Kawasan permukiman padat penduduk di Kebon Pala, Kelurahan Kampung Melayu, Jakarta Timur, kembali lumpuh total akibat terjangan banjir luapan Sungai Ciliwung pada Kamis (29/1/2026) pagi dengan ketinggian air mencapai puncaknya di angka 135 sentimeter. Fenomena alam tahunan yang terus berulang ini memaksa ribuan warga di lingkungan RT 13/RW 04 untuk menghentikan seluruh aktivitas normal mereka saat debit air mulai merangkak naik secara signifikan sejak dini hari, menciptakan pemandangan “kampung air” yang mencekam namun ironisnya sudah menjadi bagian dari ritme keseharian warga setempat. Meski dikepung air setinggi dada orang dewasa, mayoritas penduduk memilih untuk tidak segera mengungsi ke posko darurat milik pemerintah, melainkan tetap bertahan di lantai dua rumah masing-masing sembari menjaga harta benda mereka dari ancaman kerusakan lebih lanjut akibat rendaman air yang kotor, dingin, dan berlumpur.
Kondisi ini diperparah oleh siklus cuaca ekstrem yang membuat warga seolah tidak memiliki waktu untuk sekadar menarik napas lega. Joni, salah satu warga yang terdampak langsung oleh bencana ini, mengungkapkan rasa lelah sekaligus pasrah yang mendalam saat menghadapi pola banjir yang datang bertubi-tubi. Ia menceritakan bahwa sebelum genangan setinggi 135 sentimeter ini melumpuhkan wilayahnya, kawasan Kebon Pala sebenarnya sudah diterjang banjir besar selama empat hari berturut-turut tanpa jeda yang berarti. Luapan air sungai yang tidak terkendali membuat lantai dasar rumah warga terendam sepenuhnya, memaksa mereka memindahkan seluruh perabotan elektronik dan furnitur ke tempat yang lebih tinggi dalam waktu singkat.
“Kemarin tuh banjir yang agak gede itu, itu berturut-turut empat hari. Dikasih istirahat nih sehari dua hari, mulai lagi. Mulai banjir baru. Cuma ya lumayan,” ucap Joni dengan nada bicara yang mencerminkan keletihan fisik luar biasa. Jeda waktu satu atau dua hari yang disebut Joni sebagai “masa istirahat” sebenarnya bukanlah waktu luang yang bisa dinikmati untuk bersantai, melainkan periode krusial bagi warga untuk menyikat lantai dari endapan lumpur tebal yang licin dan berbau menyengat, serta menjemur sisa-sisa perabotan yang sempat terendam sebelum gelombang banjir berikutnya datang menerjang kembali. Siklus “bersih-kotor-bersih” ini telah menguras energi dan materi warga Kebon Pala selama bertahun-tahun tanpa ada kepastian kapan penderitaan ini akan berakhir secara permanen.
Siklus Banjir yang Tak Berujung di Bantaran Ciliwung
Data yang dihimpun di lapangan menunjukkan bahwa kenaikan air mulai dirasakan warga sejak subuh, di mana air merembes masuk melalui celah-celah pintu dan saluran pembuangan. Ketua RT 13/RW 04 Kampung Melayu, Sanusi, mengonfirmasi bahwa hingga pukul 08.30 WIB, ketinggian air tetap bertahan di angka 135 sentimeter dan menunjukkan tanda-tanda akan terus naik jika intensitas hujan di wilayah hulu tidak segera mereda. “Pagi ini, sekarang pukul 08.30 WIB, ketinggian air sudah mencapai 135 sentimeter,” kata Sanusi saat memberikan keterangan resmi kepada awak media. Menurutnya, banjir kali ini merupakan akumulasi dari tingginya curah hujan di kawasan Bogor dan Depok yang mengirimkan debit air dalam volume besar melalui aliran Sungai Ciliwung, sementara drainase di wilayah hilir tidak mampu menampung beban air yang meluap melewati tanggul-tanggul pembatas.
