Dalam sebuah tragedi kemanusiaan yang mengguncang Jawa Barat, bencana longsor dahsyat di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, telah menelan korban jiwa hingga puluhan orang dan menyisakan duka mendalam bagi masyarakat. Peristiwa nahas yang terjadi pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026, ini dipicu oleh runtuhnya gawir raksasa di lereng Gunung Burangrang, yang kemudian menggerus material tanah dan batuan melalui efek lembah berbentuk ‘V’ yang mematikan, menyapu bersih permukiman warga. Hingga sepekan pasca-kejadian, tim SAR gabungan telah berhasil mengevakuasi 60 jenazah, namun sekitar 20 jiwa lainnya masih dinyatakan hilang, memicu kekhawatiran akan ancaman longsor susulan yang terus-menerus disuarakan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Skala kehancuran yang ditimbulkan oleh longsor Cisarua ini sungguh luar biasa. Material longsor yang bergerak dengan kecepatan tinggi tidak hanya meratakan bangunan tetapi juga memusnahkan lahan pertanian dan hutan di jalurnya. Operasi pencarian dan penyelamatan yang melibatkan berbagai elemen, mulai dari Basarnas, TNI, Polri, hingga relawan, terus dilakukan tanpa henti di tengah kondisi medan yang ekstrem dan cuaca yang tidak menentu. Upaya keras ini membuahkan hasil dengan ditemukannya 60 jenazah, namun jumlah korban hilang yang masih belum ditemukan menjadi pengingat pahit akan dahsyatnya bencana tersebut dan betapa sulitnya proses evakuasi di area terdampak.
Upaya Pencarian Intensif dan Identifikasi Korban
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii merinci bahwa pencarian korban longsor Cisarua dilakukan dengan memanfaatkan teknologi canggih dan metode yang teruji. Tim SAR gabungan mengerahkan unit drone UAV (Unmanned Aerial Vehicle) untuk memetakan area terdampak, mengidentifikasi titik-titik potensi keberadaan korban, serta memantau pergerakan tanah yang mungkin terjadi. Selain itu, anjing pelacak K-9 dengan kemampuan penciuman yang tajam juga dikerahkan untuk mendeteksi keberadaan jenazah yang terkubur di bawah timbunan material longsor. “Setelah apel pagi dan briefing pembagian tugas, seluruh Search and Rescue Unit (SRU) dikerahkan ke worksite aktif sesuai hasil asesmen,” jelas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menggambarkan koordinasi ketat dalam operasi ini.
Pada hari Jumat, 30 Januari 2026, tim SAR berhasil menemukan lima kantong jenazah tambahan di tiga lokasi berbeda dalam area bencana. Penemuan ini menambah jumlah total korban yang berhasil dievakuasi menjadi 60 orang. Setiap jenazah yang ditemukan segera dibawa ke posko Disaster Victim Identification (DVI) yang telah didirikan untuk proses identifikasi forensik. Proses DVI ini sangat krusial untuk memastikan identitas korban melalui sidik jari, rekam medis gigi, atau sampel DNA, guna memberikan kepastian dan ketenangan bagi keluarga yang ditinggalkan. Sementara itu, harapan untuk menemukan sekitar 20 jiwa yang dilaporkan hilang masih terus membara, meskipun tantangan medan dan waktu semakin berat.
Tragedi yang Menimpa Prajurit Marinir dan Warga Sipil

















