Jakarta dan sejumlah wilayah di Indonesia berada dalam ancaman potensi cuaca ekstrem yang memerlukan kewaspadaan tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Minggu, 15 Februari 2026, telah mengeluarkan peringatan dini terkait prakiraan hujan dengan intensitas bervariasi, mulai dari ringan hingga sangat lebat, yang diproyeksikan akan melanda sebagian besar wilayah Jabodetabek dan sejumlah provinsi lain. Prediksi cuaca ini, yang mencakup periode krusial 13 hingga 19 Februari 2026, didasarkan pada analisis mendalam terhadap fenomena atmosfer kompleks seperti aktifnya monsun Asia, Indeks Surge, CENS, dan sirkulasi siklonik, menuntut kesiapsiagaan penuh dari masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi.
Pada hari Minggu, 15 Februari 2026, BMKG memprakirakan bahwa hujan dengan intensitas ringan akan mengguyur hampir seluruh wilayah Jabodetabek, kecuali Kepulauan Seribu. Informasi lebih lanjut dari BMKG menegaskan bahwa keenam wilayah administratif DKI Jakarta, yaitu Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Kepulauan Seribu (meskipun Kepulauan Seribu dalam prakiraan umum disebutkan tidak diguyur hujan, untuk konteks DKI Jakarta secara keseluruhan, BMKG memantau seluruh wilayahnya), diprediksi akan mengalami hujan ringan secara merata. Meskipun demikian, status ‘Waspada’ tetap diberikan kepada Jakarta dan sekitarnya dalam peringatan dini hujan hari itu. Status ‘Waspada’ ini bukan tanpa alasan; meskipun hujan yang turun berintensitas ringan, wilayah tersebut masih memiliki potensi signifikan untuk diguyur hujan sedang hingga lebat secara tiba-tiba, yang dapat menimbulkan dampak seperti genangan air atau banjir lokal. Hal ini menunjukkan dinamika cuaca yang cepat berubah dan perlunya masyarakat untuk tetap siaga.
Kondisi kewaspadaan ini bukanlah hal baru. Peringatan dini serupa juga telah dikeluarkan BMKG pada hari sebelumnya, Sabtu, 14 Februari 2026. Namun, prospek cuaca menunjukkan adanya peningkatan signifikan. Untuk hari Senin, 16 Februari 2026, peringatan dini hujan tersebut bahkan ditingkatkan menjadi status ‘Siaga’, yang mengindikasikan bahwa potensi hujan akan meningkat drastis menjadi lebat hingga sangat lebat. Peningkatan status ini menunjukkan adanya akumulasi faktor-faktor meteorologis yang semakin memperkuat potensi curah hujan ekstrem. BMKG secara konsisten memantau dan memperbarui informasi ini agar masyarakat dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.
Peringatan Siaga Hujan Lebat di Berbagai Penjuru Nusantara
Selain Jabodetabek, sejumlah provinsi lain di Indonesia juga telah diberikan status ‘Siaga’ untuk potensi hujan lebat hingga sangat lebat pada hari Minggu, 15 Februari 2026. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Ini mengindikasikan bahwa fenomena cuaca ekstrem tidak hanya terpusat di satu lokasi, melainkan menyebar luas secara regional. Sebagai contoh, di wilayah Jawa, BMKG juga memprediksi hujan ringan di kota-kota seperti Serang, Bandung, dan Semarang. Sementara itu, Yogyakarta berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang, dan yang lebih mengkhawatirkan, Jakarta serta Surabaya diprakirakan akan diguyur hujan disertai petir. Variasi intensitas dan jenis hujan di berbagai kota besar ini menunjukkan kompleksitas pola cuaca yang harus diwaspadai oleh seluruh lapisan masyarakat di wilayah terdampak.
Penting untuk dicatat bahwa Jakarta sendiri, meskipun pada hari Minggu diprakirakan hujan ringan, termasuk dalam daftar daerah yang diminta ‘Siaga’ untuk hujan lebat hingga sangat lebat dalam periode yang lebih luas, yaitu dari 13 hingga 15 Februari 2026. Ini berarti bahwa meskipun ada fluktuasi harian, potensi ancaman hujan ekstrem tetap tinggi selama rentang waktu tersebut. Status ‘Siaga’ ini merupakan tingkat peringatan tertinggi sebelum ‘Awas’, yang mengindikasikan bahwa kondisi cuaca berpotensi sangat membahayakan dan memerlukan tindakan mitigasi serius dari pemerintah dan masyarakat.
Analisis Mendalam: Faktor-faktor Pendorong Cuaca Ekstrem
Fenomena cuaca ekstrem yang diprediksi BMKG ini bukanlah kejadian tunggal, melainkan hasil interaksi kompleks dari beberapa sistem atmosfer. Salah satu faktor utama adalah aktifnya monsun Asia. Monsun Asia adalah sistem angin musiman berskala besar yang membawa massa udara lembap dari Samudra Hindia dan Pasifik ke wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Keaktifan monsun ini diidentifikasi dari dominasi aliran angin timur laut yang berasal dari daratan Asia menuju kawasan Indonesia, membawa suplai massa udara dan perpindahan uap air yang signifikan. Uap air inilah yang menjadi bahan bakar utama pembentukan awan hujan.
Kondisi monsun yang aktif ini diperkuat oleh dua indeks penting, yaitu Indeks Surge dan CENS (Cross Equatorial Northerly Surge), yang diprediksi akan mengalami signifikansi. Surge adalah fenomena seruak angin dingin yang berasal dari Siberia, bergerak ke selatan menuju wilayah Indonesia. Angin dingin ini membawa massa udara yang kering dan padat, yang ketika berinteraksi dengan massa udara hangat dan lembap di wilayah tropis, dapat memicu konveksi kuat dan pembentukan awan cumulonimbus yang menghasilkan hujan lebat. CENS, atau Cross Equatorial Northerly Surge, adalah kondisi di mana seruak angin dingin (Surge) tersebut berhasil melewati garis ekuator. Ketika CENS terjadi, efek pendinginan dan pengangkatan massa udara menjadi lebih kuat di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator, termasuk Jawa, sehingga meningkatkan potensi hujan lebat secara signifikan.

















