Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, secara resmi memperkuat eksistensi diplomatiknya di panggung internasional pasca-masa jabatan dengan menghadiri rangkaian agenda prestisius Bloomberg New Economy Forum yang diselenggarakan di New Delhi, India. Kedatangan tokoh yang akrab disapa Jokowi ini di ibu kota India pada Kamis, 19 Februari 2026, menandai partisipasi aktifnya dalam mendiskusikan arah masa depan ekonomi global, khususnya terkait kedaulatan teknologi dan kecerdasan buatan. Kehadiran Jokowi di New Delhi bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan representasi dari pengaruh berkelanjutan Indonesia dalam forum-forum strategis dunia, di mana ia dijadwalkan menjadi bagian dari diskusi eksklusif yang mempertemukan para pemimpin politik, inovator teknologi, dan pembuat kebijakan global untuk merumuskan solusi atas tantangan ekonomi baru yang semakin kompleks.
Setibanya di Bandara Internasional Indira Gandhi, New Delhi, Joko Widodo yang berangkat dari kediamannya di Solo disambut dengan protokol kenegaraan yang hangat dan penuh penghormatan. Ajudan setia beliau, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Syarif Muhammad Fitriansyah, mengonfirmasi bahwa prosesi penyambutan dipimpin langsung oleh Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Republik India, Ina Hagniningtyas Krisnamurthi. Kehadiran Dubes Ina di landasan pacu menunjukkan betapa pentingnya kunjungan ini bagi hubungan bilateral kedua negara, meskipun kapasitas Jokowi saat ini adalah sebagai anggota dewan penasihat global. Melalui pesan singkat yang dikirimkan pada Kamis malam, Syarif menjelaskan bahwa kondisi fisik dan semangat mantan orang nomor satu di Indonesia tersebut sangat prima untuk mengikuti serangkaian agenda padat yang telah disiapkan oleh panitia Bloomberg Live di jantung pemerintahan India tersebut.
Urgensi Kedaulatan Kecerdasan Buatan dalam Diskusi Global
Fokus utama dari kehadiran Joko Widodo dalam forum kali ini adalah sebuah sesi diskusi mendalam yang dikemas dalam format sarapan pagi (breakfast discussion) dengan tema yang sangat krusial bagi masa depan bangsa-bangsa, yakni “Kedaulatan Kecerdasan Buatan” atau AI Sovereignty. Diskusi ini dijadwalkan berlangsung pada Jumat pagi, 20 Februari 2026, mulai pukul 07.30 hingga 09.00 waktu setempat, bertempat di Grand Ballroom The Leela Palace Hotel, sebuah lokasi yang dikenal sebagai salah satu hotel paling mewah dan ikonik di New Delhi yang sering menjadi pusat pertemuan diplomatik tingkat tinggi. Isu kedaulatan AI menjadi sangat relevan bagi Jokowi, mengingat selama masa kepemimpinannya di Indonesia, ia selalu menekankan pentingnya perlindungan data nasional dan pengembangan infrastruktur digital yang mandiri agar negara tidak hanya menjadi pasar bagi teknologi asing, tetapi juga menjadi pemain kunci dalam ekosistem teknologi global.
Sesi diskusi yang sangat dinantikan ini akan dipandu oleh dua tokoh senior dari jaringan media Bloomberg, yaitu Erik Schatzker yang menjabat sebagai Editorial Director of Bloomberg New Economy, serta David Hearn selaku Global Head of Forums for Bloomberg Live. Keduanya dikenal memiliki reputasi tajam dalam membedah isu-isu ekonomi makro dan teknologi. Kehadiran Jokowi di meja diskusi ini akan bersanding dengan tokoh-tokoh berpengaruh lainnya, termasuk Shri Ashwini Vaishnaw, Menteri Kereta Api, Komunikasi, Elektronika, dan Teknologi Informasi India yang merupakan arsitek di balik transformasi digital India yang agresif. Selain itu, Yang Mulia Rishi Sunak, mantan Perdana Menteri Inggris, juga dijadwalkan hadir untuk memberikan perspektif dari sudut pandang negara maju mengenai bagaimana regulasi AI harus diseimbangkan dengan inovasi tanpa mengorbankan keamanan nasional masing-masing negara.
