Indonesia berduka atas berpulangnya salah satu putra terbaik sekaligus arsitek reformasi militer, Letnan Jenderal TNI (Purn) Agus Widjojo, yang mengembuskan napas terakhirnya pada Minggu malam, 8 Februari 2026, di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta. Sosok yang dikenal luas sebagai jenderal intelektual ini wafat pada pukul 20.40 WIB saat masih mengemban amanah besar sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia untuk Republik Filipina merangkap Republik Kepulauan Marshall dan Republik Palau. Kepergian tokoh yang secara konsisten menjembatani pemikiran militer dengan nilai-nilai demokrasi ini meninggalkan celah besar dalam diskursus keamanan nasional dan diplomasi luar negeri, memicu gelombang penghormatan mendalam dari berbagai kalangan yang hadir dalam upacara persemayaman khidmat di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, pada Senin pagi berikutnya.
Penghormatan Terakhir bagi Sang Perwira Intelektual di Gedung Pancasila
Suasana haru menyelimuti Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Jakarta, saat jenazah Letnan Jenderal TNI (Purn) Agus Widjojo disemayamkan secara resmi sebelum diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir. Menteri Luar Negeri Sugiono, yang memimpin langsung upacara penghormatan tersebut, menyampaikan pesan duka yang mendalam atas hilangnya sosok pemikir strategis yang tak tergantikan. Dalam sambutannya, Sugiono menegaskan bahwa wafatnya Agus Widjojo bukan hanya menjadi duka bagi keluarga besar Kemenlu, melainkan duka nasional bagi seluruh rakyat Indonesia. Menurut Sugiono, Agus bukan sekadar prajurit yang setia pada sumpah prajuritnya, tetapi juga seorang visioner yang memiliki cita-cita besar untuk memperbaiki struktur kehidupan berbangsa dan bernegara melalui pemikiran-pemikiran yang progresif dan moderat.
Menteri Luar Negeri Sugiono juga membagikan catatan personal mengenai interaksinya dengan almarhum yang menunjukkan kualitas kepemimpinan Agus Widjojo. Sugiono mengenang masa-masa ketika keduanya sering bersinggungan secara profesional, khususnya saat Agus menjabat sebagai Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) dan Sugiono bertugas di Komisi I DPR RI. Dalam berbagai forum diskusi strategis dan rapat kerja tersebut, Sugiono menyaksikan secara langsung bagaimana ketajaman analisis Agus Widjojo mampu membedah persoalan bangsa yang kompleks dengan perspektif yang sangat luas. Sebagai politikus Partai Gerindra, Sugiono menilai bahwa dedikasi Agus terhadap negara berlangsung secara lintas peran, mulai dari kedisiplinan di medan militer hingga keluwesan dalam meja diplomasi internasional, menjadikannya sosok yang teguh dan gigih hingga akhir hayatnya.
Upacara persemayaman tersebut dihadiri oleh jajaran pejabat tinggi negara, korps diplomatik dari berbagai negara sahabat, serta para pelayat yang ingin memberikan penghormatan terakhir bagi sang jenderal. Setelah prosesi di Kemenlu selesai, jenazah kemudian diberangkatkan menuju Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata dengan pengawalan militer penuh. Sebelumnya, jenazah sempat dibawa ke rumah duka di kawasan Puri Cikeas pada Minggu malam sekitar pukul 23.00 WIB setelah menjalani prosesi pemandian di RSPAD Gatot Subroto. Kehadiran para tokoh nasional di rumah duka dan Gedung Pancasila menunjukkan betapa luasnya jaringan dan pengaruh yang dimiliki oleh Agus Widjojo selama masa pengabdiannya yang panjang di berbagai institusi pemerintahan.
