Insiden dugaan keracunan massal yang melibatkan ratusan pelajar mengguncang Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, setelah para siswa mengonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis, 29 Januari 2026. Peristiwa memprihatinkan ini mengakibatkan sedikitnya 132 pelajar dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), harus dilarikan ke fasilitas kesehatan setempat guna mendapatkan perawatan medis intensif. Gejala klinis yang dilaporkan meliputi mual parah, muntah-muntah, diare akut, nyeri perut hebat, hingga kondisi fisik yang melemas secara drastis. Hingga saat ini, otoritas kesehatan dan pihak kepolisian tengah melakukan investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab pasti di balik kontaminasi makanan yang bersumber dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuwus Barat Kolang tersebut.
Kondisi darurat mulai terlihat sejak Kamis sore di Puskesmas Golo Welu, di mana puluhan pelajar tampak memenuhi ruang perawatan dengan kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan pantauan di lokasi, pemandangan memilukan terlihat dari deretan siswa yang terbaring lemah dengan jarum infus tertancap di tangan mereka, sementara sebagian lainnya duduk dengan wajah pucat pasi menahan rasa sakit di bagian abdomen. Tenaga medis di Puskesmas Golo Welu dikerahkan secara penuh untuk memberikan pertolongan pertama guna mencegah dehidrasi berat pada para korban. Kepala Desa Pangga, Patrisius Suwandi, memberikan kesaksian bahwa gelombang pasien tidak hanya berasal dari SMP Negeri 2 Kuwus, tetapi juga menyebar ke beberapa sekolah lain di wilayah tersebut, yang mengindikasikan adanya distribusi makanan yang luas dari satu sumber produksi yang sama.
Data terbaru menunjukkan skala dampak yang jauh lebih besar dari laporan awal, di mana tercatat ada sekitar 132 siswa yang terindikasi mengalami gejala keracunan. Menariknya, pada hari kejadian tersebut, dapur SPPG Kuwus Barat Kolang memproduksi sekitar 2.000 porsi makanan untuk didistribusikan ke berbagai sekolah di wilayah Kuwus. Meskipun jumlah korban mencapai ratusan, angka tersebut merupakan sebagian kecil dari total porsi yang dibagikan, yang kini menjadi fokus utama penelitian epidemiologi oleh Dinas Kesehatan. Munculnya gejala yang seragam pada ratusan anak dalam waktu yang hampir bersamaan setelah mengonsumsi menu yang sama memperkuat dugaan adanya masalah pada standar keamanan pangan atau prosedur sanitasi dalam proses pengolahan makanan di dapur mitra Badan Gizi Nasional (BGN) tersebut.
Investigasi Laboratorium dan Pengawasan Satuan Pelayanan Gizi
Menanggapi situasi kritis ini, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, Adrianus Ojo, menegaskan bahwa pihaknya telah mengambil langkah cepat dengan mengamankan sampel makanan yang dikonsumsi para siswa untuk diuji di laboratorium. Proses penelitian ini sangat krusial untuk mengidentifikasi apakah terdapat kontaminasi bakteri seperti Salmonella atau E. coli, ataukah ada unsur kimiawi yang tidak sengaja masuk ke dalam rantai produksi makanan. Adrianus meminta masyarakat, terutama para orang tua siswa, untuk tetap tenang dan bersabar menunggu hasil uji laboratorium resmi yang sedang berjalan. Kehati-hatian dalam menentukan penyebab utama menjadi prioritas agar tidak terjadi kesimpulan prematur yang dapat menimbulkan kepanikan lebih luas di tengah masyarakat Manggarai Barat.
Di sisi lain, Ketua Satgas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus Sekretaris Daerah Manggarai Barat, Fransiskus Sodo, menyatakan bahwa tim gabungan dari Badan Gizi Nasional (BGN) dan Dinas Kesehatan sudah diterjunkan langsung ke lapangan. Tim ini bertugas melakukan audit menyeluruh terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuwus Barat, termasuk memeriksa rantai pasok bahan baku, kebersihan dapur, hingga prosedur distribusi makanan ke sekolah-sekolah. Hans Sodo menekankan pentingnya transparansi dalam kasus ini, mengingat program MBG merupakan inisiatif strategis nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak sekolah. Kegagalan dalam aspek keamanan pangan pada program ini menjadi evaluasi serius bagi Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dan mitra pelaksana yang terlibat dalam pengelolaan dapur tersebut.
Langkah Penegakan Hukum dan Evaluasi Keamanan Pangan
Pihak kepolisian dari Sektor Kuwus juga tidak tinggal diam dalam menyikapi tragedi kesehatan ini. Kapolsek Kuwus, IPTU Arsianus Lentar, mengonfirmasi bahwa personelnya tengah sibuk mengumpulkan data, meminta keterangan saksi-saksi, dan menyusun berkas laporan awal terkait insiden ini. Koordinasi intensif dilakukan dengan Humas Polres Manggarai Barat untuk memastikan alur informasi kepada publik tetap satu pintu dan akurat. Kepolisian akan mendalami apakah ada unsur kelalaian (negligence) dalam proses pengolahan makanan yang melanggar Undang-Undang Perlindungan Konsumen atau regulasi terkait kesehatan masyarakat. Penyelidikan ini mencakup pemeriksaan terhadap vendor atau yayasan mitra yang bertanggung jawab atas operasional dapur SPPG di wilayah tersebut.
Dampak dari peristiwa ini meluas hingga ke unit kesehatan terkecil, di mana beberapa siswa yang mengalami gejala lebih ringan terpaksa dirawat di Puskesmas Pembantu (Pustu) karena keterbatasan daya tampung di Puskesmas Golo Welu. Kepala Puskesmas Golo Welu, Yoseph Sudi, bersama tim medis terus memantau perkembangan kesehatan para siswa secara berkala untuk memastikan tidak ada korban yang mengalami komplikasi lebih lanjut. Sementara itu, Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Wilayah Manggarai Barat, Damniaulfi Ningrum, hingga kini masih belum memberikan pernyataan resmi terkait mekanisme pengawasan yang dilakukan terhadap dapur-dapur penyedia MBG di wilayahnya, yang kini menjadi sorotan tajam publik terkait standar operasional prosedur (SOP) keamanan pangan.
Kejadian di Kecamatan Kuwus ini menjadi alarm keras bagi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur. Keamanan pangan harus menjadi pilar utama yang tidak boleh dikompromikan demi mengejar target distribusi porsi makanan. Diperlukan sistem pengawasan yang lebih ketat, mulai dari pemilihan bahan baku yang segar, proses memasak yang higienis, hingga penggunaan wadah distribusi yang steril. Masyarakat kini menantikan hasil investigasi resmi dan menuntut adanya pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang lalai, sekaligus berharap agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan demi menjamin keselamatan dan kesehatan generasi penerus bangsa di Manggarai Barat.


















