Sebuah insiden yang menegangkan terjadi di lereng Gunung Abang, Kintamani, Bangli, Bali, pada Minggu, 25 Januari 2021. Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi seorang pendaki wanita yang mengalami cedera serius berupa patah tulang kaki. Kejadian ini menyoroti kembali tantangan dan risiko yang melekat pada aktivitas pendakian gunung, terutama di medan yang dikenal menantang seperti Gunung Abang.
Korban yang teridentifikasi bernama Paula Shinta Kadek Peter Tamboto, seorang pendaki berusia 42 tahun, dilaporkan tidak dapat melanjutkan perjalanannya setelah terpeleset dan mengalami cedera saat menuruni gunung. Musibah ini terjadi ketika korban bersama dua orang rekannya memulai pendakian pada Minggu pagi, sekitar pukul 05.00 WITA. Meskipun detail pasti mengenai kronologi terpelesetnya korban tidak dirinci, namun dinyatakan bahwa insiden tersebut terjadi pada saat perjalanan turun, sebuah fase yang seringkali lebih rentan terhadap kecelakaan akibat kelelahan dan perubahan fokus.
Operasi Evakuasi yang Cepat dan Terkoordinasi
Permintaan bantuan darurat baru diterima oleh Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar (Basarnas Bali) pada pukul 10.40 WITA. Laporan tersebut datang dari pemandu lokal bernama Nengah Darwis, yang menjadi saksi atau pihak pertama yang mengetahui kondisi korban. Menanggapi laporan tersebut, Basarnas Bali segera mengaktifkan tim tanggap darurat. Koordinator Lapangan Pos SAR Karangasem, I Putu Handika Bhayangkara, menjelaskan bahwa posisi korban saat kejadian dilaporkan berada di sekitar area sebelum Pos 2 Pura Andong, sebuah titik yang cukup tinggi di jalur pendakian.
Tanpa menunda waktu, delapan personel dari Pos SAR Karangasem segera diberangkatkan menuju lokasi kejadian. Namun, operasi pencarian dan evakuasi ini tidak dilakukan secara tunggal. Strategi yang diterapkan adalah pendekatan bertahap untuk memastikan efektivitas dan keamanan tim. Dua orang pemandu lokal yang lebih mengenal medan terlebih dahulu bergerak sebagai tim awal untuk memetakan situasi dan memberikan informasi terkini. Mereka diikuti oleh tim SAR gabungan yang lebih besar, yang terdiri dari personel terlatih dari Pos SAR Karangasem, anggota Babinsa (Bintara Pembina Desa) dari Desa Abang, serta personel dari Polsek (Kepolisian Sektor) Kintamani. Penguatan tim terus dilakukan, dan tak lama kemudian, lima personel tambahan dari Ditsamapta (Direktorat Samapta) Polda (Kepolisian Daerah) Bali turut bergabung untuk memperkuat kapasitas tim evakuasi.
Menemukan Korban di Ketinggian Ekstrem dan Tantangan Cuaca
Perjalanan menuju lokasi korban bukanlah perkara mudah. Tim SAR gabungan harus menempuh medan yang menantang dan terjal selama lebih dari dua jam. Ketekunan dan profesionalisme tim akhirnya membuahkan hasil. Korban, Paula Shinta Kadek Peter Tamboto, berhasil ditemukan pada ketinggian 1.971 meter di atas permukaan laut (Mdpl) sekitar pukul 15.10 WITA. Meskipun mengalami cedera yang cukup serius, kondisi korban dilaporkan stabil saat ditemukan. Patah tulang pada kaki kanannya menjadi fokus utama penanganan medis awal.
Namun, keberhasilan menemukan korban hanyalah separuh dari perjuangan. Proses evakuasi korban dari ketinggian tersebut berlangsung dalam kondisi yang sangat dramatis. Gunung Abang, yang dikenal dengan keindahan alamnya, juga dapat menyajikan tantangan cuaca yang ekstrem. Saat proses evakuasi berlangsung, cuaca di Gunung Abang memburuk secara signifikan. Hujan deras mulai mengguyur lokasi, disertai dengan kabut tebal yang sangat membatasi jarak pandang. Jarak pandang tim SAR dilaporkan hanya berkisar antara 8 hingga 10 meter, sebuah kondisi yang sangat membahayakan dan mempersulit pergerakan.
Di tengah kondisi cuaca yang buruk dan medan yang sulit, tim medis yang tergabung dalam tim SAR segera memberikan pertolongan pertama kepada korban. Penanganan awal yang krusial dilakukan dengan memasang bidai pada kaki kanan korban. Pemasangan bidai ini bertujuan untuk meminimalisir pergerakan pada bagian yang patah, mencegah cedera lebih lanjut, dan mengurangi rasa sakit sebelum korban dapat ditandu turun. Proses evakuasi yang memakan waktu hingga petang ini melibatkan upaya kolaboratif dari puluhan personel yang berasal dari berbagai unsur. Keterlibatan mereka mencakup personel TNI (Tentara Nasional Indonesia)/Polri, perangkat desa setempat, anggota potensi SAR dari Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) Primakara, serta para pemandu lokal dari Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Abang Erawang. Sinergi lintas sektoral ini menjadi kunci keberhasilan evakuasi.
Setelah perjuangan yang melelahkan dan penuh ketegangan, korban akhirnya berhasil dibawa turun dari Gunung Abang. Setibanya di kaki gunung, Paula Shinta Kadek Peter Tamboto segera mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Ia dilarikan ke Rumah Sakit BROSS Denpasar menggunakan ambulans yang disediakan oleh Klinik Nawadara Karangasem. Penanganan medis yang cepat dan profesional di rumah sakit diharapkan dapat memastikan pemulihan penuh bagi korban. Insiden ini menjadi pengingat penting bagi para pendaki untuk selalu mempersiapkan diri dengan baik, memahami risiko medan, dan mengikuti prosedur keselamatan yang berlaku saat menjelajahi keindahan alam Indonesia.


