Warisan Pemikiran: Reformasi Militer dan Supremasi Sipil
Agus Widjojo dikenal dalam sejarah modern Indonesia sebagai sosok di balik transformasi pemikiran militer menuju demokrasi modern. Ia sering dijuluki sebagai “Tentara Intelektual” karena posisinya yang unik sebagai elite militer berpangkat tinggi namun tetap konsisten mendorong agenda demokratisasi. Salah satu warisan terbesarnya adalah keberaniannya menyuarakan pentingnya supremasi sipil dan profesionalisme TNI, di mana ia menekankan bahwa militer harus melepaskan peran politik praktisnya demi menjaga kesehatan demokrasi. Pemikiran ini sering kali dianggap kontroversial pada masanya, namun Agus tetap teguh pada prinsip bahwa tentara yang profesional adalah tentara yang tunduk pada otoritas sipil yang dipilih secara demokratis, sebuah pilar utama dalam reformasi militer pasca-Orde Baru.
Tokoh intelektual seperti Didik Rachbini turut mengenang Agus Widjojo sebagai figur yang sangat bijaksana dalam menempatkan kedudukan militer dalam sistem demokrasi. Menurut Didik, Agus adalah tipe pemikir yang menolak keterlibatan militer dalam urusan politik dan lebih memilih fokus pada penguatan pertahanan nasional yang berbasis pada hukum. Pengaruhnya melampaui institusi militer; ia menjadi rujukan bagi para akademisi dan pembuat kebijakan dalam merumuskan hubungan yang harmonis antara sipil dan militer. Sebagai Gubernur Lemhannas, ia berhasil mentransformasi lembaga tersebut menjadi kawah candradimuka bagi calon pemimpin bangsa yang tidak hanya kuat secara fisik dan mental, tetapi juga memiliki kedalaman wawasan strategis dalam menghadapi tantangan global yang kian dinamis.
Rekam Jejak Internasional dan Pengabdian Diplomatik
Karier Agus Widjojo tidak hanya cemerlang di dalam negeri, tetapi juga di kancah internasional. Sejak usia muda, ia telah dipercaya mengemban misi perdamaian dunia yang sangat prestisius. Pada tahun 1973, ia bertugas sebagai perwira pada International Commission for Control and Supervision (ICCS) di Vietnam, sebuah misi yang menuntut ketajaman diplomasi di tengah konflik yang memanas. Tak lama berselang, pada tahun 1975, ia kembali dipercaya bergabung dalam Kontingen Indonesia pada United Nations Emergency Force (UNEF) II di Sinai, Timur Tengah. Pengalaman internasional ini membentuk karakter Agus sebagai seorang prajurit yang memiliki pemahaman mendalam tentang geopolitik dan hukum internasional, yang kemudian menjadi modal penting saat ia menempuh pendidikan tinggi di luar negeri untuk memperdalam ilmu militernya.
Menjelang masa purnatugasnya pada tahun 2003, Agus Widjojo telah menduduki berbagai posisi kunci yang menentukan arah kebijakan pertahanan Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Staf Teritorial (Kaster) Panglima TNI, sebuah posisi yang sangat strategis dalam mengelola hubungan antara militer dan wilayah kedaulatan rakyat. Selain itu, ia juga pernah dipercaya menjadi Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi TNI/Polri, di mana ia berperan aktif dalam proses transisi politik Indonesia menuju era reformasi yang lebih terbuka. Pengabdian terakhirnya sebagai Duta Besar RI untuk Filipina menjadi bukti bahwa kapasitas intelektual dan diplomasinya tetap dibutuhkan oleh negara hingga usia senjanya, memperkuat hubungan bilateral Indonesia dengan negara tetangga di tengah dinamika keamanan kawasan Asia Tenggara.
Kepergian Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo adalah kehilangan besar bagi dunia intelektual dan militer Indonesia. Ia meninggalkan warisan berupa literatur pemikiran strategis dan fondasi reformasi yang akan terus dipelajari oleh generasi penerus bangsa. Sebagai seorang patriot yang memadukan kekuatan fisik dengan ketajaman logika, Agus Widjojo telah membuktikan bahwa pengabdian kepada negara tidak terbatas pada penggunaan senjata, melainkan juga melalui kekuatan ide dan gagasan demi kemajuan peradaban bangsa. Kini, sang perwira intelektual telah beristirahat dengan tenang di TMP Kalibata, namun semangat dan pemikirannya tentang demokrasi dan profesionalisme militer akan tetap hidup dan menjadi kompas bagi masa depan Indonesia yang lebih baik.
















