| Wilayah Operasional | Jumlah Stasiun | Keterangan Tambahan |
|---|---|---|
| Jabodetabek | 83 Stasiun | Total panjang jalur mencapai 219,65 kilometer, mencakup Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. |
| Bandara Soekarno-Hatta | 5 Stasiun | Layanan khusus Commuter Basoetta yang mengintegrasikan pusat kota dengan bandara internasional. |
| Jalur Merak | 10 Stasiun | Menghubungkan wilayah Banten menuju pelabuhan penyeberangan utama. |
| Wilayah Bandung | 38 Stasiun | Melayani mobilitas warga di kawasan Bandung Raya dan sekitarnya. |
| Wilayah Yogyakarta | 18 Stasiun | Termasuk rute KRL Yogyakarta-Solo yang menjadi primadona transportasi di Jawa Tengah. |
| Wilayah Surabaya | 63 Stasiun | Area dengan jumlah stasiun terbanyak kedua setelah Jabodetabek, melayani kawasan Gerbangkertosusila. |
Secara lebih mendalam, di wilayah Jabodetabek yang menjadi inti bisnis perusahaan, KCI mengelola 83 stasiun dengan total panjang lintasan mencapai 219,65 kilometer. Angka ini mencerminkan kompleksitas pengaturan jadwal perjalanan kereta (Gapeka) yang harus dilakukan setiap hari untuk melayani jutaan penumpang. Sementara itu, untuk mendukung mobilitas udara, terdapat 5 stasiun yang didedikasikan khusus untuk layanan Bandara Soekarno-Hatta. Di sisi barat, jalur Merak memiliki 10 stasiun yang krusial bagi pergerakan masyarakat menuju gerbang Pulau Sumatera. Ekspansi di luar Jakarta juga terlihat sangat masif; di wilayah Bandung, KCI mengelola 38 stasiun yang melayani kebutuhan transportasi lokal, sedangkan di Yogyakarta terdapat 18 stasiun yang mengintegrasikan wilayah tersebut dengan Solo. Yang paling mencolok adalah pertumbuhan di wilayah Surabaya dengan 63 stasiun, yang menunjukkan potensi besar pengembangan transportasi publik berbasis rel di Jawa Timur sebagai penyeimbang kepadatan di wilayah barat.
Visi Masa Depan: Integrasi dan Keberlanjutan Transportasi
Langkah PT KCI dalam memperpanjang rute ke Cikampek dan Probolinggo merupakan manifestasi dari komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan lingkungan dan efisiensi energi. Dengan mengalihkan pengguna kendaraan pribadi ke moda transportasi bertenaga listrik seperti KRL, KCI secara langsung berkontribusi pada pengurangan emisi karbon di koridor-koridor padat penduduk. Purnomosidi menekankan bahwa ke depannya, KCI tidak hanya fokus pada penambahan jumlah stasiun atau perpanjangan rute, tetapi juga pada peningkatan kualitas layanan di dalam gerbong serta digitalisasi sistem tiket yang lebih terintegrasi. Modernisasi armada juga menjadi prioritas, di mana pengadaan rangkaian kereta baru terus dilakukan untuk menggantikan unit-unit lama demi menjamin kenyamanan dan keamanan penumpang. Dengan target operasional Cikampek sebelum 2029, KCI optimistis dapat menciptakan ekosistem transportasi yang lebih inklusif dan mampu menopang ambisi Indonesia untuk memiliki sistem transportasi publik kelas dunia.
Sebagai penutup, sinergi antara PT KCI, PT KAI, Kementerian Perhubungan, dan Bappenas akan menjadi penentu utama keberhasilan proyek-proyek strategis ini. Tantangan teknis seperti pembangunan LAA hingga Cikampek memang memerlukan investasi besar dan manajemen proyek yang presisi, namun manfaat jangka panjang yang dihasilkan bagi perekonomian nasional jauh lebih berharga. Integrasi rute Surabaya-Pasuruan-Probolinggo melalui layanan “Supas Pro” juga menjadi bukti bahwa KCI siap mereplikasi kesuksesan model transportasi Jabodetabek ke wilayah-wilayah lain di Indonesia. Dengan total 180 stasiun yang sudah dikelola saat ini, KCI berada di jalur yang tepat untuk menjadi operator transportasi rel paling berpengaruh di Asia Tenggara, sekaligus mewujudkan impian masyarakat akan transportasi massal yang murah, cepat, dan modern.


















