Fenomena unik terjadi di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, yang sempat menggemparkan media sosial pada awal 2026. Sejumlah warga berinisiatif menggambar ulang marka penyeberangan jalan atau zebra cross yang hilang akibat pengaspalan ulang, namun dengan sentuhan seni yang tak biasa: karakter Pac-Man. Aksi ini bukan sekadar vandalisme, melainkan bentuk kritik sosial atas minimnya fasilitas pejalan kaki di ibu kota.
Mengapa Zebra Cross di Tebet Menjadi “Pac-Man”?
Aksi kreatif ini bermula dari keprihatinan warga terhadap kondisi jalanan di Tebet yang baru saja diperbaiki. Lapisan aspal baru yang menutup marka jalan lama membuat pejalan kaki kesulitan dan merasa tidak aman saat hendak menyeberang. Alih-alih hanya mengeluh di media sosial, warga memutuskan untuk “menjemput bola” dengan melukis sendiri marka tersebut.
Pemilihan karakter Pac-Man bukan tanpa alasan. Karakter ikonik dari video gim tahun 80-an ini dianggap sebagai simbol yang pas untuk menggambarkan “memakan” garis-garis jalan yang terputus. Selain menjadi daya tarik visual, gambar ini juga berfungsi sebagai pengingat bagi pengendara kendaraan bermotor bahwa area tersebut adalah zona penyeberangan yang seharusnya diprioritaskan untuk pejalan kaki.
Respons Dinas Bina Marga: Apresiasi vs Standar Teknis
Viralnya video aksi warga ini memancing tanggapan resmi dari Dinas Bina Marga DKI Jakarta. Dalam pernyataannya, pihak Bina Marga menunjukkan sikap yang cukup akomodatif namun tetap tegas mengenai aturan lalu lintas.

1. Apresiasi atas Kepedulian Warga
Pemerintah mengapresiasi tinggi keterlibatan aktif warga dalam menjaga keamanan lingkungan. Kepedulian terhadap keselamatan sesama pengguna jalan adalah bentuk partisipasi publik yang diharapkan oleh pemerintah kota dalam membangun Jakarta yang lebih ramah pejalan kaki.
2. Pentingnya Standar Teknis Marka Jalan
Meski mengapresiasi niat baik warga, Dinas Bina Marga mengingatkan bahwa marka jalan memiliki standar teknis yang diatur secara ketat dalam undang-undang lalu lintas. Marka harus memenuhi kriteria reflektivitas, warna, dan dimensi tertentu agar terlihat jelas oleh pengendara, terutama pada malam hari atau saat hujan. Penggunaan cat yang tidak standar berisiko membahayakan keselamatan karena tidak memiliki daya pantul cahaya yang cukup.

Komitmen Pemerintah: Pemasangan Ulang di Tahun 2026
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak tinggal diam menanggapi keluhan warga Tebet. Menyadari bahwa hilangnya zebra cross akibat proses pengaspalan menjadi kendala serius bagi mobilitas warga, Dinas Bina Marga telah menjadwalkan perbaikan infrastruktur jalan di kawasan tersebut.
Dalam rencana kerja tahun 2026, pemasangan kembali marka jalan sesuai standar nasional menjadi prioritas. Pihak dinas menjamin bahwa setelah marka resmi terpasang, aspek keselamatan pejalan kaki akan kembali terjamin dengan rambu yang sah secara hukum. Hal ini sekaligus menjadi solusi permanen atas kekosongan marka yang sempat memicu aksi kreatif warga tersebut.
Analisis: Kritik Sosial di Balik Seni Jalanan
Apa yang terjadi di Tebet mencerminkan pergeseran paradigma masyarakat urban. Warga Jakarta kini semakin berani menyuarakan aspirasinya melalui pendekatan yang lebih kreatif dan viral. Aksi “Zebra Cross Pac-Man” ini dapat dimaknai sebagai:
- Bentuk Protes Damai: Menunjukkan bahwa ketidaktersediaan fasilitas publik tidak harus dilawan dengan kekerasan, melainkan dengan edukasi visual.
- Kebutuhan Ruang Aman: Menegaskan bahwa pejalan kaki adalah elemen penting dalam ekosistem transportasi Jakarta yang seringkali terabaikan oleh proyek-proyek perbaikan jalan.
- Kolaborasi Warga dan Pemerintah: Peristiwa ini menjadi momentum bagi pemerintah untuk lebih responsif dalam memelihara fasilitas penyeberangan setelah proses pemeliharaan jalan selesai.
Kesimpulan
Kasus zebra cross Pac-Man di Tebet adalah cermin dari dinamika kota besar. Meskipun aksi warga tersebut melanggar aturan teknis marka jalan, namun pesan moral yang disampaikan berhasil mencapai tujuannya: menarik perhatian pihak berwenang untuk segera memperbaiki fasilitas yang terputus.
Bagi warga Jakarta, langkah ini menjadi pengingat bahwa partisipasi publik sangat berharga. Namun, bagi pemerintah, ini adalah pengingat bahwa pemeliharaan infrastruktur tidak boleh berhenti hanya pada pengaspalan, melainkan harus tuntas hingga pengecatan kembali marka jalan yang menjadi nyawa bagi keselamatan pejalan kaki. Semoga di tahun 2026 ini, koordinasi antara warga dan dinas terkait semakin baik demi mewujudkan Jakarta yang lebih aman dan nyaman bagi semua.

