Meskipun situasi sudah masuk dalam kategori waspada, pemandangan di Kebon Pala menunjukkan anomali sosial yang unik. Tidak terlihat kepanikan massal atau eksodus besar-besaran menuju tempat pengungsian. Warga setempat, yang sudah terbiasa dengan karakteristik Sungai Ciliwung, memilih untuk menetap di rumah mereka. Strategi bertahan di lantai dua menjadi pilihan utama karena dianggap lebih praktis daripada harus berdesakan di tenda pengungsian yang seringkali minim privasi dan fasilitas sanitasi. Di lantai dua tersebut, warga telah menyiapkan stok makanan darurat, air bersih, serta alat komunikasi untuk terus memantau perkembangan status ketinggian air melalui grup pesan singkat warga maupun aplikasi pemantau banjir milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Ketahanan Warga di Tengah Kepungan Air Setinggi Dada
Keberanian warga untuk tetap tinggal di tengah kepungan air setinggi 1,3 meter ini bukannya tanpa risiko. Ancaman penyakit kulit, leptospirosis, hingga bahaya arus listrik selalu mengintai setiap kali banjir datang. Namun, bagi warga Kebon Pala, menjaga rumah adalah prioritas yang tidak bisa ditawar. Mereka khawatir jika rumah ditinggalkan dalam keadaan kosong, sisa-sisa harta benda yang masih selamat bisa hilang dijarah atau mengalami kerusakan yang lebih parah karena tidak terpantau. Selain itu, mobilitas warga di dalam kawasan yang terendam dilakukan dengan menggunakan perahu karet swadaya atau sekadar berjalan kaki dengan sangat hati-hati menembus arus air yang cukup deras di beberapa titik gang sempit.
Kebutuhan akan logistik menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang bertahan di lantai dua. Karena akses jalan terputus total dan kendaraan bermotor tidak mungkin digunakan, warga sangat bergantung pada bantuan makanan siap saji dari dapur umum atau kiriman dari kerabat yang tinggal di area yang lebih tinggi. Beberapa warga bahkan terlihat menggunakan tali dan ember untuk menarik bantuan makanan dari perahu petugas ke balkon lantai dua rumah mereka. Interaksi sosial antar tetangga juga menguat dalam kondisi darurat ini, di mana warga saling berteriak dari satu balkon ke balkon lainnya untuk memastikan keselamatan satu sama lain dan berbagi informasi mengenai kondisi terkini di hulu sungai.
Dampak Infrastruktur dan Harapan Solusi Permanen
Secara infrastruktur, banjir yang merendam Kebon Pala selama berhari-hari ini menyebabkan kerusakan yang masif pada fasilitas umum. Jalan-jalan lingkungan yang terbuat dari aspal dan konblok mulai mengelupas, sementara tembok-tembok rumah warga nampak kusam dan berlumut akibat seringnya terendam air. Kerugian ekonomi yang diderita warga pun tidak sedikit; mulai dari kerusakan kendaraan bermotor yang tidak sempat dievakuasi, hingga hilangnya pendapatan harian bagi mereka yang bekerja di sektor informal karena tidak bisa keluar rumah untuk mencari nafkah. Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya memberikan bantuan jangka pendek berupa sembako, tetapi juga mempercepat proyek normalisasi atau sodetan yang diharapkan bisa mengurangi beban debit air di titik-titik rawan seperti Kampung Melayu.
Berikut adalah rincian kondisi terkini banjir di kawasan Kebon Pala, Kampung Melayu:
| Parameter Kondisi | Detail Informasi |
|---|---|
| Lokasi Terdampak | RT 13/RW 04, Kebon Pala, Kampung Melayu, Jakarta Timur |
| Ketinggian Air Maksimal | 135 Sentimeter (Setinggi Dada Dewasa) |
| Waktu Kejadian | Kamis, 29 Januari 2026 (Pukul 08.30 WIB) |
| Status Pengungsian | Warga bertahan di lantai dua rumah masing-masing |
| Penyebab Utama | Luapan Sungai Ciliwung akibat hujan di wilayah hulu |
Hingga Kamis siang, cuaca di langit Jakarta Timur terpantau mendung pekat, yang menambah kekhawatiran warga akan adanya banjir susulan. Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan tim SAR tetap bersiaga di sekitar lokasi untuk melakukan evakuasi jika sewaktu-waktu ketinggian air meningkat drastis melebihi batas aman. Bagi Joni dan ribuan warga Kebon Pala lainnya, hari ini hanyalah satu lagi babak dalam perjuangan panjang mereka melawan alam, sembari terus berharap bahwa suatu hari nanti, “istirahat” yang mereka dapatkan bukan lagi sekadar jeda dua hari di antara dua banjir, melainkan ketenangan permanen tanpa bayang-bayang luapan Sungai Ciliwung.


















