Menjelang momentum sakral Ramadan dan proyeksi lonjakan masif wisatawan pada libur Lebaran 2026, Pemerintah Kota Solo melakukan langkah proaktif dengan melakukan sterilisasi dan revitalisasi kebersihan di berbagai titik krusial kota. Wali Kota Solo, Respati Ardi, memimpin langsung aksi kerja bakti massal atau kurvei skala besar yang memusatkan perhatian pada kawasan ikonik Pasar Gede dan bantaran Sungai Kalipepe pada Senin, 9 Februari 2026. Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk kesiapan infrastruktur dan estetika kota dalam menyambut jutaan pemudik serta pelancong yang diprediksi akan memadati Kota Bengawan, sekaligus memastikan bahwa pusat ekonomi kerakyatan tetap higienis, nyaman, dan memiliki daya tarik visual yang optimal sebagai destinasi wisata unggulan.
Kegiatan yang dimulai sejak pagi buta tersebut bukan sekadar seremoni belaka, melainkan sebuah operasi sinergi lintas sektoral yang melibatkan ratusan personel gabungan. Unsur TNI dari Kodim 0735/Surakarta, jajaran Kepolisian Resor Kota (Polresta) Surakarta, hingga seluruh elemen Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Solo diterjunkan ke lapangan. Mereka menyisir setiap sudut Pasar Gede, mulai dari lorong-lorong sempit di dalam pasar hingga area pedestrian luar yang sering kali menjadi titik penumpukan massa. Pemilihan Pasar Gede sebagai lokus utama pembersihan didasari oleh statusnya sebagai cagar budaya sekaligus magnet utama wisata belanja dan kuliner tradisional yang menjadi wajah representatif Kota Solo di mata dunia internasional maupun domestik.
Transformasi Manajemen Sampah dan Penataan Kawasan Cagar Budaya
Dalam inspeksi mendalam di sela-sela kegiatan kurvei tersebut, Wali Kota Respati Ardi memberikan perhatian khusus terhadap sistem manajemen pengelolaan sampah yang dinilainya masih memerlukan perbaikan fundamental. Respati menemukan adanya anomali dalam pola pengangkutan limbah pasar, di mana tumpukan sampah di beberapa titik dibiarkan mengendap terlalu lama sebelum dievakuasi ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kondisi ini memicu aroma tidak sedap yang menyengat dan berpotensi merusak citra eksotis Pasar Gede. Menurut Respati, manajemen sampah yang buruk adalah ancaman nyata bagi sektor pariwisata, karena kenyamanan pengunjung adalah prioritas tertinggi yang tidak bisa ditawar dalam industri jasa dan pelesiran.
Lebih lanjut, Respati menekankan bahwa kebersihan bukan hanya soal estetika, melainkan instrumen vital dalam menciptakan pengalaman berwisata yang holistik (tourist experience). Pasar Gede, dengan arsitektur khas karya Thomas Karsten, seharusnya mampu memberikan atmosfer yang bersih dan segar bagi siapa pun yang datang untuk mencicipi Dawet Telasih atau sekadar berburu oleh-oleh. Wali Kota menegaskan bahwa jika lingkungan pasar terjaga kebersihannya, maka ekosistem ekonomi di dalamnya akan tumbuh lebih sehat, di mana pedagang bisa berjualan dengan lebih tenang dan pembeli pun betah berlama-lama menghabiskan waktu serta uang mereka di sana, yang pada akhirnya akan mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor retribusi dan pariwisata.
Selain area pasar, pembersihan juga menyasar aliran Sungai Kalipepe yang melintasi kawasan tersebut. Aliran sungai ini memiliki nilai historis dan strategis dalam pengembangan wisata air di masa depan. Personel gabungan tampak bahu-membahu mengangkut sampah domestik dan sedimen yang menghambat aliran air. Upaya pembersihan sungai ini bertujuan untuk meminimalisir risiko banjir menjelang musim penghujan yang mungkin masih berlangsung saat Ramadan, sekaligus mempercantik lanskap kota agar wisatawan yang melintas di jembatan sekitar Pasar Gede mendapatkan pemandangan yang asri dan bebas dari sampah visual maupun fisik.
Revitalisasi Semangat Solo Berseri dan Ketegasan Regulasi SHP
Respati Ardi dalam orasinya di hadapan para personel dan pedagang, mengingatkan kembali memori kolektif masyarakat mengenai identitas Kota Solo yang telah dicanangkan sebagai “Kota Berseri” (Bersih, Sehat, Rapi, dan Indah) sejak tahun 1988. Nilai-nilai luhur ini menurutnya harus diinternalisasi kembali oleh seluruh warga, terutama para pelaku usaha di pasar tradisional. Ia memandang bahwa semangat Berseri bukan hanya slogan historis, melainkan fondasi bagi Solo untuk bersaing dengan kota-kota wisata lainnya di Asia Tenggara. Menghadapi lonjakan wisatawan Lebaran 2026, Solo harus tampil prima guna membuktikan bahwa kota ini mampu mengelola modernitas tanpa meninggalkan akar budayanya yang bersih dan tertata.
Ketegasan Sanksi bagi Pelanggar Kebersihan
Pemerintah Kota Solo juga menunjukkan sikap tegas (zero tolerance) terhadap pengabaian kebersihan lingkungan pasar. Respati Ardi menginstruksikan Dinas Perdagangan untuk melakukan pengawasan ketat terhadap komitmen para pedagang. Ia tidak segan-segan mengancam akan menjatuhkan sanksi administratif yang berat, termasuk pencabutan Surat Hak Penempatan (SHP) bagi pedagang yang secara konsisten mengabaikan kebersihan di area kios atau los mereka. Langkah drastis ini diambil untuk memberikan efek jera dan memastikan bahwa tanggung jawab menjaga kebersihan adalah beban kolektif, bukan hanya tugas petugas kebersihan pemerintah daerah semata.
Strategi “bersih-bersih” ini dipastikan tidak hanya berhenti di Pasar Gede. Pemkot Solo telah menyusun jadwal maraton untuk menyisir pasar-pasar ikonik lainnya seperti Pasar Klewer yang menjadi pusat tekstil terbesar, serta Pasar Triwindu yang merupakan surga barang antik. Kesiapan operasional pasar-pasar ini selama hari raya Idulfitri juga menjadi sorotan, di mana meskipun sebagian pedagang mungkin meliburkan diri, kawasan pasar sebagai objek wisata harus tetap dalam kondisi siap kunjung dengan fasilitas publik yang berfungsi maksimal. Dengan koordinasi yang solid antara TNI, Polri, pemerintah, dan masyarakat, Solo optimis dapat memberikan pelayanan terbaik bagi wisatawan Lebaran 2026.
Sebagai penutup, Respati menegaskan bahwa sektor pariwisata adalah tulang punggung ekonomi Kota Solo yang tidak memiliki sumber daya alam melimpah. Oleh karena itu, menjaga iklim pariwisata melalui kebersihan dan kenyamanan adalah investasi jangka panjang. Dengan lingkungan yang tertata rapi, Solo diharapkan tidak hanya menjadi kota transit, tetapi menjadi destinasi akhir yang dirindukan oleh para wisatawan. Komitmen ini diharapkan dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pasca-pandemi dan memperkuat posisi Solo sebagai kota budaya yang modern, bersih, dan ramah bagi siapa saja.

