Rekam Jejak dan Kontribusi dalam Bloomberg New Economy Forum
Keterlibatan aktif Joko Widodo dalam Bloomberg New Economy Forum bukanlah sebuah fenomena baru. Pada November 2025, ia telah menorehkan jejak signifikan saat menghadiri forum serupa di Singapura. Dalam kapasitasnya sebagai anggota Dewan Penasihat Global (Global Advisory Board) Bloomberg New Economy, Jokowi tidak hanya hadir sebagai tamu, tetapi juga sebagai pembicara utama yang memberikan pandangan visioner mengenai peta jalan menuju “Intelligence Economy”. Konsep ini merupakan gagasan besar yang ia usung untuk membawa Indonesia menuju ekonomi berbasis data yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan dan konektivitas super cepat. Dalam pidatonya di Singapura pada 21 November 2025, Jokowi secara gamblang menjelaskan bahwa masa depan pembangunan ekonomi tidak lagi hanya bergantung pada sumber daya alam, melainkan pada kemampuan sebuah bangsa dalam mengolah data menjadi informasi strategis yang mampu menggerakkan roda industri secara lebih efisien dan berkelanjutan.
Salah satu poin penting yang sering ditekankan oleh ayah dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ini adalah keberhasilan Indonesia dalam mengimplementasikan sistem pembayaran digital yang inklusif melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Dalam berbagai forum internasional, termasuk Bloomberg, Jokowi kerap memamerkan bagaimana QRIS telah menjadi jembatan yang menghubungkan jutaan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan ekosistem keuangan formal. Baginya, digitalisasi bukan hanya soal teknologi canggih di tingkat korporasi besar, melainkan alat demokratisasi ekonomi yang memungkinkan pedagang kecil di pasar tradisional memiliki akses yang sama dengan perusahaan multinasional dalam hal sistem pembayaran dan pencatatan keuangan. Pengalaman empiris inilah yang membuat pandangan Jokowi selalu didengarkan dan dianggap relevan oleh para pemimpin dunia lainnya yang tengah berjuang melakukan transformasi digital di negara mereka masing-masing.
Partisipasi Jokowi di New Delhi ini juga mencerminkan transisinya yang sukses menjadi seorang negarawan global (global statesman) setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Presiden Republik Indonesia. Dengan duduk di dewan penasihat organisasi sekaliber Bloomberg New Economy, ia terus membawa misi untuk menyuarakan kepentingan negara-negara berkembang (Global South) agar mendapatkan akses yang adil terhadap teknologi masa depan. Forum di India ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang konkret mengenai bagaimana negara-negara dapat membangun infrastruktur AI mereka sendiri tanpa harus bergantung sepenuhnya pada dominasi perusahaan teknologi raksasa tertentu, sebuah visi yang selaras dengan semangat kemandirian yang selama ini ia gaungkan di tanah air.
Secara keseluruhan, rangkaian agenda di The Leela Palace Hotel ini akan diisi dengan sesi pleno yang intens, diskusi kelompok terfokus, serta sesi jejaring bisnis global yang memungkinkan terjadinya kolaborasi lintas negara. Kehadiran tokoh-tokoh seperti Ashwini Vaishnaw dan Rishi Sunak memberikan bobot geopolitik yang kuat pada acara tersebut, memposisikan diskusi kedaulatan AI sebagai agenda prioritas dalam stabilitas ekonomi global tahun 2026. Bagi Indonesia, aktivitas internasional Joko Widodo ini memberikan keuntungan diplomasi yang berkelanjutan, memastikan bahwa visi “Indonesia Emas 2045” yang berbasis pada kemajuan teknologi tetap mendapatkan perhatian dan dukungan dari komunitas investor serta pemimpin opini di tingkat dunia.

















