa kondisi visual dan seismik ini memerlukan kewaspadaan ekstra, mengingat pola erupsi yang mulai menunjukkan konsistensi dalam frekuensi tinggi sejak awal bulan.
Kronologi dan Perbandingan Aktivitas Seismik Berkelanjutan
Erupsi pada tanggal 26 Januari ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari rangkaian aktivitas vulkanik yang telah terjadi sehari sebelumnya. Pada Minggu, 25 Januari 2026, tepat pukul 14.32 WIB, Gunung Marapi juga tercatat mengalami erupsi yang signifikan. Meskipun pada saat itu visual letusan tidak dapat teramati secara langsung karena tertutup kabut tebal yang menyelimuti puncak setinggi 2.891 meter di atas permukaan laut tersebut, instrumen seismik tetap menangkap adanya aktivitas bawah tanah yang kuat. Rekaman seismograf pada hari Minggu menunjukkan getaran dengan amplitudo maksimum 27,5 milimeter dan durasi gempa letusan selama 28 detik. Perbandingan data antara kedua hari tersebut menunjukkan adanya peningkatan tipis baik pada amplitudo maupun durasi letusan, yang mengindikasikan bahwa suplai magma atau tekanan gas di dalam sistem pipa vulkanik Marapi masih sangat dinamis dan belum menunjukkan tanda-tanda de-eskalasi dalam waktu dekat.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, secara resmi menyatakan bahwa status Gunung Marapi saat ini berada pada Level II atau status Waspada. Penetapan status ini didasarkan pada evaluasi menyeluruh terhadap data kegempaan, deformasi, dan pengamatan visual yang menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik masih berada di atas level normal. Dengan status Waspada ini, Badan Geologi mengeluarkan instruksi tegas bagi seluruh elemen masyarakat, termasuk wisatawan dan para pendaki, untuk tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas atau Kawah Verbeek. Radius sterilisasi ini dianggap sebagai zona bahaya primer yang sangat rentan terhadap lontaran batu pijar, awan panas, maupun gas beracun yang bisa keluar sewaktu-waktu tanpa peringatan dini yang cukup bagi mereka yang berada di area puncak.
Mitigasi Risiko Lahar Dingin dan Ancaman Kesehatan Masyarakat
Selain ancaman langsung dari erupsi berupa abu dan material pijar, Lana Saria juga memberikan peringatan serius mengenai potensi bahaya sekunder, yaitu banjir lahar dingin. Mengingat saat ini wilayah Sumatera Barat sedang memasuki musim penghujan dengan intensitas yang cukup tinggi, tumpukan material vulkanik di sekitar puncak kawah berpotensi terbawa oleh air hujan menuju hilir. Masyarakat yang bermukim di sepanjang lembah atau bantaran sungai-sungai yang berhulu di puncak Kawah Verbeek diminta untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan. Banjir lahar dingin memiliki karakteristik daya hancur yang besar karena membawa material padat berupa pasir dan batu yang dapat merusak infrastruktur serta pemukiman warga yang berada di jalur aliran sungai secara tiba-tiba saat curah hujan di puncak meningkat drastis.
Dampak kesehatan juga menjadi perhatian utama otoritas terkait dalam menghadapi erupsi beruntun ini. Paparan abu vulkanik yang mengandung partikel silika tajam sangat berbahaya bagi sistem pernapasan manusia. Oleh karena itu, jika terjadi hujan abu, masyarakat diimbau untuk selalu menggunakan masker penutup hidung dan mulut guna menghindari risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Selain itu, perlindungan terhadap mata dan kulit juga disarankan untuk mencegah iritasi. Pemerintah daerah di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, yang secara administratif merupakan wilayah yang paling terdampak oleh keberadaan Gunung Marapi, diharapkan terus melakukan sosialisasi dan simulasi evakuasi mandiri guna meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa apabila terjadi eskalasi status gunung api ke level yang lebih tinggi.
Riwayat Erupsi dan Catatan Geologis Gunung Marapi
Gunung Marapi memiliki catatan sejarah erupsi yang panjang dan sering kali bersifat eksplosif. Salah satu peristiwa yang paling membekas dalam ingatan publik terjadi pada 3 Desember 2023, di mana gunung ini mengalami erupsi dahsyat dengan kolom abu mencapai ketinggian 3 kilometer. Peristiwa tersebut menjadi pengingat betapa berbahayanya karakter Marapi yang bisa meletus secara tiba-tiba tanpa didahului oleh peningkatan kegempaan yang signifikan dalam waktu lama. Memasuki tahun 2026, tren aktivitas gunung ini tampaknya kembali meningkat. Sejak awal Januari hingga tanggal 26 Januari 2026, Badan Geologi telah mencatat setidaknya sembilan kali kejadian erupsi yang terdeteksi secara seismik maupun visual. Frekuensi yang mencapai hampir sepuluh kali dalam kurun waktu kurang dari satu bulan ini menunjukkan bahwa Gunung Marapi sedang berada dalam fase aktif yang sangat intens.
Dengan posisi geografis yang dikelilingi oleh pemukiman padat penduduk dan lahan pertanian produktif, pemantauan terhadap Gunung Marapi menjadi prioritas nasional dalam manajemen bencana geologi di Indonesia. Koordinasi antara Badan Geologi, PVMBG, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat menjadi kunci utama dalam upaya mitigasi. Penggunaan teknologi pemantauan jarak jauh serta pembaruan data secara real-time melalui aplikasi kebencanaan diharapkan mampu memberikan informasi yang akurat bagi masyarakat. Masyarakat diminta untuk tidak terpancing oleh isu-isu atau berita bohong (hoaks) yang tidak bersumber dari otoritas resmi, dan tetap mengikuti arahan dari pemerintah daerah serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat demi keselamatan bersama dalam menghadapi dinamika alam yang tidak menentu ini.


















