- Project Bioetanol Glenmore – Banyuwangi, Jawa Timur: Proyek ini merupakan langkah berani dalam mendukung transisi energi nasional. Terletak di kawasan perkebunan tebu Glenmore, pabrik ini akan mengolah molase atau produk sampingan gula menjadi bioetanol berkualitas tinggi. Inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada bahan bakar fosil impor melalui program pencampuran bahan bakar nabati (biofuel), sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani tebu di wilayah Jawa Timur.
- Fasilitas Pengolahan dan Pemurnian Bauksit menjadi Alumina (Smelter Grade Alumina Refinery – SGAR Fase 2) – Mempawah, Kalimantan Barat: Melanjutkan kesuksesan fase pertama, SGAR Fase 2 bertujuan untuk memaksimalkan kapasitas pemurnian bauksit menjadi alumina secara domestik. Dengan teknologi mutakhir, fasilitas ini akan memastikan bahwa cadangan bauksit Indonesia yang melimpah tidak lagi diekspor dalam bentuk mentah, melainkan diolah menjadi produk antara yang bernilai jauh lebih tinggi.
- Fasilitas Pengolahan dan Pemurnian Alumina menjadi Aluminium (New Smelter Aluminium) – Mempawah, Kalimantan Barat: Ini merupakan kelanjutan integral dari rantai pasok bauksit. Dengan mengubah alumina menjadi aluminium batangan (ingot), Indonesia selangkah lebih dekat untuk menjadi pemain kunci dalam industri otomotif dan konstruksi global. Keberadaan smelter baru ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan aluminium domestik yang selama ini masih banyak dipasok melalui impor.
- Project Biorefinery – Cilacap, Jawa Tengah: Berlokasi di pusat industri energi Jawa Tengah, proyek biorefinery ini akan memfokuskan pada pengolahan bahan baku terbarukan menjadi produk kimia dan bahan bakar hijau. Proyek ini mengintegrasikan teknologi pemurnian modern untuk menghasilkan energi yang lebih ramah lingkungan, sejalan dengan komitmen Indonesia menuju Net Zero Emission.
- Pabrik Garam dan Mechanical Vapour Recompression (MVR) – Gresik, Manyar, dan Sampang: Proyek ini bertujuan untuk mengatasi masalah klasik industri garam nasional, yakni kualitas garam rakyat yang seringkali tidak memenuhi standar industri. Dengan teknologi MVR, pabrik ini akan memproduksi garam industri berkualitas tinggi secara efisien, sehingga industri manufaktur dan kimia nasional tidak perlu lagi melakukan impor garam dalam jumlah besar.
- Fasilitas Integrated Poultry – Malang, Gorontalo Utara, Lampung Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat (NTB): Proyek hilirisasi pangan ini tersebar di enam wilayah strategis untuk menciptakan ketahanan pangan yang merata. Fasilitas peternakan unggas terintegrasi ini mencakup pakan ternak, pembibitan, hingga pengolahan daging unggas, yang bertujuan untuk menstabilkan harga pasar dan meningkatkan asupan protein masyarakat secara nasional.
Akselerasi Investasi dan Visi Hilirisasi Presiden Prabowo
Rosan Roeslani menambahkan bahwa percepatan proyek hilirisasi ini bukan sekadar rencana sektoral, melainkan prioritas utama di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Dalam berbagai kesempatan rapat terbatas, Presiden secara eksplisit meminta agar seluruh hambatan birokrasi dan teknis dalam proyek hilirisasi segera diselesaikan. Hal ini dikarenakan hilirisasi dianggap sebagai jalan pintas paling efektif untuk memberikan dampak kesejahteraan langsung kepada masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan per kapita. Danantara, dalam hal ini, bertindak sebagai mesin penggerak yang memastikan modal mengalir ke proyek-proyek yang memiliki urgensi tinggi dan dampak sosial-ekonomi yang nyata.
Data menunjukkan bahwa kontribusi sektor hilirisasi terhadap total investasi nasional terus menunjukkan tren kenaikan yang sangat signifikan. Menurut Rosan, pada tahun 2025 mendatang, investasi di sektor hilirisasi diproyeksikan akan menyumbang sekitar 30% dari total target investasi nasional. Angka ini mencerminkan lonjakan tajam sebesar 43,3% dibandingkan periode sebelumnya, dengan nilai nominal mencapai Rp580,4 triliun. “Kalau kita lihat kontribusi hilirisasi terus mengalami peningkatan. Di tahun 2025 investasi hilirisasi menyumbang 30% atau naik hingga 43,3% menjadi Rp 580,4 triliun,” tandas Rosan. Angka investasi yang fantastis ini diharapkan menjadi katalisator bagi pertumbuhan sektor-sektor pendukung lainnya, mulai dari logistik, transportasi, hingga UMKM di sekitar lokasi proyek.
Keberhasilan groundbreaking enam proyek ini juga menandai babak baru dalam diplomasi ekonomi Indonesia. Dengan nilai investasi mencapai 7 miliar dolar AS pada fase awal saja, Danantara menunjukkan kemampuannya dalam menarik kepercayaan pasar dan mengelola modal skala besar secara profesional. Pemerintah optimistis bahwa dengan beroperasinya fasilitas-fasilitas ini dalam beberapa tahun ke depan, struktur ekonomi Indonesia akan jauh lebih tangguh menghadapi gejolak global. Hilirisasi bukan lagi sekadar slogan, melainkan realitas industri yang sedang dibangun di 13 daerah dari ujung barat hingga timur Indonesia, demi mewujudkan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif bagi seluruh rakyat Indonesia.
















