Kepergian Meriyati Roeslani Hoegeng, atau yang lebih akrab disapa Eyang Meri Hoegeng, menandai hilangnya salah satu saksi sejarah sekaligus simbol integritas tertinggi di lingkungan keluarga besar Kepolisian Republik Indonesia. Pada Selasa malam, 3 Februari, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian hadir langsung untuk memberikan penghormatan terakhir di rumah duka yang terletak di kawasan perumahan Pesona Khayangan State, Depok, Jawa Barat. Kehadiran Tito Karnavian yang didampingi oleh Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus bukan sekadar kunjungan kenegaraan formal, melainkan sebuah bentuk takzim dari dua purnawirawan tinggi Polri terhadap istri dari mendiang Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso, sosok yang hingga kini tetap menjadi kompas moral dan teladan kejujuran bagi seluruh aparat penegak hukum di tanah air. Suasana khidmat menyelimuti pertemuan tersebut, di mana kenangan akan dedikasi keluarga Hoegeng terhadap bangsa dan negara kembali digaungkan sebagai warisan yang tidak ternilai harganya bagi generasi penerus.
Mendagri Tito Karnavian, yang mengenakan pakaian duka, tampak sangat emosional saat menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan. Baginya, sosok Jenderal Hoegeng dan Eyang Meri adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam membentuk standar etika di kepolisian. Tito menegaskan bahwa duka ini tidak hanya dirasakan oleh keluarga inti, melainkan juga oleh seluruh institusi Kementerian Dalam Negeri serta keluarga besar Polri di seluruh penjuru Indonesia. Dalam pernyataannya, ia menyoroti bagaimana almarhum Jenderal Hoegeng selalu menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering bagi para perwira muda. Keteguhan prinsip yang ditunjukkan oleh Jenderal Hoegeng selama masa hidupnya, yang didukung penuh oleh kesabaran dan kesederhanaan Eyang Meri, merupakan fondasi yang membuat nama keluarga ini tetap harum meski sang Jenderal telah lama tiada. Tito juga sempat mengungkapkan bahwa sedianya ia berniat melayat ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, namun karena jenazah sudah dipindahkan ke rumah duka di Depok, ia segera menyesuaikan jadwalnya demi memberikan penghormatan terakhir secara langsung.
Warisan Integritas dan Teladan bagi Keluarga Besar Bhayangkari
Dalam pandangan Tito Karnavian, peran Meriyati Roeslani Hoegeng melampaui sekadar pendamping seorang pejabat tinggi negara. Eyang Meri dipandang sebagai pilar kekuatan yang memungkinkan Jenderal Hoegeng menjalankan tugasnya dengan kejujuran yang legendaris. Tito menekankan bahwa Eyang Meri adalah sosok panutan sejati bagi organisasi Bhayangkari, yakni persatuan istri anggota Polri. Kehidupannya yang jauh dari kemewahan dan keglamoran, meskipun suaminya memegang jabatan tertinggi di kepolisian, menjadi bukti nyata bahwa integritas dimulai dari lingkungan keluarga. “Ibu almarhumah Ibu Meriyati Hoegeng adalah sosok panutan bukan hanya bagi bapak-bapaknya, tetapi juga bagi ibu-ibunya, terutama para anggota Bhayangkari di seluruh Indonesia,” ujar Tito dengan nada penuh penekanan. Ia berharap nilai-nilai kesederhanaan dan keteguhan hati yang dimiliki almarhumah dapat terus diserap dan dipraktikkan oleh istri-istri anggota Polri saat ini dalam mendampingi suami mereka bertugas.
Kunjungan tersebut juga menjadi momen refleksi bagi Tito Karnavian dan Akhmad Wiyagus mengenai pentingnya menjaga marwah institusi. Sebagai tokoh yang pernah menjabat sebagai Kapolri, Tito memahami betul betapa sulitnya menjaga idealisme di tengah berbagai tantangan zaman, dan keluarga Hoegeng telah membuktikan bahwa hal tersebut bukanlah kemustahilan. Ia menyampaikan doa yang tulus agar segala amal ibadah almarhumah diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. “Kami semua turut berduka dan mendoakan, semoga almarhumah diampuni segala dosa-dosanya, kesalahannya, mendapatkan tempat yang terbaik di sisi Allah SWT dan insyaallah kelak dimasukkan ke dalam surga,” pungkas Tito di hadapan awak media dan keluarga duka. Kehadiran Wamendagri Akhmad Wiyagus, yang juga memiliki latar belakang karier kepolisian yang cemerlang, semakin mempertegas betapa besar rasa hormat yang dimiliki oleh lintas generasi purnawirawan Polri terhadap sosok Eyang Meri.
