Jakarta, sebuah megapolitan yang tak pernah lepas dari tantangan alam, kembali dihadapkan pada realitas banjir yang melumpuhkan. Pada Jumat malam, secercah harapan mulai menyelimuti warga di RT 13/RW 04 Kebon Pala, Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur, ketika genangan air yang merendam permukiman mereka akhirnya menunjukkan tanda-tanda surut. Setelah mencapai puncaknya setinggi lebih dari dua meter pada Jumat pagi, ketinggian air kini berangsur turun hingga menyisakan sekitar satu meter. Namun, di balik kabar baik ini, ribuan warga terdampak, khususnya sekitar 30 Kepala Keluarga (KK) atau ratusan jiwa yang didominasi lansia dan bayi, masih harus bertahan di lokasi pengungsian, menghadapi tumpukan lumpur dan kerugian materiil, menanti kapan kehidupan normal bisa kembali.
Kondisi di Kebon Pala, sebuah wilayah yang kerap menjadi langganan banjir di Jakarta Timur, memang sempat mencapai titik kritis. Ketua RT 13/RW 04 Kampung Melayu, Sanusi, menjelaskan bahwa puncak ketinggian air terjadi sekitar pukul 06.00 WIB pada Jumat pagi, di mana genangan melampaui dua meter, menenggelamkan sebagian besar rumah warga hingga atap. Situasi ini memaksa sebagian besar penduduk untuk segera mengevakuasi diri, menyelamatkan barang-barang berharga seadanya, dan mencari perlindungan di tempat yang lebih tinggi. Sejak pukul 10.00 WIB, proses surutnya air mulai terasa, meskipun dengan kecepatan yang terbilang lambat. Fenomena ini, yang seringkali menjadi siklus berulang bagi warga Kebon Pala, menyoroti kerentanan wilayah tersebut terhadap perubahan cuaca ekstrem dan sistem drainase kota yang belum optimal.
Tantangan di Balik Surutnya Air: Lumpur dan Proses Pemulihan yang Lambat
Meskipun ketinggian air telah berkurang signifikan, dari lebih dari dua meter menjadi sekitar satu meter, kondisi ini belum sepenuhnya aman atau memungkinkan warga untuk kembali ke rumah mereka. Genangan setinggi satu meter masih sangat menghambat aktivitas, merendam perabotan, dan meninggalkan lapisan lumpur tebal di setiap sudut rumah. Sanusi mengungkapkan bahwa proses surutnya air, meskipun terus membaik, berlangsung cukup lambat. Ia memperkirakan bahwa banjir baru akan benar-benar surut dan memungkinkan pembersihan total jika tidak ada hujan susulan yang signifikan di wilayah Jakarta dan tidak ada kiriman air dari hulu sungai, seperti Sungai Ciliwung, yang seringkali menjadi pemicu utama banjir di kawasan hilir seperti Kebon Pala. “Mungkin kalau tidak ada hujan dan air kiriman juga tidak dikirim lagi, malam sekitar jam dua atau jam tiga bisa surut,” ucap Sanusi penuh harap, menggambarkan betapa bergantungnya nasib warga pada kondisi cuaca dan manajemen air.
Implikasi dari lambatnya surutnya air dan sisa genangan yang masih tinggi sangat terasa pada kehidupan warga. Sebagian besar dari mereka masih memilih untuk bertahan di lokasi pengungsian yang telah disediakan oleh pemerintah daerah dan komunitas, seperti di beberapa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di sekitar wilayah tersebut. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Kondisi rumah yang masih terendam dan dipenuhi lumpur tebal membuat mereka belum bisa membersihkan atau bahkan sekadar masuk ke dalam. Lumpur sisa banjir tidak hanya merusak struktur bangunan dan perabotan, tetapi juga berpotensi menjadi sarang penyakit jika tidak segera dibersihkan. Proses pembersihan pasca-banjir sendiri merupakan tugas yang sangat berat dan membutuhkan tenaga serta waktu yang tidak sedikit, seringkali melibatkan gotong royong warga dan bantuan dari relawan.
Kerentanan Komunitas: Lansia dan Bayi dalam Pengungsian
Data menunjukkan bahwa di wilayah RT 13/RW 04 saja, terdapat sekitar 30 Kepala Keluarga (KK) yang terdampak langsung oleh banjir, yang jika dihitung secara individu, mencapai ratusan jiwa. Beberapa sumber bahkan menyebutkan angka hingga 317 warga yang mengungsi, menyoroti skala dampak yang cukup besar. Dari jumlah tersebut, mayoritas warga terdampak merupakan kelompok yang paling rentan, yakni lanjut usia (lansia) dan bayi. Keberadaan mereka di lokasi pengungsian menimbulkan tantangan tersendiri bagi pihak berwenang dan relawan. Lansia, dengan kondisi fisik yang seringkali lemah dan membutuhkan perhatian medis khusus, sangat rentan terhadap penyakit yang bisa muncul akibat lingkungan pengungsian yang padat dan sanitasi yang terbatas. Demikian pula dengan bayi, yang membutuhkan lingkungan yang steril, nutrisi yang cukup, dan perlindungan ekstra dari berbagai penyakit pernapasan atau kulit yang rentan menyerang di tengah kondisi darurat.
Pengungsian bagi kelompok rentan ini bukan sekadar masalah tempat tinggal sementara, melainkan juga menyangkut akses terhadap makanan bergizi, air bersih, fasilitas sanitasi yang memadai, serta pelayanan kesehatan. Kondisi psikologis juga menjadi perhatian, terutama bagi lansia yang mungkin merasa cemas dan tidak nyaman dengan perubahan lingkungan mendadak. Komunitas dan pemerintah setempat terus berupaya memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi, mulai dari penyediaan makanan hangat, selimut, obat-obatan, hingga pendampingan psikososial. Koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk lembaga swadaya masyarakat dan sukarelawan, menjadi kunci untuk meringankan beban para pengungsi ini.
Di tengah semua tantangan ini, ada sedikit kelegaan yang dirasakan warga dan pihak berwenang. Berdasarkan informasi terbaru yang diterima dari berbagai sumber, kondisi saat ini terbilang aman, dan tidak ada potensi kenaikan air susulan yang signifikan. “Tidak ada, kali ini aman. Kami sudah cek juga dari sumber informasi lain, semuanya normal,” kata Sanusi, memberikan jaminan yang sangat dibutuhkan di tengah ketidakpastian. Pernyataan ini memberikan harapan bahwa fase terburuk dari banjir telah berlalu dan fokus kini dapat beralih sepenuhnya pada upaya pemulihan. Meskipun demikian, pengalaman pahit ini kembali mengingatkan akan pentingnya mitigasi bencana yang lebih komprehensif, mulai dari peningkatan infrastruktur drainase, pengelolaan sampah, hingga sistem peringatan dini yang efektif, agar warga Kebon Pala dan wilayah rawan banjir lainnya di Jakarta dapat hidup dengan lebih tenang dan aman di masa mendatang.

















