Tragedi memilukan melanda kawasan dataran tinggi Kabupaten Bandung ketika bencana tanah longsor menerjang pemukiman warga di Kampung Mekarsari, Desa Tribakti Mulya, Kecamatan Pangalengan, pada Minggu siang, 1 Februari 2026, sekitar pukul 14.30 WIB. Peristiwa yang dipicu oleh kombinasi curah hujan dan kondisi tanah yang labil ini mengakibatkan dua orang balita meninggal dunia setelah tertimbun material tanah yang meruntuhkan kediaman mereka. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat bersama tim SAR gabungan segera melakukan evakuasi di lokasi kejadian, mencatat adanya kerusakan pada dua unit rumah tinggal serta dampak psikologis mendalam bagi keluarga korban. Insiden ini mempertegas kerentanan wilayah perbukitan di Jawa Barat terhadap pergeseran tanah, bahkan dalam kondisi intensitas hujan yang tergolong ringan sekalipun.
Detail kronologi yang dihimpun dari lapangan menggambarkan situasi yang sangat cepat dan tak terduga. Saat bencana terjadi, kedua korban yang diidentifikasi bernama Aldi Alfarik, seorang bayi laki-laki yang baru menginjak usia 3 bulan, dan kakaknya, Rere Revania yang berusia 5 tahun, dilaporkan sedang berada di dalam rumah. Berdasarkan keterangan tambahan, kedua anak tersebut tengah menyantap makanan di area dapur ketika tebing setinggi 15 meter dengan lebar sekitar enam meter yang berada tepat di belakang rumah mereka tiba-tiba runtuh. Material tanah yang masif langsung menghantam dinding bagian belakang rumah hingga jebol, menimbun kedua balita tersebut di bawah reruntuhan bangunan dan tanah. Meskipun upaya penyelamatan segera dilakukan oleh warga sekitar dan petugas, nyawa kedua balita tersebut tidak dapat tertolong akibat beratnya material yang menghimpit tubuh mereka. BPBD Jawa Barat mengonfirmasi bahwa selain dua korban jiwa, terdapat dua Kepala Keluarga (KK) atau sekitar lima jiwa yang terdampak langsung secara materiil dan non-materiil akibat kerusakan bangunan yang dikategorikan dalam tingkat rusak sedang.
Analisis Geologis dan Respon Cepat Pemerintah Kabupaten Bandung
Secara teknis, BPBD Jawa Barat menggarisbawahi bahwa pemicu utama longsor di Pangalengan bukanlah hujan badai yang ekstrem, melainkan akumulasi air dari hujan ringan yang terus-menerus membasahi tanah dengan struktur yang tidak stabil atau labil. Karakteristik tanah di Desa Tribakti Mulya memang memiliki kemiringan yang curam, sehingga resapan air yang tidak terkelola dengan baik dapat meningkatkan beban massa tanah dan mengurangi daya ikat antar lapisan tanah. Kondisi ini menciptakan bidang gelincir yang sewaktu-waktu dapat memicu pergerakan tanah secara vertikal maupun horizontal. Bupati Bandung, Dadang Supriatna, yang meninjau langsung lokasi rumah duka di RT 03 RW 10 Kampung Mekarsari, menyatakan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban. Dalam kunjungannya, Bupati menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Bandung tidak hanya akan memberikan bantuan darurat, tetapi juga tengah menyiapkan rencana relokasi bagi warga yang tinggal di zona merah rawan longsor. Langkah ini diambil untuk mencegah terulangnya tragedi serupa, mengingat cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan membayangi wilayah Bandung Selatan dalam beberapa pekan ke depan.
Di sisi lain, operasional kemanusiaan juga terus berlangsung secara masif di titik bencana lainnya, yakni di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Kepala Kantor Search and Rescue (SAR) Bandung, Ade Dian, mengungkapkan bahwa tim SAR gabungan telah memasuki fase krusial dalam pencarian korban yang masih hilang. Hingga memasuki hari kesembilan pencarian pada Minggu, 1 Februari 2026, tim telah berhasil mengevakuasi total 74 kantong jenazah dari timbunan material longsor yang sangat luas. Fokus operasi kini diperluas dengan membuka sektor pencarian baru yang disebut sebagai Worksite A3. Pembagian area kerja ini dimaksudkan untuk mengefektifkan pergerakan personel dan alat berat, mengingat medan yang dihadapi sangat menantang dengan ketebalan lumpur yang mencapai beberapa meter. Sinergi antara Basarnas, TNI, Polri, serta berbagai lembaga kementerian dan relawan menjadi kunci utama dalam menjaga profesionalisme dan dedikasi di tengah misi kemanusiaan yang melelahkan ini.