Meriyati Roeslani Hoegeng mengembuskan napas terakhirnya pada usia yang sangat sepuh, yakni 100 tahun, sebuah perjalanan usia yang luar biasa yang diisi dengan berbagai dinamika sejarah bangsa. Almarhumah meninggal dunia karena faktor kesehatan yang menurun akibat usia lanjut setelah sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Kabar duka tersebut terkonfirmasi pada Selasa, 3 Februari, pukul 13.24 WIB, yang segera memicu gelombang ucapan duka cita dari berbagai tokoh nasional dan masyarakat luas. Sepanjang hidupnya, Eyang Meri dikenal sebagai sosok yang sangat rendah hati dan tetap menjaga hubungan baik dengan para junior suaminya di kepolisian, menjadikannya sebagai figur “ibu” bagi banyak anggota Polri yang sering datang meminta nasihat atau sekadar bersilaturahmi ke kediamannya.
Perjalanan Terakhir Menuju Keabadian di Samping Sang Jenderal
Prosesi pemakaman Eyang Meri Hoegeng direncanakan akan dilangsungkan dengan penuh khidmat pada Rabu, 4 Februari. Berdasarkan informasi dari pihak keluarga, jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka di Depok menuju tempat peristirahatan terakhirnya di Taman Pemakaman Umum (TPU) Giri Tama, yang berlokasi di Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor. Keputusan untuk memakamkan almarhumah di TPU Giri Tama memiliki makna simbolis yang mendalam, karena liang lahatnya telah dipersiapkan tepat berada di samping makam sang suami, almarhum Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Reuni abadi ini seolah menjadi penutup yang indah bagi kisah cinta dan perjuangan pasangan yang dikenal sebagai simbol kejujuran Indonesia tersebut. Masyarakat dan kerabat diharapkan akan memadati area pemakaman untuk memberikan penghormatan terakhir kepada wanita yang telah memberikan seluruh hidupnya demi mendukung integritas kepolisian tanah air.
Kepergian Eyang Meri bukan hanya merupakan kehilangan bagi keluarga besar Hoegeng, tetapi juga menjadi pengingat bagi seluruh bangsa tentang pentingnya memiliki figur-figur yang memegang teguh prinsip moral di atas segalanya. Di tengah dinamika sosial dan politik yang terus berubah, kisah hidup Meriyati Roeslani Hoegeng dan suaminya tetap menjadi standar emas yang sering dirujuk ketika berbicara tentang kejujuran pejabat publik. Mendagri Tito Karnavian dalam penutup kunjungannya berharap agar semangat yang ditinggalkan oleh Eyang Meri dapat terus hidup dalam sanubari setiap anggota Polri dan aparatur sipil negara. Dengan dimakamkannya almarhumah di samping Jenderal Hoegeng, lengkap sudah perjalanan dua sejoli yang telah mewariskan standar etika yang sangat tinggi bagi bangsa ini, sebuah warisan yang akan terus dikenang dan diceritakan kepada generasi-generasi mendatang sebagai bukti bahwa kejujuran adalah mata uang yang paling berharga.
Hingga Selasa malam, rumah duka di Pesona Khayangan terus didatangi oleh para pelayat yang datang dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat tinggi, purnawirawan, hingga warga biasa yang mengagumi sosok Jenderal Hoegeng. Karangan bunga tanda duka cita tampak berderet memenuhi sepanjang jalan menuju rumah duka, menunjukkan betapa luasnya pengaruh dan rasa hormat masyarakat terhadap keluarga ini. Bagi institusi Kementerian Dalam Negeri dan Kepolisian Republik Indonesia, momen ini adalah waktu untuk berkabung sekaligus memperkuat komitmen untuk terus mengedepankan nilai-nilai yang telah dicontohkan oleh keluarga Hoegeng sepanjang satu abad perjalanan hidup Eyang Meri. Doa-doa terus dipanjatkan agar almarhumah mendapatkan kedamaian abadi, menyusul sang suami yang telah lebih dulu berpulang, meninggalkan jejak langkah yang bersih dan penuh inspirasi bagi Indonesia.

















