Di tengah berpacunya waktu menuju berakhirnya masa tanggap darurat, Tim Search and Rescue (SAR) Gabungan kini mengerahkan kekuatan penuh dengan mengoperasikan sedikitnya 19 unit alat berat guna mempercepat proses evakuasi korban bencana tanah longsor masif yang melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Memasuki hari ke-13 pada Kamis, 5 Februari 2026, operasi kemanusiaan ini difokuskan pada pembersihan material lumpur tebal dan puing bangunan yang menimbun pemukiman warga sejak peristiwa tragis pada Sabtu dini hari, 24 Januari lalu. Dengan tenggat waktu masa tanggap darurat 14 hari yang akan jatuh pada Jumat besok, strategi pencarian kini beralih sepenuhnya dari metode manual ke penggunaan teknologi mekanis secara masif. Langkah ini diambil sebagai upaya terakhir untuk menemukan puluhan warga yang masih dinyatakan hilang di bawah timbunan material debris yang mencapai ribuan meter kubik, sembari tetap mewaspadai potensi pergerakan tanah susulan yang masih mengancam keselamatan personel di lapangan.
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian Permana, menegaskan bahwa optimalisasi alat berat menjadi prioritas utama dalam fase krusial ini. Menurutnya, penggunaan ekskavator dan alat berat lainnya terbukti jauh lebih efektif dalam membongkar lapisan tanah yang telah memadat serta tumpukan material beton rumah warga yang hancur. Hingga hari ke-13, tim di lapangan mulai melakukan pergeseran taktis terhadap unit-unit alat berat tersebut. Fokus operasi yang sebelumnya terkonsentrasi di Sektor A1 kini dipindahkan ke Sektor A2. Keputusan ini diambil berdasarkan analisis lapangan yang menunjukkan adanya penumpukan lumpur yang sangat tebal di area tersebut, yang diduga kuat menjadi titik di mana banyak korban terperangkap saat longsoran terjadi. Pemindahan ini bukan tanpa tantangan, mengingat medan yang curam dan kondisi tanah yang masih labil memerlukan keahlian tinggi dari para operator untuk mencegah alat berat terjebak dalam kubangan lumpur.
Selain mengandalkan kekuatan mesin, operasi SAR ini juga mengintegrasikan teknologi modern dan unit satwa khusus untuk meningkatkan akurasi pencarian. Pesawat nirawak atau drone diterbangkan secara berkala untuk melakukan pemantauan udara guna mendeteksi indikasi pergerakan tanah dari puncak bukit yang dapat memicu longsor susulan. Data visual dari drone ini sangat vital bagi keselamatan tim evakuasi di bawah. Di sisi lain, unit anjing pelacak K-9 dari kepolisian terus dikerahkan untuk melakukan pemetaan titik-titik yang dicurigai terdapat keberadaan korban. Meskipun penggunaan alat berat kini mendominasi, peran anjing K-9 tetap krusial dalam memberikan petunjuk awal bagi operator alat berat mengenai di mana mereka harus melakukan penggalian secara lebih hati-hati guna meminimalisir kerusakan pada jenazah yang ditemukan.
Evaluasi Intensif dan Akselerasi Identifikasi Korban
Hingga Kamis, 5 Februari 2026, pukul 11.00 WIB, laporan resmi dari Kantor SAR Bandung mencatat total kantong jenazah yang berhasil dievakuasi mencapai 92 unit. Angka ini menunjukkan skala bencana yang sangat dahsyat, mengingat jumlah korban jiwa diperkirakan masih akan bertambah karena data warga yang hilang melampaui angka seratus orang. Dari total jenazah yang ditemukan, sebanyak 73 di antaranya telah berhasil diidentifikasi melalui proses saintifik oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Kepolisian Daerah Jawa Barat. Proses identifikasi ini dilakukan dengan sangat teliti di posko medis, melibatkan pencocokan data antemortem dari keluarga korban dengan data postmortem yang ditemukan di lapangan. Kecepatan kerja tim DVI menjadi sangat penting agar jenazah dapat segera diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan secara layak sebelum masa tanggap darurat berakhir.
