Bencana alam yang dipicu cuaca ekstrem kembali memakan korban di wilayah Bali Timur, di mana sebuah rumah tinggal yang terletak tepat di bantaran sungai Lingkungan Galiran Kaler, Kelurahan Subagan, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem, dilaporkan ambruk total akibat tanah amblas pada Minggu malam, 15 Februari 2026. Insiden tragis yang terjadi sekitar pukul 23.30 WITA tersebut mengakibatkan sepasang suami istri, Tomi Agus Pratama (29) dan Novita Nurianti (28), tertimbun material bangunan dan tanah longsor saat mereka sedang terlelap tidur. Tingginya intensitas hujan yang mengguyur wilayah Karangasem selama berjam-jam disinyalir menjadi penyebab utama melemahnya struktur tanah di bawah fondasi rumah, yang akhirnya memicu keruntuhan mendadak dan menimbulkan kerugian materiil hingga ratusan juta rupiah serta luka fisik yang serius bagi para korban.
Suasana sunyi di Lingkungan Galiran Kaler seketika berubah mencekam ketika suara dentuman keras yang digambarkan warga sekitar seperti bunyi “gubrak” memecah keheningan malam di tengah rintik hujan yang masih deras. Warga yang terkejut segera berhamburan keluar rumah untuk mencari sumber suara dan mendapati rumah milik pasangan Tomi dan Novita sudah rata dengan tanah, dengan sebagian material bangunan masuk ke aliran sungai. Kondisi geografis bangunan yang berada di pinggir tebing sungai membuat struktur bangunan sangat rentan ketika debit air meningkat dan menggerus dinding tanah di bawahnya. Evakuasi dilakukan secara dramatis oleh warga setempat bersama petugas gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karangasem yang tiba di lokasi tak lama setelah kejadian. Proses penyelamatan berlangsung di bawah guyuran hujan dan kegelapan malam, hingga akhirnya kedua korban berhasil dikeluarkan dari reruntuhan pada Senin, 16 Februari 2026, dini hari.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Karangasem, Ida Bagus Ketut Arimbawa, memberikan penjelasan mendalam mengenai kronologi dan penyebab teknis di balik musibah ini. Berdasarkan hasil kaji cepat atau assessment awal di lapangan, rumah tersebut mengalami kerusakan yang sangat masif dan hampir tidak menyisakan struktur yang utuh. Arimbawa menegaskan bahwa fenomena tanah amblas ini merupakan dampak langsung dari akumulasi air hujan yang menjenuhi tanah (saturasi), sehingga daya dukung tanah terhadap beban bangunan di atasnya hilang seketika. Lokasi rumah yang berada di zona sempadan sungai memang memiliki risiko geologis yang lebih tinggi, terutama saat cuaca buruk melanda wilayah Bali secara umum dan Karangasem secara spesifik.
Kondisi Medis Korban dan Dampak Kerugian Material yang Signifikan
Pasangan suami istri yang menjadi korban dalam peristiwa memilukan ini harus menjalani perawatan intensif akibat luka-luka yang mereka derita. Tomi Agus Pratama, sang suami, mengalami cedera yang jauh lebih kompleks karena posisinya saat tertimbun material beton dan kayu atap. Tim medis melaporkan bahwa Tomi menderita luka terbuka di bagian kepala yang memerlukan penanganan serius, serta luka lecet dan memar di sekujur tubuhnya, mulai dari punggung, tangan, bahu, hingga kedua belah kakinya. Sementara itu, istrinya, Novita Nurianti, meski dalam kondisi yang relatif lebih stabil, tetap mengalami trauma fisik berupa luka lecet di bagian punggung dan syok berat akibat kejadian yang nyaris merenggut nyawa mereka tersebut. Saat ini, keduanya tengah mendapatkan perawatan medis di RS Balimed Karangasem untuk memastikan tidak ada cedera internal yang membahayakan jiwa.
Selain dampak fisik dan psikologis, kerugian secara ekonomi yang dialami oleh keluarga ini tergolong sangat besar. Estimasi awal yang dirilis oleh pihak berwenang menyebutkan angka kerugian mencapai kurang lebih Rp 400 juta. Angka ini mencakup kehancuran total struktur bangunan rumah, kerusakan berbagai peralatan elektronik, perabotan rumah tangga, hingga dokumen-dokumen penting yang ikut tertimbun dan rusak terkena air serta lumpur. Kehilangan tempat tinggal dalam sekejap mata ini menjadi pukulan berat bagi pasangan muda tersebut, mengingat rumah adalah aset utama yang mereka miliki. Pihak BPBD juga mencatat bahwa material bangunan yang ambruk tidak hanya merusak properti pribadi, tetapi juga jatuh ke aliran sungai, yang berpotensi menyumbat arus air dan memicu masalah lingkungan baru jika tidak segera ditangani.
Upaya penanganan pascabencana kini difokuskan pada pembersihan material yang menutup aliran sungai di bawah lokasi kejadian. Ida Bagus Ketut Arimbawa menyatakan bahwa pihaknya telah menjalin koordinasi intensif dengan Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRKIM) Kabupaten Karangasem. Koordinasi ini bertujuan untuk mengerahkan alat berat atau personel tambahan guna mengevakuasi puing-puing bangunan yang menyumbat sungai, guna mencegah terjadinya banjir luapan di area hilir. Langkah mitigasi jangka pendek ini dianggap krusial mengingat prakiraan cuaca menunjukkan bahwa potensi hujan dengan intensitas tinggi masih akan terus membayangi wilayah Karangasem dalam beberapa hari ke depan.
Imbauan Mitigasi dan Kewaspadaan Dini bagi Masyarakat Bantaran Sungai
Menanggapi insiden ini, otoritas terkait mengeluarkan peringatan keras kepada seluruh lapisan masyarakat, terutama bagi mereka yang mendirikan bangunan di daerah rawan bencana seperti lereng perbukitan dan bantaran sungai. BPBD Karangasem menekankan pentingnya kewaspadaan mandiri (self-awareness) di tengah cuaca yang tidak menentu. Masyarakat diminta untuk selalu memantau kondisi struktur tanah di sekitar tempat tinggal mereka, terutama jika muncul retakan-retakan kecil pada tanah atau dinding bangunan setelah hujan lebat, karena hal tersebut seringkali menjadi tanda awal akan terjadinya tanah amblas atau longsor susulan.
- Waspada Curah Hujan: Masyarakat diminta memantau informasi cuaca dari BMKG secara berkala.
- Evakuasi Mandiri: Jika hujan turun dengan intensitas sangat tinggi selama lebih dari dua jam tanpa henti, warga di bantaran sungai disarankan untuk mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman.
- Pengecekan Struktur: Melakukan pemeriksaan rutin pada fondasi rumah yang berada di dekat tebing atau sungai.
- Koordinasi Cepat: Segera melaporkan setiap gejala pergerakan tanah kepada kepala lingkungan atau kantor BPBD setempat.
Kejadian di Kelurahan Subagan ini menjadi pengingat pahit akan bahaya nyata yang mengintai di balik pemukiman yang tidak memperhatikan aspek tata ruang dan keamanan geologis. Pemerintah daerah diharapkan dapat melakukan evaluasi lebih mendalam terkait izin mendirikan bangunan di zona-zona risiko tinggi guna mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan. Sementara itu, bantuan logistik dan dukungan psikososial mulai direncanakan untuk membantu pasangan Tomi dan Novita dalam melewati masa pemulihan pasca-trauma yang mendalam ini, sembari menunggu langkah rekonstruksi yang mungkin bisa dilakukan oleh pihak terkait.

