Proses Identifikasi DVI dan Penggunaan Alat Berat dalam Evakuasi
Proses evakuasi di Cisarua menuntut ketelitian tinggi, terutama dalam menangani kondisi jenazah yang ditemukan. Di lokasi Worksite A3, tim SAR gabungan menemukan dua jenazah tambahan, menyusul penemuan dua jenazah sebelumnya di Worksite A2. Seluruh korban yang berhasil dievakuasi langsung diserahkan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat untuk menjalani proses identifikasi medis dan forensik. Hingga saat ini, dari 74 kantong jenazah yang telah ditemukan, tim DVI telah berhasil mengidentifikasi identitas 57 korban secara akurat, sementara sisanya masih dalam proses pencocokan data antemortem dan postmortem. Kendala utama yang dihadapi oleh tim di lapangan adalah kondisi fisik korban yang sudah tidak lagi utuh akibat tertimbun material berat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, penggunaan alat berat seperti ekskavator menjadi sangat vital dalam membuka akses dan memindahkan bongkahan material, namun tetap dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar tidak merusak sisa-sisa jasad yang mungkin ditemukan di bawahnya.
Meskipun cuaca di sekitar Cisarua sempat diwarnai oleh turunnya hujan, Ade Dian menegaskan bahwa hal tersebut tidak menyurutkan semangat tim gabungan untuk terus bekerja. Masih terdapat enam orang korban yang dinyatakan hilang dan diduga kuat masih tertimbun di bawah hamparan tanah longsor. Operasi pencarian ini terus dipantau secara ketat oleh Humas Jabar dan otoritas terkait guna memastikan setiap perkembangan tersampaikan kepada pihak keluarga yang tengah menunggu kepastian. Strategi perluasan area pencarian ke Worksite A3 merupakan langkah taktis berdasarkan hasil evaluasi harian dan analisis pergerakan tanah saat bencana terjadi. Tim SAR gabungan berkomitmen untuk terus melakukan pencarian hingga batas waktu yang ditentukan atau sampai seluruh korban berhasil ditemukan, sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi para korban bencana alam tersebut.
Tragedi di Pangalengan dan Cisarua ini menjadi pengingat keras bagi pemangku kebijakan dan masyarakat mengenai pentingnya mitigasi bencana berbasis tata ruang. Wilayah Kabupaten Bandung dan Bandung Barat yang didominasi oleh topografi perbukitan memerlukan pengawasan ketat terhadap pembangunan hunian di lereng-lereng curam. Selain relokasi yang direncanakan oleh pemerintah daerah, edukasi mengenai tanda-tanda awal pergerakan tanah seperti munculnya retakan di dinding atau tanah harus terus digalakkan kepada warga di tingkat akar rumput. Ke depannya, integrasi sistem peringatan dini (Early Warning System) yang lebih sensitif terhadap curah hujan ringan namun konstan sangat diperlukan untuk meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa di masa mendatang. Pemerintah Provinsi Jawa Barat diharapkan dapat segera melakukan audit lingkungan secara menyeluruh di kawasan-kawasan rawan guna memetakan kembali zona aman bagi pemukiman warga.
| Lokasi Bencana | Waktu Kejadian | Jumlah Korban Meninggal | Kondisi Kerusakan |
|---|---|---|---|
| Kampung Mekarsari, Pangalengan | 1 Februari 2026, 14.30 WIB | 2 Balita | 2 Rumah Rusak Sedang |
| Desa Pasirlangu, Cisarua | Operasi Hari ke-9 (Februari 2026) | 74 Kantong Jenazah Ditemukan | Area Pemukiman Tertimbun Luas |
Keseluruhan operasi penanggulangan bencana ini menunjukkan betapa kompleksnya penanganan pasca-longsor yang melibatkan berbagai lintas sektoral. Dari sisi medis dan kemanusiaan, penanganan korban meninggal dan pendampingan bagi keluarga yang ditinggalkan menjadi prioritas utama. Sementara dari sisi teknis, pembersihan material dan pemulihan infrastruktur dasar terus dikebut agar aktivitas warga tidak lumpuh total. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang, terutama saat berada di wilayah dengan kemiringan tanah yang ekstrem selama musim penghujan ini masih berlangsung. Kerja keras tim SAR gabungan di Cisarua dan respon cepat BPBD di Pangalengan merupakan manifestasi nyata dari kehadiran negara dalam melindungi serta melayani warga yang tertimpa musibah di tengah tantangan alam yang tidak menentu.

