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Kabasarnas), Mohammad Syafii, yang turun langsung meninjau lokasi bencana di Pasirlangu, memberikan instruksi tegas untuk memaksimalkan setiap jam yang tersisa. Dalam arahannya kepada para komandan unsur dan operator alat berat, Kabasarnas menekankan pentingnya penerapan sistem pembagian shift pengoperasian alat secara nonstop. Dengan sistem ini, mesin-mesin berat diharapkan dapat terus bekerja tanpa henti, sementara para operator dapat beristirahat secara bergantian guna menjaga fokus dan stamina. Kabasarnas menegaskan bahwa koordinasi yang solid antarinstansi, mulai dari TNI, Polri, BPBD, hingga relawan, adalah kunci utama dalam mempercepat proses evakuasi di wilayah yang terdampak parah seperti Kampung Pasirkuning, Pasirkuda, dan Babakan Cibudah.
Kondisi cuaca yang tidak menentu di wilayah Cisarua tetap menjadi hambatan terbesar bagi kelancaran operasi. Curah hujan yang turun hampir setiap sore menyebabkan material longsor kembali menjadi lembek dan berbahaya bagi tim pencari. Ade Dian Permana menjelaskan bahwa protokol keselamatan kerja sangat ketat; pencarian akan segera dihentikan dan seluruh personel ditarik mundur jika hujan mulai turun atau jika sensor drone menunjukkan adanya pergerakan tanah yang mencurigakan di lereng atas. Oleh karena itu, tim SAR berupaya memanfaatkan jendela cuaca cerah di pagi hari dengan seefisien mungkin untuk melakukan penggalian besar-besaran di titik-titik prioritas yang telah dipetakan oleh unit K-9 dan tim geologi.
Analisis Geologi dan Kronologi Tragedi Desa Pasirlangu
Bencana mematikan ini berawal pada Sabtu, 24 Januari 2026, sekitar pukul 02.30 WIB, saat sebagian besar warga sedang terlelap. Gerakan tanah masif terjadi di lereng bagian atas dekat puncak gunung yang kemudian ambrol dan meluncur deras ke bawah. Material longsoran yang terdiri dari tanah, bebatuan besar, dan pepohonan mengalir jauh hingga menghantam tiga pemukiman sekaligus, yakni Kampung Pasirkuning (RT 05 RW 11), Kampung Pasirkuda (RT 01 RW 10), dan Kampung Babakan Cibudah (RT 06 RW 07). Kecepatan aliran material ini membuat warga tidak memiliki waktu untuk menyelamatkan diri, sehingga banyak yang tertimbun di dalam rumah mereka sendiri. Dampak kerusakan mencakup puluhan rumah yang hancur total, fasilitas umum yang rata dengan tanah, serta akses jalan yang terputus total akibat tertutup material debris.
Analisis mendalam dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengungkap fakta teknis yang mengejutkan di balik kecepatan longsoran tersebut. Melalui pemodelan simulasi yang dilakukan, terungkap bahwa energi potensial yang terkumpul pada lereng bagian atas dan tengah sangat besar. Ketika lereng tersebut gagal menahan beban akibat saturasi air hujan, terjadi erosi yang sangat kuat terhadap lereng lembah sungai, mengubah bentuk lembah menjadi huruf V yang curam. Pelaksana harian Kepala PVMBG, Edi Slameto, menjelaskan bahwa hanya dibutuhkan waktu sekitar 1.500 detik atau kurang lebih 20 hingga 25 menit bagi material debris untuk menempuh jarak dari puncak gunung hingga mencapai pemukiman warga di bagian bawah.
Data lapangan juga menunjukkan adanya fenomena suplai material berulang. Peneliti mendeteksi setidaknya terjadi dua hingga tiga kali gelombang suplai material longsoran yang mengarah ke area landaan pemukiman. Hal ini menjelaskan mengapa ketebalan lumpur di lokasi bencana sangat ekstrem dan sulit ditembus tanpa alat berat. Material yang ditemukan di lapangan didominasi oleh tanah dan bongkahan batuan purba yang berasal dari material rombakan lama, yang mengindikasikan bahwa area tersebut secara geologis memang merupakan jalur rawan longsor. Menjelang detik-detik akhir masa tanggap darurat, Badan SAR Nasional bersama seluruh unsur gabungan terus melakukan evaluasi harian dan asesmen lapangan guna menentukan apakah operasi akan diperpanjang atau diakhiri dengan mempertimbangkan aspek keselamatan serta kemungkinan penemuan korban yang tersisa.
















