top losers pada penutupan sesi I hari ini:
- PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG): Mengalami kejatuhan terdalam dengan penurunan sebesar 15,00 persen, membawa harganya ke level Rp 1.105 per lembar saham.
- PT GTS Internasional Tbk (GTSI): Turun tajam 15,00 persen dan mendarat di level harga Rp 238 per lembar saham.
- PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA): Emiten tambang emas dan tembaga ini terkoreksi 14,95 persen ke level Rp 2.730, tertekan oleh sentimen komoditas dan aksi jual asing.
- PT Archi Indonesia Tbk (ARCI): Mencatatkan penurunan sebesar 14,93 persen, sehingga harganya terjerembab ke posisi Rp 1.510.
- PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA): Menutup jajaran top losers dengan koreksi 14,92 persen ke level Rp 1.055 per lembar saham.
Pelemahan ini tidak hanya terbatas pada sektor energi dan tambang, tetapi juga merambat ke sektor properti, infrastruktur, dan keuangan. Indeks saham unggulan lainnya, yakni LQ45, yang berisi 45 saham dengan likuiditas tinggi dan fundamental kuat, juga tidak luput dari koreksi. Indeks LQ45 tercatat melemah 33,16 poin atau 3,98 persen ke posisi 800,37. Hal ini menunjukkan bahwa aksi jual terjadi secara merata, bahkan pada saham-saham yang dianggap sebagai “blue chip” atau saham lapis satu di bursa domestik.
Sentimen Regional Asia dan Pandangan Analis Ekonomi
Keterpurukan IHSG pada siang ini sejalan dengan kondisi bursa saham di kawasan Asia yang mayoritas juga bersimbah darah. Investor global tampaknya sedang menghindari aset berisiko (risk-off) menyusul ketidakpastian ekonomi di kawasan tersebut. Berikut adalah kondisi bursa saham utama Asia pada jeda siang ini:
- Indeks Nikkei 225 (Jepang): Mengalami penurunan sebesar 0,83 persen atau berada di level 52.881,101.
- Indeks Hang Seng (Hong Kong): Terkoreksi sangat dalam sebesar 2,49 persen ke level 26.705,210.
- Indeks Shanghai Composite (China): Melemah 1,40 persen ke posisi 4.060,419.
- Indeks Straits Times (Singapura): Turun tipis 0,37 persen ke level 4.886,740.
Menanggapi fenomena anjloknya IHSG hingga lebih dari 5 persen ini, ekonom keuangan sekaligus praktisi pasar modal, Hans Kwee, memberikan pandangan yang lebih mendalam. Menurutnya, pelemahan tajam IHSG kali ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental seluruh perusahaan yang tercatat di bursa. Ia menilai ada faktor teknis dan kebijakan indeks global yang lebih dominan mempengaruhi pergerakan harga saham-saham berbobot besar. “Pelemahan IHSG ini bersifat terkonsentrasi pada saham-saham tertentu yang memiliki bobot besar terhadap indeks, sehingga ketika saham-saham tersebut turun signifikan, angka indeks komposit akan terlihat jatuh sangat dalam,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hans Kwee mengingatkan para investor untuk tetap tenang dan tidak terjebak dalam kepanikan (panic selling) yang berlebihan. Meskipun secara teknikal IHSG terlihat sangat bearish, namun bagi investor jangka panjang, koreksi dalam seperti ini seringkali menjadi kesempatan untuk melakukan akumulasi pada saham-saham yang memiliki fundamental solid namun harganya terdiskon akibat sentimen pasar. Kendati demikian, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat volatilitas pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi hingga penutupan sesi II sore nanti, terutama menunggu respons pasar Amerika Serikat dan perkembangan kebijakan ekonomi global lebih lanjut.
| Indikator Pasar | Nilai/Posisi | Perubahan (%) |
|---|---|---|
| IHSG (Sesi I) | 7.887,16 | -5,31% |
| Nilai Transaksi | Rp 18,942 Triliun | – |
| Volume Perdagangan | 35,351 Miliar Saham | – |
| Kapitalisasi Pasar | Rp 14.205,64 Triliun | – |

















